Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) sempat mengungkapkan rencana menutup program studi (prodi) di perguruan tinggi yang kurang relevan dengan arah kebutuhan kebutuhan industri strategis nasional. Belakangan, Kemdiktisaintek mengklarifikasi, hal tersebut bukan langkah utama, tetapi opsi terakhir dari upaya penataan prodi.
"Kemdiktisaintek menegaskan bahwa penutupan program studi bukanlah pilihan utama. Penutupan hanya menjadi opsi terakhir," kata Plt Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Sekjen Kemdiktisaintek) Badri Munir Sukoco dalam keterangannya, Senin (27/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terpisah, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengatakan penataan prodi memastikan substansi prodi relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan zaman. Brian menjelaskan, perkembangan iptek sendiri menghasilkan industri baru. Berangkat dari industri tersebut, prodi melakukan perbaikan dan pengembangan berdasarkan hasil peninjauan secara berkala.
"Industri maupun perkembangan teknologi itu kemudian menjadi referensi bagi setiap program studi yang ada di Indonesia untuk melakukan terus-menerus perbaikan. Ini yang disebut sebagai continuous improvement," terangnya di sela Kick Off Program Bestari Saintek dan Peluncuran Program Semesta Skema Pendanaan APBN Tahun 2026 di Graha Kemdiktisaintek Gedung D, Senayan, Jakarta, Rabu (29/4/2026).
"Makanya ini yang kita dorong, dan seluruh dunia memang melakukan itu, pogram studi itu continuous improvement setiap 4 tahun, bahkan setiap 2 tahun, itu berbeda-beda, melakukan peninjauan kembali," sambungnya.
Soal wacana tutup prodi yang dinilai tidak relevan dengan industri tersebut, sastrawan sekaligus sosiolog Okky Madasari memberikan tanggapannya. la menilai kebijakan tersebut berisiko mengancam kemampuan berpikir kritis hingga fondasi sosial budaya generasi mendatang.
Prodi Sastra-Sejarah-Antropologi Relevan dengan Kebutuhan Industri
Alumnus Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM) ini menyebut, program studi seperti sastra, sejarah, dan antropologi justru memiliki relevansi kuat dengan kebutuhan industri saat ini. Menurutnya, aspek bahasa dan budaya memiliki potensi besar dalam menggerakkan roda perekonomian negara.
Ia menjelaskan, sastra dan bahasa berperan penting dalam diplomasi, yang menentukan posisi Indonesia di mata dunia. Sebaliknya, posisi strategis Indonesia di jalur perdagangan dunia menurutnya turut memperbesar potensi produk budaya Indonesia.
Menurut Okky, tantangan utamanya adalah terletak pada bagaimana produk budaya tersebut diperkenalkan secara lebih luas di mata dunia.
Belajar dari K-Pop, Lagu Jawa, dan Lagu Timur Indonesia
Okky mengambil contoh konkret keberhasilan Korea Selatan (Korsel) melalui budaya K-Pop. Ia menyoroti, distribusi dan promosi budaya Korsel lewat K-Pop sangat membantu perekonomian negara.
Diketahui, K-Pop pun menjadi topik penelitian di dalam maupun luar Korsel. Prodi-prodi terkait K-Pop pun tumbuh, termasuk seni pertunjukan, musik terapan, penyiaran, bisnis, hiburan, koreografi, tari, dan lain-lain, dikutip dari laman Korea National University of Arts.
"Korea memiliki bargaining position sehingga banyak kajian dan program studi yang mempelajarinya, di UGM juga ada. K-Pop adalah salah satu contoh bagaimana distribusi dan promosi budaya berhasil menjadi penyokong utama ekonomi negara," kata Okky dalam Bincang Budaya Cultural Festival 15 yang diselenggarakan UGM Residence di Grha Sabha Pramana, Yogyakarta, Jumat (1/5/2026), dikutip dari laman UGM pada Selasa (5/5/2026).
Sementara itu, Indonesia sebagai negara terbesar di Asia Tenggara menurut Okky punya potensi serupa dalam menjadikan produk budaya sebagai penggerak ekonomi negara. Ia menyoroti lagu Jawa hingga lagu Timur Indonesia kini sedang naik daun.
Untuk itu, ia menegaskan pentingnya produk budaya Indonesia diperkenalkan lebih luas.
(crt/twu)











































