ADVERTISEMENT

ITS Ciptakan Kapal Tanpa Awak, Apa Saja Kehebatannya?

Nikita Rosa - detikEdu
Rabu, 15 Jun 2022 10:30 WIB
Kapal tanpa awak
Foto: Kapal tanpa awak/Dok. ITS
Jakarta -

Departemen Teknik Perkapalan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berkontribusi pada industri maritim Indonesia. Ya, Departemen Teknik Perkapalan meluncurkan Remotely Operated Vehicle (ROV), sebuah kapal tanpa awak yang dinamai ROV W-101.

Ketua Tim Riset ROV W-101 Ir Wasis Dwi Aryawan MSc PhD menjelaskan penelitian tersebut mendapatkan dukungan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada 2021. Lanjutnya, kapal tanpa awak ini akan sangat bermanfaat bagi sektor industri bawah laut.

Wasis mengungkapkan, penelitian ini akan membuat kegiatan pengawasan alat bawah laut bisa dikerjakan oleh kapal pengendali jarak jauh secara autonomous atau tanpa pengemudi.

"Sehingga pengembangan ROV W-101 ini akan mempersingkat proses pengawasan kabel dan pipa laut hingga eksplorasi laut Indonesia," jelas Kepala Departemen Teknik Perkapalan ITS (https://www.detik.com/tag/its) itu dalam laman resmi ITS.

Wasis menuturkan, kapal tanpa awak ini akan digunakan dalam bidang industri guna memantau kondisi pipa bawah laut dan mapping di area sekitar platform lepas pantai.

"Dengan kerjasama bersama PT Radiant Utama Interinsco, kapal ini akan diuji coba untuk beroperasi di Selat Madura dalam waktu dekat," tambahnya.

Ukuran Prototipe ROV W-101 ini cukup besar. Dengan skala laboratorium prototype ini memiliki dimensi 75 x 42 x 35 cm ini didesain agar mampu menyelam hingga kedalaman 100 meter.

Di sisi lain, salah satu anggota tim riset ROV W-101, Andhika Asmara ST menerangkan, kapal tanpa awak ini dilengkapi Inertia Measurement Unit (IMU) untuk mempertahankan posisinya ketika berada di bawah laut. Robot kapal ini dilengkapi dengan perangkat yang terintegrasi dengan enam mesin pendorong. Sehingga membuat kapal berada dalam posisi even keel yaitu dapat menjaga posisi agar tetap seimbang ketika beroperasi.

Dalam perancangannya, Andhika melanjutkan, kapal bawah air ini telah melewati berbagai simulasi untuk mendapatkan performa yang optimal ketika beroperasi. Berbagai pengujian yang telah dilakukan seperti analisis manuver, analisis Computational Fluid Dynamic (CFD), hingga analisis tekanan.

"Hal tersebut bertujuan untuk memastikan kapal ini dapat beroperasi dengan baik ketika di lapangan," terangnya.

Agar bisa beroperasi di laut lepas, maka segi konstruksi dan peralatan kapal turut menjadi perhatian utama. Tekanan dan gaya apung ketika kapal beroperasi menjadi sebuah tantangan bagi tim perancang. Sehingga pembuatan body kapal dirancang agar struktur kapal tidak rusak ataupun mengalami kebocoran akibat tekanan air yang semakin besar ketika menyelam.

Lanjut Andhika, keunggulan dari kapal ini adalah mudah menambahkan perangkat tambahan. Adanya ruang untuk modifikasi membuat ROV bisa menjawab berbagai kebutuhan dan misi lainnya.

"Kapal ini dapat disesuaikan untuk menjalankan tugas tambahan seperti mengambil sampel bawah laut ataupun pengambilan data di bawah laut," jelas lulusan program sarjana Teknik Perkapalan ITS.

Mahasiswa yang tengah melanjutkan prodi magisternya di Departemen Teknik Perkapalan ITS ini menilai, ROV yang mampu menyelam selama satu jam ini memiliki nilai yang lebih ekonomis dibandingkan ROV di kelasnya. Selain itu, pembuatan kapal ini turut mengutamakan ketersediaan barang-barang yang ada di pasaran.

"Sehingga membuka kemungkinan pemroduksiannya oleh industri dalam negeri," tutur Andhika.

Ke depannya, Andhika memastikan, pengembangan kapal yang telah dikerjakan mulai November hingga April lalu ini akan terus berlanjut agar dapat meningkatkan kapasitas serta performanya.

"Kapal ini akan terus mengalami pengembangan dalam segi waktu operasi dan performanya serta agar dapat beroperasi secara autonomous," tutupnya.



Simak Video "Sosok Ilmuwan RI yang Masuk Nominasi European Inventor Award 2022"
[Gambas:Video 20detik]
(nwy/nwy)

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia