Laptop merupakan alat penting bagi setiap mahasiswa untuk mengerjakan tugas atau mencatat materi perkuliahan. Namun, kebutuhan dasar tersebut tak dimiliki oleh Lia Marsya Fazliana.
Walau sempat terkendala dengan hal tersebut, ternyata tak menjadikan Marsya patah semangat menjalani perkuliahan. Justru, ia telah membuktikan lulus menjadi wisudawan terbaik di Universitas Negeri Jakarta.
Marsya dinobatkan sebagai lulusan terbaik di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA). Ia baru saja lulus dari Program Studi Pendidikan Kimia angkatan 2022.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagaimana perjalanan Marsya saat kuliah sampai dirinya jadi lulusan terbaik?
Kuliah dengan Beasiswa KIP Kuliah
Marsya adalah perempuan asal Kuningan, Jawa Barat. Sehingga, ia harus tinggal jauh dari keluarga selama masa kuliah.
Ekonomi keluarganya belum cukup memenuhi biaya kuliahnya. Beruntung, Marsya mendapatkan beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, sehingga ia berkuliah secara gratis.
"Saya harus belajar mengatur pengeluaran dengan sangat hemat, dan mencari cara agar keterbatasan itu tidak menghambat proses belajar," ujarnya dikutip dari laman UNJ, Sabtu (24/10/2026).
Ibu Marsya juga adalah orang tua tunggal. Marsya menjadikannya sebagai motivasi untuk tidak menyia-nyiakan masa kuliah.
"Perjuangan beliau menjadi salah satu motivasi terbesar saya untuk menyelesaikan pendidikan sebaik-baiknya." tambahnya.
Pendidikan dan Kimia di Mata Marsya
Di keluarganya, ia adalah sarjana pertama. Saat menentukan akan kuliah di mana, ia sempat kesulitan mencari informasi soal dunia perkuliahan. Terpaksa Marsya harus mencari tahunya secara mandiri.
Alasannya memilih pendidikan kimia adalah karena menurutnya dua hal tersebut sangat menentukan cara berpikir seseorang. Kimia adalah ilmu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Begitu juga dengan dunia pendidikan. Ia berpendapat bahwa pendidiklah yang berperan dalam menyampaikan ilmu kimia tersebut.
"Pendidik bukan hanya penyampai ilmu, tetapi fasilitator yang membantu peserta didik menemukan pemahaman dan mengembangkan potensinya," ujarnya.
Pandangan Marsya soal itu membawanya melakukan penelitian skripsi berjudul "Pengaruh Model Pembelajaran Conceptual Change terhadap Pemahaman Konseptual Peserta Didik pada Materi Hidrolisis Garam". Lewat penelitiannya, ia mencari tahu tingkat pemahaman siswa dalam materi hidrolisi garam.
Metode penelitiannya menggunakan instrumen tes pilihan ganda tiga tingkat (three-tier multiple choice). Metode tersebut mengukr tingkat keyakinan siswa sehingga miskonsepsi teridentifikasi lebih dalam.
"Hasil ini menunjukkan pentingnya pembelajaran yang tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga membantu peserta didik memperbaiki pemahaman awal mereka agar sesuai dengan konsep ilmiah," jelasnya.
Selama pengerjaan tugas akhir, Masrya bersyukur karena dibimbing oleh dosen bernama Tritiyatma Hadinugrahaningsih, yang membantu menyukseskan skripsi. Selama masa penyusunan, ia juga bersyukur karena ditemani oleh sahabatnya Adinda Rizka Triana.
"Kehadiran Adinda yang bisa saling memahami, menguatkan, dan menemani proses itu menjadi hal yang sangat saya syukuri," tuturnya.
Meski Wisudawan Terbaik tapi Tetap Rendah Hati
Perjuangan Marsya mengantarkannya menjadi wisudawan terbaik FMIPA UNJ dengan IPK 3,89. Di akhir, Marsya mengatakan tak mau menjadikan predikatnya tersebut untuk menjadi sombong.
"Menjadi wisudawan terbaik bukan berarti saya sudah paling hebat atau berhenti belajar. Justru ini pengingat untuk tetap rendah hati dan terus mengembangkan diri," katanya.
Ia berpesan kepada mahasiswa yang masih berkuliah atau mengerjakan tugas akhir agar senantias bersemangat. Ia yakin, setiap rasa lelah akan dibayar dengan sesuatu yang sepadan dengan perjuangannya.
"Setiap orang punya waktu dan perjuangannya masing-masing. Kalau merasa lelah, tidak apa-apa beristirahat, tetapi jangan menyerah. Selesaikan satu per satu," tuturnya.
