Beli Baju Saat Lebaran Bisa Meningkatkan Limbah Pakaian? Ini Kata Pakar UNS

Fahri Zulfikar - detikEdu
Rabu, 04 Mei 2022 18:08 WIB
Thrifting atau membeli barang bekas tengah digandrungi oleh banyak kalangan, terutama anak muda. Jelang lebaran penjualan baju bekas di Pasar Senen meningkat.
Foto: Rengga Sancaya/Beli Baju Saat Lebaran Bisa Meningkatkan Limbah Pakaian? Ini Kata Pakar UNS
Jakarta -

Momen Lebaran sering dijadikan budaya membeli baju baru oleh masyarakat di Indonesia. Meski kebiasaan ini sudah menjadi bagian tradisi Lebaran di Indonesia, namun ada ancaman lingkungan yang harus diwaspadai.

Bagi sebagian orang, baju baru di hari raya menjadi salah satu simbol kemenangan. Hal inilah yang mendorong masyarakat membeli baju-baju baru menjelang Lebaran. Tidak hanya baju, masyarakat juga membeli mukena dan sarung untuk dikenakan saat Lebaran.


Mengapa Beli Baju Berpotensi Merugikan Lingkungan?

Dengan meningkatnya pembelian pakaian, para pedagang baju tentu mendapatkan banyak untung hingga dua kali lipat. Namun sayang, banyaknya pakaian yang dibeli setiap orang justru berpotensi untuk merugikan lingkungan.

Saat permintaan baju meningkat, unit produksi yang ada di hulu akan menggunakan sumber daya bahan baku yang lebih banyak. Hal itu akan mendatangkan ancaman yakni peningkatan produksi limbah tekstil.

Sementara itu, di bagian hilir atau unit penjualan akan mengalami limpahan baju bekas yang banyak. Baju-baju bekas tersebut membutuhkan perawatan ekstra untuk dapat dijual kembali.

Perawatan ekstra ini dapat berupa pencucian yang membutuhkan detergen yang cukup banyak. Ancaman-ancaman tersebut dapat meningkatkan produksi limbah fesyen di lingkungan.


Harus Disikapi dengan Bijak

Pakar lingkungan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof. Dr. Prabang Setyono, M.Si. mengatakan bahwa budaya simbolik baju Lebaran memiliki makna positif. Namun, dalam praktiknya harus diimbangi dengan sikap bijak berpakaian.

"Budaya tersebut sebenarnya pemaknaan simboliknya bagus, hanya pemaknaan secara fisiknya tidak harus dengan baju baru tapi baju yang bagus yang sudah tersimpan lama tapi belum dipakai atau jarang dipakai saja," ujar Prof. Prabang, dikutip dari laman resmi UNS, Rabu (4/5/2022).


Bagaimana Jika Sudah Telanjur Membeli Baju Baru?

Prof. Prabang memberikan beberapa solusi yang dapat dilakukan masyarakat yang sudah telanjur membeli baju baru.

Guru besar bidang ilmu pencemaran lingkungan ini menyarankan masyarakat untuk menggunakan sistem sirkuler baju layak pakai.

Sistem ini dapat dipahami sebagai penyaluran baju-baju yang dianggap sudah kekecilan atau tidak tren tapi masih bisa dipakai kepada masyarakat yang membutuhkan. Alih-alih membuang, sistem sirkuler penyaluran ini tidak akan menimbulkan limbah bahan tekstil dari baju tersebut.

"Bagi yang sudah membeli pakaian maka baju yang dianggap sudah tidak tren atau sudah tidak dipakai harus disalurkan ke suatu unit usaha atau tempat penampungan baju layak pakai untuk didistribusikan ke masyarakat pengguna lain agar penggunaannya berkelanjutan atau sustainable ," imbuh Prof. Prabang.

Sementara itu, baju-baju yang sudah tidak layak pakai dan harus menjadi sampah dapat diberlakukan sistem sirkuler ekonomi.

Baju-baju tersebut dapat dijual kepada produsen dengan produk yang memanfaatkan limbah baju. Potongan-potongan baju dapat diubah menjadi bahan pengisi properti rumah tangga seperti kursi sofa dan bantalan.

"Sesuai dengan lagu anak-anak "Baju Baru" di era 90-an, Lebaran tidak harus dirayakan dengan baju baru, tetapi kesucian hati menyambut kemenangan yang hakiki. Baju baru Alhamdulillah. 'Tuk dipakai di hari raya. Tak punya pun tak apa-apa. Masih ada baju yang lama," tutur Kepala Program Studi S1 Ilmu Lingkungan UNS itu.



Simak Video "Baju Set Keluarga Masih Jadi Idaman untuk Lebaran 2022"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia