Pelaksanaan Survei dan Riset saat Pandemi Covid-19, Begini Persiapannya

Trisna Wulandari - detikEdu
Jumat, 09 Jul 2021 12:30 WIB
Female student with long hair sitting in the library while writing on the book with laptop at desk
Foto: iStock
Jakarta - Survei adalah salah satu metode dalam mengumpulkan data, baik untuk keperluan riset maupun acuan dalam menentukan suatu kebijakan. Kondisi pandemi COVID-19 menjadi tantangan terbesar untuk dapat melakukan survei.

Project Manager Re-Mark Asia Sutji Shinto menuturkan, ada empat hal yang perlu disiapkan sebelum survei saat pandemi. Keempatnya yaitu persiapan perlengkapan, kegiatan lapangan, fisik, dan mental.

"Ketika kita bisa beradaptasi, itulah kemenangan kita. Banyak hal yang membuat kita ketakutan. Mau tidak mau masa ini menguji mental kita. Banyak hal yang harus kita sharing, agar kepala kita benar-benar clear. Di masa pandemi ini ketika melakukan survei, saya mencatat ada empat hal yang perlu untuk dipersiapkan. Yaitu persiapan mental, persiapan perlengkapan, persiapan fisik dan kegiatan lapangan," kata Sutji dalam webinar prodi Magister S2 Manajemen Pembangunan Daerah, Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University, Rabu (7/7/2021).

Sutji menjelaskan, sejumlah kelebihan dan kekurangan survei offline dan online terutama saat pandemi. Saat pandemi, mahasiswa, dosen, dan peneliti di antaranya memanfaatkan platform survei online untuk memudahkan pelaksanaan survei dalam kepentingan riset, tesis, dan skripsi.

Ia mengatakan, survei online, kendati di satu sisi memudahkan, surveyor di sisi lain tidak bisa membaca gerak tubuh dan ekspresi responden. Hal ini menjadi tantangan terutama penelitian yang membutuhkan pengamatan pada aspek tersebut. Sementara pada survei offline, lanjutnya, surveyor harus berhati-hati sekali dan menerapkan prokes ketat.

"Faktanya, meskipun begitu, dunia harus terus berjalan. Akhirnya kita harus menanamkan ke dalam diri agar kita berdamai dengan pandemi, melakukan kegiatan dengan banyak ketentuan yang ketat. Dari pengalaman kami, kami punya satu Satgas yang betul-betul menjaga tim agar meminimalisir kontak. Apabila ada tim yang positif, kita sudah punya langkah-langkah yang harus dilakukan," kata Sutji.

Sutji menuturkan, dalam menunjang persiapan kelengkapan, Sutji bersama timnya selalu menggunakan paket perlindungan Covid-19. Paket perlindungan ini terdiri atas masker medis dan masker kain, hand sanitizer, desinfektan, face shield, dan sarung tangan plastik/karet.

Ia menambahkan, kebutuhan personal lainnya yaitu plastik klip untuk menempatkan masker bekas, plastik klip untuk baju kotor yang belum dicuci, desinfektan dan detergen untuk rendam baju kotor, serta vitamin dan obat pribadi. Di samping itu, alat yang digunakan seperti pena, papan jalan, dan kertas sedapatnya tidak saling pinjam.

Sutji mengingatkan, perhatikan kesehatan fisik dan mental sebelum bepergian dan saat survei. Di samping itu, cermati juga peraturan dan kondisi Covid-19 di daerah tujuan dan daerah asal serta moda transportasi yang akan digunakan menuju dan selama berada di lokasi survei.

"Selanjutnya, cermatilah peraturan yang diterapkan daerah asal dan tujuan survei. Misalnya peraturan penerbangan, tempat atau lokasi vaksin atau swab di daerah asal dan daerah tujuan, jarak dari tempat survei ke lokasi swab, serta waktu yang diperlukan untuk mendapatkan hasil swab," katanya.

Ia menggarisbawahi, peneliti dan surveyor memiliki kewajiban untuk mengecek kesehatan diri terutama dengan cek swab antigen atau swab PCR.

"Kita juga mempersiapkan kesehatan fisik. Yakni sehat tanpa gejala sakit apapun, bugar dengan definisi bisa melakukan kegiatan tanpa cepat lelah, olahraga jangan ketinggalan, persiapan obat dan vitamin pendukung, serta cek swab antigen atau swab PCR," jelas Sutji.

Ketua Program Studi Magister S2 Manajemen Pembangunan Daerah FEM IPB University Ma'mun Sarma, mengatakan, selama pandemi, peneliti, mahasiswa, dan dosen bisa menghadapi situasi pandemi Covid-19 sambil mendapatkan informasi dari tangan pertama, baik responden atau informan dengan aman.

Di sisi lain, Ma'mun mengingatkan para periset untuk memberlakukan prokes ketat dan mematuhi aturan pemerintah dan kebijakan pembatasan yang berlaku selama pandemi.

"Di masa pandemi ini kita jangan terlena, kita harus tetap beraktivitas dan meningkatkan kemampuan kita," kata Ma'mun.

Gimana detikers, sedang penelitian apa nih? Semangat, ya!



Simak Video "Studi Plasma Konvalesen: Bisa Jadi Alternatif Namun Efektifitasnya Rendah"
[Gambas:Video 20detik]
(lus/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia