'Pulang Habis Duit' dan 5 Mitos Ini Buat Mahasiswa RI Enggan Kuliah PhD ke AS

ADVERTISEMENT

'Pulang Habis Duit' dan 5 Mitos Ini Buat Mahasiswa RI Enggan Kuliah PhD ke AS

Devita Savitri - detikEdu
Jumat, 09 Jan 2026 20:00 WIB
Pulang Habis Duit dan 5 Mitos Ini Buat Mahasiswa RI Enggan Kuliah PhD ke AS
Kampus Harvard di Cambridge, Massachusetts, AS. Ada 6 mitos yang buat mahasiswa RI enggan PhD ke AS, ini penjelasannya. Foto: AFP/JOSEPH PREZIOSO
Jakarta -

Profesor di The University of Chicago Amerika Serikat (AS) asal Indonesia, Haryadi Gunawi menyatakan program PhD kombo S2 dan S3 bidang sains dan teknologi di Negeri Paman Sam kurang laku. Terlebih bagi mahasiswa asal Indonesia, mengapa demikian?

Setelah dicari tahu, Haryadi menyebut setidaknya ada 6 mitos yang menyelimuti informasi program tersebut. Akibatnya, banyak orang memilih program tunggal, baik itu S2 saja atau S3 saja.

Lalu apa saja mitos tersebut? Berikut daftarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

6 Mitos Program PhD Kombos S2-S3 di AS

1. Lulusan PhD pasti Jadi Profesor/Dosen

Terkait mitos pertama, Haryadi sempat melakukan eksperimen. Ia pernah mengumpulkan 10 mahasiswa dari satu kampus top di Indonesia.

"Saya tanya, kalau kalian sudah menjadi PhD, apa karier Anda setelah itu? 10 dari siswa ini bilang dosen," kata Haryadi dalam webinar Garuda ACE: Dari Pelatihan Riset Ilmu Komputer Terbuka Sampai Panduan Mencari Beasiswa S2/S3 Kampus Luar Negeri, Kamis (8/1/2026) ditulis Jumat (9/1/2026).

ADVERTISEMENT

Nyatanya, tidak semua lulusan PhD menjadi dosen. Hal itu dijabarkannya melalui data sebuah studi yang menjelaskan bila hanya 30% lulusan PhD menjadi akademisi baik profesor atau dosen.

Sisanya, sekitar 60-70% lulusan PhD terserap bekerja di industri. Bahkan lulusan PhD ilmu komputer dipastikan 70% lulusannya bergabung ke industri.

"Apa benar industri bisa menyerap keahlian level PhD? Itu mungkin yang tidak terlihat di Indonesia, karena Indonesia menurut saya ekosistem teknologinya belum masuk ke (tingkat) advanced engineering dan science," ungkapnya.

Sedangkan di AS, industri berani menggaji besar-besaran untuk lulusan PhD yang hebat. Contohnya di perusahaan Google, 16% engineersnya punya gelar PhD. Begitu juga perusahaan-perusahaan di Silicon Valley lainnya.

"Kenapa? Karena mereka membuat sistem-sistem yang besar. Jadi mitos yang pertama salah, hanya 30% yang akademisi," tegas Haryadi.

2. Kuliah PhD ke AS Butuh Beasiswa

Berbeda dengan negara lainnya, sebanyak 80% mahasiswa yang berhasil tembus PhD di AS, otomatis mendapat uang sekolah gratis. Bahkan, mereka diberikan gaji bulanan lewat asisten dosen atau asisten peneliti.

Untuk itu, Haryadi menekankan proses mendaftar kuliah. Calon mahasiswa harus memiliki CV, resume, kapasistas penelitian yang bagus.

"Supaya ketika kita apply ke top at least 100 PhD program di US, ketika diterima itu otomatis diberikan (beasiswa) dan ini at least di (bidang) science and engineering," paparnya.

3. PhD -> Pulang Habis Duit

Banyak yang menyatakan bila PhD itu memiliki kepanjangan 'pulang habis duit' alias bangkrut. Hal ini dilihat Haryadi dari kenyataan yang ada.

Mereka yang berkuliah melalui beasiswa memiliki besaran biaya hidup yang terbatas. Untuk itu, banyak mahasiswa yang mencari uang saku tambahan dengan bekerja.

Namun, hal itu berbeda jika mengambil PhD bidang STEM di AS. Mahasiswa yang diterima secara otomatis menjadi asisten dosen/profesor dan asisten riset pasti akan dijamin biaya kuliah dan gaji perbulannya.

"Jadi uang tidak pernah menjadi masalah. Masalahnya selalu adalah persiapan. Saya ulangi, jadi uang tidak pernah menjadi masalah di sini," tegasnya.

4. Pendaftaran PhD butuh Gelar Master (S2)

Bagi kampus-kampus di Eropa, Kanada, Asia, Australia memang program PhD membutuhkan gelas Master (S2). Namun, di AS berbeda.

Lulusan Sarjana (S1) bisa langsung mendaftar PhD yakni kombo S2 dan S3 dengan waktu 5-6 tahun. Jangka waktu tersebut memang terkesan lama, tapi di AS ada konsep yang disebut dengan mastering out.

"Jadi misalnya, setelah 2 tahun, setelah mendapatkan gelar S2, mereka bisa mastering out. Mastering out membuat mahasiswa mendapat gelar S2, lalu bisa bekerja di Amerika atau pulang ke tanah air dahulu, itu pilihan Anda," ucap Haryadi.

5. Terlalu Dalam dan Membosankan

Dengan jangka waktu kuliah 5-6 tahun, Haryadi menekankan pada dasarnya, mahasiswa PhD Amerika bukan mahasiswa biasa, melainkan peneliti awal. Di waktu-waktu ini banyak hal yang bisa dilakukan mahasiswa.

Dari mengikuti konferensi atau magang di berbagai perusahaan besar. Melalui pengalaman ini akan terlihat mana sosok yang cocok ke bidang akademisi atau industri.

6. Susah Dapat Kerja

Banyak gosip beredar bila jenjang PhD adalah terlalu tinggi sehingga sulit dapat pekerjaan. Haryadi membantah hal terseeut, menurutnya seluruh muridnya lulusan PhD dapat pekerjaan.

"Karena banyak perusahaan yang butuh PhD graduates, mereka bisa masuk industri. Jadi, itu yang terjadi di lapangan," tandasnya.




(det/nwk)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads