Wilayah Teluk Terseret Situasi Perang, Industri Kampus AS dan Inggris Bisa Terdampak

ADVERTISEMENT

Wilayah Teluk Terseret Situasi Perang, Industri Kampus AS dan Inggris Bisa Terdampak

Novia Aisyah - detikEdu
Kamis, 05 Mar 2026 07:00 WIB
Motorists drive past a plume of smoke rising from a reported Iranian strike in the industrial district of Doha on March 1, 2026. AFP correspondents and residents heard fresh explosions across the Gulf cities of Dubai, Abu Dhabi, Doha and Manama on Ma
Para pengendara melintas di dekat kepulan asap yang dilaporkan berasal dari serangan Iran di kawasan industri Doha, Qatar pada 1 Maret 2026. Foto: AFP/-
Jakarta -

Negara-negara Teluk ikut terdampak situasi perang antara Iran dan Israel-Amerika Serikat (AS). Pasalnya Iran menyerang fasilitas-fasilitas militer AS di negara-negara tersebut.

Hal ini berbuntut kegiatan belajar mengajar dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi di kawasan Teluk dialihkan ke online. Namun, pakar juga menyorot imbas lain dari situasi tersebut.

Internasionalisasi Kampus Jadi Terhambat

Profesor pendidikan komparatif dan internasional di Universitas Oxford, Maia Chankseliani, mengatakan eskalasi regional telah meningkatkan biaya dan kompleksitas internasionalisasi bagi universitas-universitas di Teluk.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, hal ini mendorong beberapa mitra mereka untuk menunda perjanjian kampus baru, meningkatkan perencanaan risiko, dan strategi nasional pendidikan tinggi lebih sulit untuk diwujudkan sesuai agenda saat ini.

Dikutip dari Times Higher Education, disebut akan ada dampak finansial dan reputasi yang berlangsung lebih lama daripada krisis yang mendesak. Sebab dalam beberapa dekade terakhir negara-negara Teluk telah memposisikan diri sebagai lokasi serius untuk perluasan pendidikan tinggi, menarik kampus cabang, kemitraan penelitian, dan mobilitas mahasiswa secara internasional.

ADVERTISEMENT

Kota Pendidikan Qatar di Doha saja menampung beberapa universitas internasional besar, termasuk Carnegie Mellon, Georgetown, Northwestern, Weill Cornell, dan HEC Paris. Kemudian ada kampus Universitas New York serta Universitas Sorbonne di Abu Dhabi.

"Kemitraan ini bergantung pada cakupan jangka panjang, lingkungan peraturan yang dapat diprediksi, dan persepsi stabilitas yang luas. Meskipun lembaga-lembaga yang sudah berkomitmen secara substansial di kawasan ini akan melanjutkan, banyak lembaga dalam tahap perencanaan awal mungkin akan memperlambat negosiasi, meninjau kembali asumsi, dan mencari perlindungan kontraktual yang jauh lebih kuat terkait keadaan kahar dan keselamatan staf serta mahasiswa sebelum berkomitmen," kata Chankseliani.

Seberapa Besar Dampaknya?

Dosen senior di departemen pembangunan internasional di King's College London, Mayssoun Sukarieh, mengatakan besarnya dampak bergantung pada berapa lama konflik tersebut berlangsung.

"Jika konflik tersebut segera berakhir, tanpa biaya besar bagi perekonomian Teluk dan tanpa memengaruhi stabilitas regional, maka saya tidak mengharapkan konsekuensi signifikan bagi kampus-kampus Inggris dan AS yang beroperasi di Teluk," katanya.

"Di sisi lain, jika perang berkepanjangan dan menyebabkan ketidakstabilan di kawasan tersebut - berpotensi termasuk ketidakstabilan di Iran - ini dapat memiliki konsekuensi serius bagi industri pendidikan tinggi Inggris dan AS di negara-negara Teluk," lanjutnya.

Sementara, konsultan pendidikan tinggi internasional, Vincenzo Raimo, mengatakan sebelumnya, kawasan Teluk menunjukkan kemampuan untuk kembali ke keadaan normal dengan sangat cepat setelah konflik mereda.

Ia menilai lembaga-lembaga pendidikan di sana juga menunjukkan mereka dapat beradaptasi dengan sangat cepat, meyakinkan mahasiswa dan staf, mengalihkan pengajaran ke daring, dan mengaktifkan protokol tanggung jawab keselamatan.

Namun, ia menyebut bagi universitas yang mempertimbangkan komitmen baru, termasuk kampus cabang, usaha patungan, dan proyek modal besar, konflik apa pun akan mengarah ke pengawasan tingkat dewan yang lebih ketat. Lalu para pemimpin dan gubernur mencari jaminan yang lebih kuat tentang perencanaan skenario, tanggung jawab keselamatan bagi staf dan mahasiswa, dan implikasinya terhadap asuransi, biaya keamanan, dan reputasi jika persepsi keselamatan memburuk.

Bahkan jika proyek berjalan lancar, Raimo menambahkan, tidak akan mengejutkan jika ada jangka waktu yang lebih panjang dengan pengamanan tambahan dan klausul pembatalan yang lebih jelas tertulis dalam perjanjian.

Orang Tua Bakal Mikir Dua Kali untuk Sekolahkan Anaknya di Kawasan Teluk

Profesor pemikiran global dan filsafat komparatif di SOAS University of London, Arshin Adib-Moghaddam, mengatakan akan ada dampak serius jangka pendek hingga menengah bagi sektor pendidikan tinggi.

Ia menyampaikan potensi perang dapat membuat orang tua berpikir dua kali untuk mengirim anak-anak mereka ke wilayah tersebut. Selain itu, akan menjadi jauh lebih sulit untuk merekrut cendekiawan ternama dunia.

"Jika tidak ada upaya yang berhasil untuk membangun arsitektur keamanan yang layak dan cukup kuat untuk mencegah perang, ketidakamanan yang terjadi akan membuat pembangunan infrastruktur pendidikan tinggi yang layak secara internasional menjadi jauh lebih sulit," kata Adib-Moghaddam.



(nah/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads