Pada usia 21 tahun, kebanyakan orang masih ada di tahap pendidikan sarjana atau baru lulus dari jenjang tersebut. Namun, bagi Andi Safa Afianzar usia tersebut menjadi momentum meraih gelar magister (S2).
Pria yang akrab disapa Andi tersebut baru saja diwisuda pada Agustus 2026 lalu. Dalam momen wisuda tersebut, Andi dinobatkan sebagai wisudawan termuda ITB.
Bagaimana bisa Andi meraih gelar S2 pada usia 21 tahun? Simak kisahnya!
Ikut Akselerasi Sekolah-Fast Track
Ternyata, cara supaya Andi bisa lulus Magister di usia muda adalah dengan mengikuti akselerasi sejak SD. Selama sekolah dasar hingga sekolah menengah ia terus mengikuti program akselerasi, sehingga masa pendidikannya lebih singkat.
Masa studi selama kuliah pun menjadi lebih singkat karena Andi mengambil jalur fast track S1-S2 dengan bantuan beasiswa Ganesha Talent Assistantship (GTA).
"Saya ingin berterima kasih kepada Beasiswa Unggulan dan Ganesha Talent Assistantship, kepada rekan-rekan saya baik ketika S1 (HIMAFI) maupun S2, serta dosen pembimbing saya Prof Dr rer nat Bobby Eka Gunara, S Si, M Si Terima kasih juga saya sampaikan kepada Kaprodi S2, Dr Fiki Taufik Akbar Sobar, S Si, M Si, dan Kaprodi S1, Dr Agus Suroso, S Si, M Si," ucapnya dikutip dari laman ITB, Sabtu (24/10/2026).
Walaupun terlihat menguntungkan, tetapi Andi harus banyak menyesuaikan diri karena usianya masih relatif muda. Ia harus bergaul dengan mahasiswa seangkatan yang lebih tua.
Alih-alih merasa terasing dan berbeda, Andi menjadikannya sebagai kesempatan untuk belajar membuka diri dan membangun relasi. Andi juga menjadi terbiasa berinteraksi dengan teman dari berbagai latar belakang.
Terpikat Juga dengan Matematika
Disiplin ilmu yang dipelajari Andi memang berfokus pada fisika, tetapi selama menjalani S2 Fisika ITB, Andi jadi jatuh cinta juga dengan bidang matematika. Saat S2, ia mendalami disiplin matematika yang berkaitan erat dengan riset yang dikerjakannya.
Saat mengkaji fisika teoritis dalam tugas akhirnya, Andi menemukan bahwa risetnya sangat berkaitan dengan konsep matematika murni. Dari sana, ia kemudian mengeksplorasi bidang matematika secara lebih dalam.
Dalam keberhasilan pengerjaan tugas akhir, Andi sangat berterima kasih kepada dosen pembimbingnya yakni Prof Dr rer nat Bobby Eka Gunara, S Si, M Si. Sang dosbing sering mengingatkan bahwa nilai seseorang tak hanya ditentukan dari gelar dan penghargaan saja.
"Seseorang itu dinilai berdasarkan karyanya, bukan predikatnya," pesan Prof Bobby yang dikenang Andi.
Pesan itu membuat Andi tidak ingin menilai dirinya hanya dari predikat atau penghargaan yang ia raih. Andi berharap bisa terus menghasilkan karya yang mempunyai manfaat bagi banyak orang.
Gelar dan pencapaian akademik Andi ia persembahkan kepada orang tua. Ia menjadikan pencapaiannya sebagai wisudawan termuda ITB untuk motivasi ke depannya.
Simak Video "Video K-Talk: Kuliah di Korea Gak Cuma Pakai GKS atau LPDP, Caranya?"
(cyu/nah)