Dua mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) berhasil meraih medali Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026. Karisma Evi Tiarani menyabet medali emas lari 100 meter T63 dan medali perunggu lompat jauh, sementara Michael Marcelino meraih medali perak tolak peluru putra klasifikasi F12.
Karisma Evi Tiarani merupakan mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNS sekaligus sprinter Indonesia. Pada Asian Para Games tahun ini, ia meraih catatan waktu 14,59 detik untuk menembus garis finis di posisi terdepan di Stadion Atletik Nagoya City Mizuho Park, Jepang, Rabu (21/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu di nomor lompat jauh putri, Evi menyabet medali perunggu pada klasifikasi gabungan T42, T44, T61, T62, T63, dan T64.
Karisma Evi Tiarani pada Asian Para Games 2026. Foto: Dok UNS |
Pelatih Tim Nasional Indonesia cabang olahraga para atletik Azlan Khoirur Rozikin, SPd MOr menjelaskan klasifikasi tersebut berkaitan dengan kondisi atlet bersangkutan.
"Dalam cabang olahraga para atletik, klasifikasi nomor lintasan menggunakan huruf T yang merupakan singkatan dari track. Klasifikasi tersebut ditentukan berdasarkan jenis gangguan dan dampaknya terhadap kemampuan fungsional atlet dalam melakukan aktivitas olahraga," kata Dosen Pendidikan Jasmani Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ini, dikutip dari laman kampus.
Kelas T63 diperuntukkan bagi atlet dengan amputasi tungkai di atas lutut pada satu sisi tubuh yang memenuhi kriteria klasifikasi. Atlet pada kelas ini menggunakan prostesis untuk berlari sesuai ketentuan yang berlaku.
Agar mencapai performa optimal, Evi pun harus mampu beradaptasi dengan prostesis, menjaga keseimbangan, menghasilkan akselerasi, dan mempertahankan efisiensi gerak.
Persembahkan Medali untuk Mendiang Pelatih
Michael Marcelino pada Asian Para Games 2026. Foto: Dok UNS |
Sementara itu, Michael Marcelino membukukan tolakan terbaik sejauh 12,85 meter pada kesempatan pertama dari enam lemparan yang diberikan pada laga final. Catatan ini mengantarkannya pada medali perak tolak peluru putra klasifikasi F12.
Klasifikasi F12 merupakan klasifikasi bagi atlet dengan ketajaman pandangan sampai 2 meter yang diukur dengan alat optik snellen dan memiliki bidang pandang kurang dari 20 derajat, sebagaimana dijelaskan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dalam laman resminya.
Capaian Michael kian istimewa karena ia perdana berkompetisi pada ajang olahraga disabilitas terbesar se-Asia tersebut setelah sempat absen pada edisi 2022 di Hangzhou, Tiongkok.
Mahasiswa Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Fakultas Keolahragaan (FKOR) UNS ini mempersembahkan medalinya untuk Indonesia, keluarga, dan mendiang pelatih Slamet Widodo.
"Saya persembahkan pertama untuk Indonesia, orang tua, serta almarhum Pak Slamet," tutur Michael, Rabu (28/10/2026).
Michael menuturkan, Slamet merupakan sosok yang terus memotivasinya sejak mendampingi mulai 2019 hingga jelang keberangkatan ke Jepang. Namun, kabar duka kepulangan pelatih tersebut tiba beberapa hari sebelum para perwakilan RI berangkat ke Nagoya.
"Pak Slamet terus memotivasi saya, tetapi beberapa hari sebelum ke sini (Nagoya), beliau sudah tidak ada," ucapnya menahan air mata.


