Universitas Harvard sempat mendapat pelarangan menerima mahasiswa asing imbas tekanan dari Presiden Donald Trump pada Mei 2025 lalu. Namun, beberapa bulan kemudian pendaftaran pada musim gugur 2025 (September-November) justru mengalami peningkatan, terutama mahasiswa dari Asia.
Harvard mencatat adanya lonjakan pendaftaran mahasiswa internasional, termasuk dari China dan Korea Selatan (Korsel). Lonjakan ini terjadi di tengah kebijakan visa yang semakin ketat bagi mahasiswa asing, imbas tekanan Trump.
Dilansir dari Bloomberg, Harvard mencatat jumlah mahasiswa internasional terbanyak pada tahun akademik ini, mencapai 28% atau 6.749 mahasiswa, menurut data yang dirilis pada Jumat (23/1/2026) lalu. Angka ini menjadi tertinggi setidaknya sejak 2002 yang pernah dicatat oleh Harvard.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kenaikan ini setara sekitar 50 mahasiswa, atau kurang dari 1%. Meski terlihat kecil, angka ini cukup mencolok karena berbeda dengan tren nasional dan terjadi di tengah kebijakan ketat pemerintahan Trump.
Mahasiswa China di AS Meningkat
Secara keseluruhan, pendaftaran mahasiswa internasional di kampus-kampus AS justru menurun 1% pada periode yang sama, menurut laporan Open Doors dari Institute of International Education yang disponsori Departemen Luar Negeri AS. Untuk tahun akademik 2025-2026, mengalami penurunan terbesar sejak pandemi yakni mencapai 17 persen.
Meski begitu, pendaftar mahasiswa China di Harvard meningkat lebih cepat, sebesar 4,5 persen. Jumlah ini menjadikan mereka kelompok mahasiswa internasional terbesar di AS, mencapai hampir 1.500 orang.
Sementara itu, pendaftaran mahasiswa Korea Selatan naik 8,7 persen. Sementara mahasiswa dari India, Inggris, dan Kanada cenderung stabil atau sedikit menurun.
Lonjakan Mahasiswa Asing di Harvard Jadi Pertanda Positif
Para ahli menilai lonjakan mahasiswa internasional di Harvard sebagai tanda penting bagi universitas itu dan pendidikan tinggi AS secara umum.
Co-founder konsultan rekrutmen internasional Sunrise International, David Weeks, mengatakan mahasiswa China umumnya bersedia menghadapi proses visa yang rumit demi bisa belajar di universitas terbaik yang mereka diterima.
"Mahasiswa China dari semua tingkatan pada umumnya bersedia menerima proses visa yang rumit untuk mendaftar di universitas terbaik yang menerima mereka," ujarnya, dikutip dari VN Express.
Ia menambahkan, reputasi Harvard dan nilai jangka panjang gelarnya membuat banyak mahasiswa tidak tergoda untuk pindah ke negara lain, meski kondisi visa di AS lebih ketat. Australia, Inggris (UK), Singapura, dan Hong Kong bisa menyerap sebagian permintaan, tetapi kapasitas universitas top tetap terbatas.
Sebelumnya, pemerintahan Trump telah melakukan penindakan agresif terhadap mahasiswa asing, yang mengakibatkan lebih dari 8.000 visa pelajar dicabut selama tahun pertama masa jabatan presiden keduanya. Beberapa universitas diberi syarat untuk membatasi mahasiswa internasional maksimal 15 persen dari total pendaftaran sarjana jika ingin mendapat akses dana federal.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.
(crt/faz)











































