Tinjau Vokasi di Bali, Nadiem: Industri Bisa Jadi Kampus bagi Mahasiswa

Rahma Indina Harbani - detikEdu
Jumat, 08 Okt 2021 12:00 WIB
Mendikbud Nadiem Makarim mengaku jengkel karena dituding konflik kepentingan (conflict of interest) terkait bayar SPP menggunakan GoPay.
Foto: Lamhot Aritonang/Tinjau Vokasi di Bali, Nadiem: Industri Bisa Jadi Kampus bagi Mahasiswa
Jakarta - Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim mengingatkan satuan pendidikan vokasi bahwa industri bisa menjadi universitas bagi mahasiswa. Pernyataan tersebut disampaikannya saat melakukan kunjungan ke Politeknik Negeri Bali (PNB), Kamis (7/10/2021).

"Setiap industri bisa menjadi universitas bagi mahasiswa," kata Nadiem, dikutip dari keterangan tertulis yang diterima detikEdu, Jumat (8/10/2021).

Pasalnya, menurut Nadiem, mahasiswa tidak lagi hanya belajar di dalam kelas dan di program studi yang sama sampai lulus dalam program Kampus Merdeka. Ada waktu satu semester sampai satu tahun bagi mahasiswa untuk belajar langsung di industri. Beban biaya dari kegiatan tersebut akan ditanggung oleh pemerintahdan itu bisa dibiayai pemerintah.

"Industri di Bali, nih, misalnya, ingin mengambil 100 anak untuk ikut program Kampus Merdeka di perusahaannya, bisa dari PNB atau dari universitas lain. Nanti biaya transportasi anak tersebut akan dibayar pemerintah, fasilitatornya juga. Tapi anak yang telah dilatih tersebut, bisa langsung direkrut oleh industri," jelas Nadiem.

Nadiem juga menjelaskan bahwa pihak industri bisa mendapatkan tenaga kerja sesuai kebutuhan dengan melakukan investasi pada program yang diluncurkannya, SMK-D2 jalur cepat.

Berdasarkan penuturannya, industri bisa mendapat dana padanan (matching fund) ini sesuai dengan nilai investasi yang dikeluarkan. Dengan syarat, berinvestasi dalam peningkatan kualitas sumber daya lulusan SMK melalui program tersebut.

"Misalnya industri berinvestasi untuk membeli mesin, mendatangkan fasilitator full-time untuk melatih siswa dalam program ini, bisa mengajukan dana ini," kata Nadiem.

"Kita ingin semua berlomba mendapat matching fund. Industri banyak yang belum tahu tentang dana ini," lanjut dia.

Selain itu, Nadiem meminta agar pemangku kepentingan vokasi untuk ikut mempromosikan SMK-D2 kepada industri. Sebab, kerja sama antara industri dan pendidikan dapat mempermudah penyerapan tenaga kerja lulusan vokasi.

"Dengan adanya kerja sama yang melibatkan industri dalam pendidikan, termasuk kurikulumnya, bisa mempermudah penyerapan tenaga kerja lulusan vokasi. Itu cara untuk menjamin perusahaan untuk peduli. Kita peduli kelulusan kita diserap industri," demikian Nadiem.

Sedikit informasi, program SMK-D2 jalur cepat yang berbasis kerja sama dengan dunia kerja merupakan salah satu program Kemendikbudristek dalam mengatasi sejumlah tantangan dalam pendidikan vokasi. Program yang menjadi bagian dari Merdeka Belajar Vokasi ini masuk dalam fokus pendanaan yang disebut dana padanan (matching fund).

Simak Video "Observasi PTM, Mendikbud Nadiem Makarim Kunjungi Sekolah di Solo"
[Gambas:Video 20detik]
(rah/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia