Keren! Guru Besar ITS Masuk Lagi dalam 'Top 2% Scientist in The World 2021'

Trisna Wulandari - detikEdu
Rabu, 27 Okt 2021 15:45 WIB
Guru Besar ITS Prof. Drs. Ec. Ir. Riyanarto Sarno, MSc, PhD kembali masuk jajaran Top 2% Peneliti di Dunia.
Guru Besar ITS Prof. Drs. Ec. Ir. Riyanarto Sarno, MSc, PhD kembali masuk jajaran Top 2% Peneliti di Dunia. Foto: Dok. ITS
Jakarta - Guru besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof. Drs. Ec. Ir. Riyanarto Sarno, MSc, PhD kembali mencatatkan namanya dalam jajaran Top 2% Scientist in the World: Single Year Impact 2020-2021 yang dirilis Stanford University dan Elsevier Report.

Pemeringkatan peneliti dunia ini dilakukan oleh tiga peneliti asal Stanford University, yakni Prof. John Ioannidis, Jeroen Baas, dan Kevin Boyack melalui publikasi ilmiah berjudul Data for Updated Science-Wide Author Databases of Standardized Citation Indicators.

Pemeringkatan Top 2% Scientist in the World: Single Year Impact 2020-2021 didasarkan pada c-score, yaitu jumlah sitasi publikasi yang tidak termasuk sitasi oleh diri sendiri atau nonself-citation.

Guru Besar Departemen Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Elektro dan Informatika Cerdas (FTEIC) ITS tersebut lantas tercatat sebagai salah satu dari dua persen atau 100.000 peneliti teratas dari jutaan peneliti di dunia. Prof. Riyanarto Sarno mencapai c-score sebanyak 432 sitasi per Agustus 2020 hingga Agustus 2021.

Prof. Riyan mengatakan, jumlah sitasi tersebut didapat melalui 294 jurnal dan paper conference yang ia giat publikasikan sebagai peneliti sekaligus pendidik sejak 1989.

"Adapun untuk rentang tahun 2020 hingga 2021, total publikasi yang saya lakukan ialah sebanyak 77 publikasi yang terdiri dari artikel jurnal dan paper conference," papar Riyan dalam keterangan tertulis, Rabu (27/10/2021).

Kepala Laboratorium Manajemen Cerdas Informasi, Departemen Teknik Informatika ITS ini menjelaskan, fokus penelitiannya yaitu di bidang Artificial Intelligence (AI) & Image Processing untuk medis.

Salah satu penelitian terbarunya adalah Electronic Nose yang dikenal dengan nama i-nose 19. Temuan Prof. Riyan berfungsi untuk mendeteksi virus COVID-19. Ia menambahkan, i-nose juga berperan dalam mix-reality jaringan otak untuk membantu pencarian lokasi jaringan pada operasi bedah otak.

Profesor kelahiran 1959 ini menjelaskan, keinginan untuk menciptakan teknologi yang bermanfaat bagi Indonesia jadi motivasi utama membuat publikasi. Ia menekankan, hasil penelitian tak terbatas pada publikasi saja. Karena itu, lanjutnya, ia menghilirkan publikasi jadi produk substitusi impor. Salah satunya adalah i-nose tersebut.

Agar dapat melancarkan publikasi jurnal dan artikel ilmiah, kata Riyan, kolaborasi lintas jenjang dan lintas negara punya peran penting.

"Selain berkolaborasi dengan mahasiswa bimbingan dari jenjang sarjana hingga doktor, saya juga melakukan berbagai kolaborasi dengan peneliti dari berbagai negara seperti Jepang, Kanada, Taiwan, dan Belanda," tutur Dekan Fakultas Teknologi Informasi ITS periode 2006-2010 ini.

Lulusan University of New Brunswick, Kanada ini berharap, prestasinya ini dapat memotivasi rekan akademisi lain untuk terus berkarya, meningkatkan angka peneliti Indonesia, dan membawa nama baik Indonesia di mata dunia.

"Mudah-mudahan dapat menjadi api pemantik bagi teman-teman dosen, khususnya di ITS dan seluruh Indonesia, untuk mengejar ketertinggalan dan melangkah maju ke depan," harapnya.

Simak Video "Studi: Rabun Jauh Pada Anak Meningkat Selama Pandemi Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia