Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menginisiasi pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Mandiri (TPSM). Inisiasi ini sebagai strategi untuk mengurangi ketergantungan terhadap pihak eksternal sekaligus mewujudkan kampus berkelanjutan.
Direktur Direktorat Operasi dan Infrastruktur Berkelanjutan (DOIB) UMY, Surya Budi Lesmana, menjelaskan bahwa selama kurang lebih 28 tahun, pengelolaan sampah di UMY masih bergantung pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bantul dan vendor swasta.
Namun, pengangkutan sampah yang hanya dilakukan satu kali dalam sepekan tidak mampu mengimbangi volume sampah harian kampus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dalam kondisi tersebut, bahkan proses pemilahan sampah pun belum dilakukan oleh internal kampus, melainkan oleh pihak luar," jelasnya, dalam keterangan tertulis, Senin (20/4/2026).
Adapun persoalan sampah hingga saat ini masih menjadi tantangan serius, terutama di wilayah perkotaan dan kawasan dengan aktivitas tinggi seperti kampus. Volume sampah yang terus meningkat tanpa diimbangi sistem pengelolaan yang memadai berpotensi menimbulkan krisis lingkungan.
Seperti contoh dalam operasional harian, UMY menghasilkan sampah dalam jumlah besar. Sampah organik berupa daun dapat mencapai 3 - 4 meter kubik per hari pada musim normal, bahkan meningkat pada musim tertentu.
Sementara itu, sampah campuran organik dan anorganik mencapai sekitar 110 kantong per hari dengan berat rata-rata 3 kilogram per kantong atau setara 5 - 8 meter kubik.
Momentum penutupan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Piyungan yang sempat memicu darurat sampah di Yogyakarta menjadi titik balik bagi UMY untuk berbenah.
"Dari situ muncul kesadaran bahwa kami tidak bisa terus bergantung pada pihak luar. Sebagai kampus dengan komitmen green campus, kami memiliki tanggung jawab untuk mengurangi dan mengolah sampah secara mandiri," tegas Surya.
Melalui TPSM, UMY kini menerapkan sistem pemilahan sampah menjadi dua kategori utama, yakni organik dan anorganik. Sampah organik diolah melalui proses pencacahan menggunakan mesin dan difermentasi menjadi kompos dalam waktu sekitar 30 - 35 hari.
Kompos tersebut selanjutnya dimanfaatkan untuk kebutuhan tanaman di lingkungan kampus.
Sementara itu, sampah anorganik dipilah berdasarkan nilai ekonominya. Material, seperti kertas dan plastik yang masih memiliki nilai jual akan didistribusikan kembali, sedangkan sampah residu diolah menggunakan incinerator bersuhu tinggi yang dilengkapi sistem penyaringan untuk meminimalkan emisi udara.
Surya menambahkan bahwa keberadaan TPSM tidak hanya berdampak pada efisiensi pengelolaan sampah, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi civitas academica dan masyarakat luas. UMY bahkan telah menerima berbagai kunjungan studi tiru dari instansi dalam maupun luar negeri.
"TPSM ini bukan hanya soal pengelolaan sampah, tetapi juga menjadi media pembelajaran. Banyak pihak datang untuk studi tiru, mulai dari instansi pemerintah, perguruan tinggi lain, hingga dari luar negeri. Ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah yang baik juga bisa menjadi nilai tambah bagi institusi," ungkapnya.
Meski demikian, keberhasilan pengelolaan sampah di kampus sangat bergantung pada kesadaran bersama, terutama mahasiswa sebagai populasi terbesar di lingkungan UMY.
"Kami berharap kesadaran mahasiswa dalam memilah sampah terus meningkat. Pada akhirnya, tujuan kami adalah mewujudkan zero waste campus, dan itu tidak dapat dicapai tanpa dukungan seluruh civitas academica," pungkas Surya.
(anl/ega)










































