Soal Gaya Bahasa Campur-campur, Pakar UNS: Lumrah Terjadi

Anatasia Anjani - detikEdu
Kamis, 20 Jan 2022 15:30 WIB
Ilustrasi bahasa yang hilang
Foto ilustrasi/Gaya bahasa campur-campur. Foto: Speech4Hearing
Jakarta -

Gaya bahasa campur-campur tidak asing dengan keseharian masyarakat. Di medsos sempat diunggah sebuah paragraf yang ditulis dengan tiga bahasa sekaligus.

Tren ini juga diikuti Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Kementerian Pendidikan Budaya Riset dan Teknologi yang mencampurkan beberapa bahasa seperti Indonesia, Inggris, Korea, hingga daerah.

Merespon fenomena tersebut, pakar bahasa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Muhammad Rohmadi menganggap itu hal yang lumrah terjadi. Ia menjelaskan menurut laman SwiftKey Indonesia, Indonesia merupakan penutur tribahasa terbesar di dunia.

Indonesia berada di atas Israel dan Spanyol yang berturut-turut menempati posisi kedua dan ketiga. Menurut Rohmadi penutur multi bahasa memiliki banyak wawasan dan berusaha mengolaborasikan, mengkreasikan, dan menginovasikan bahasa yang ia kuasai.

Ada banyak faktor yang menyebabkan masyarakat Indonesia menjadi penutur multi bahasa. Faktor paling berpengaruh adalah pertemuan budaya dan perkembangan teknologi.

"Trilingual ini bisa terjadi akibat pertemuan budaya dari berbagai wilayah dan perkembangan teknologi. Dengan perkembangan teknologi itu, kita sekali ketuk bisa masuk ke semua lini. Kita tidak bisa bahasa apa pun tinggal buka google bisa tahu artinya,"" ujar dosen Sosiopragmatik di S2 Pendidikan Bahasa Indonesia UNS yang dikutip dari laman UNS.

Dengan pengetahuan yang dimilikinya mereka kerap mencampur bahasa yang dikuasai saat berbicara dan menulis. Rohmadi berpendapat pencampuran bahasa juga harus dikembalikan pada konteksnya.

"Merusak dan tidak itu bergantung konteks pemakainya. Kalau pemakai melihat konteksnya, pemakai tidak akan menggunakan itu kalau konteksnya formal. Sering kali mereka menggunakan multilingual di konteks nonformal," ujar Rohmadi.

"Maka dari itu, pemakai bahasa ini harus empan papan lan panggonan dan bersikap dewasa dalam berbahasa. Kedewasaan itu diukur dari apa yang mereka pikirkan kemudian menjadi apa yang mereka katakan. Apa yang mereka katakan itu menjadi tindakan. Tindakan-tindakan itu menjadi kebiasaan dan kebiasaan akan menjadi karakter," lanjut Rohmadi.

Rohmadi berpesan agar penutur trilingual atau multi bahasa agar dewasa dalam berbahasa. Kedewasaan ini dapat dilihat bagaimana seseorang menggunakan bahasa sesuai dengan situasi yang sedang berlangsung.



Simak Video "Saluran Air di Bekasi Berubah Warna Merah Usai Tercemar Limbah"
[Gambas:Video 20detik]
(atj/row)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia