Cerita kali ini datang dari sosok ibu yakni Noerma Juli Azhari. Ia baru saja lulus dari Doktor Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB).
Yang menarik dari sosok Noerma ini adalah ia dinobatkan menjadi lulusan doktor terbaik. Padahal, selama menjalani S3 ia tengah mengandung anaknya.
"Saya seorang ibu, kalau saya ngomong ke anak saya, 'Ibu gagal S3 nih gara-gara kamu lahir,' kan nggak mungkin ya," ujarnya dikutip dari laman ITB, Jumat (23/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perjalanan Studi Noerma
Noerma adalah lulusan S1 prodi Kimia, Universitas Brawijaya. Saat masa sarjana, ia sudah aktif melakukan penelitian misalnya lewat Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).
Kemudian ia melanjutkan S2 di prodi Teknik Kimia ITB. Menurut Noerma, perpindahan dari kimia ke teknik kimia membuatnya pandangannya semakin luas dalam mengembangkan material dan katalis.
Tak berhenti di S2, Noerma melanjutkan pendidikan doktornya di ITB. Selama menjalani S3, kemampuannya dalam riset dan membuat publikasi ilmiah semakin terasah berkat bantuan dosen pembimbing.
Selain itu, Noerma juga menjadi asisten dosen dan membantu mereka melakukan beberapa penelitian. Dari sana, kemampuan Noerma dalam penelitian berkembang pesat.
"Dari program itu saya jadi senang dengan penelitian," ungkapnya.
Raih Predikat Publikasi Terbaik
Dari ketekunannya melakukan riset, Noerma meraih predikat publikasi penelitian terbaik. Hasil ini ia raih dari proses yang panjang, disiplin, evaluasi dan strategi yang tepat.
Selama penelitian, ia juga mengalami beberapa percobaan. Menurutnya, untuk menghasilkan publikasi ilmiah yang baik perlu mengevaluasi pendekatan agar hasil eksperimen berkembang.
"Pokoknya ketika kita yakin kita optimistis sambil kita jalan, improvisasi, kita cari jalan lain dengan optimistis bahwa suatu saat ini akan menghasilkan sesuatu. Ini merupakan mindset penting kita sebagai seorang peneliti," tuturnya.
Sesuai dengan bidangnya, riset Noerma berfokus pada soal material dan katalis. Isi risetnya berkaitan dengan teknologi konversi material menjadi senyawa bernilai.
Ide riset dan pendalaman ini bermula dari keresahannya soal emisi karbon dan kebutuhan teknologi ramah lingkungan. Sejak itu, Noerma tertarik mengkaji proses konservasi material untuk menghasilkan senyawa bernilai dengan pendekatan katalisis. Dengan ide dan hasil riset yang dihasilkan Noerma, ia berharap akan ada teknologi yang dikembangkan untuk sektor industri.
Jadi Ibu dan Jalani Riset S3
Menjalani riset selama mengandung anak memang tidaklah mudah. Namun, hal ini tidak jadi penghalang Noerma untuk menuntaskan studinya tepat waktu.
Terlebih lokasi penelitiannya sebagian besar adalah di laboratorium. Di sana ia harus berharap dengan berbagai bahan kimia yang berisiko jadi paparan bagi ibu hamil.
Namun, Noerma beruntung karena pihak kampus membantunya dalam menjamin keselamatan. Noerma juga diberi keringanan untuk dibantu mahasiswa S1 saat melakukan penelitian di laboratorium.
Perjuangan Noerma akhirnya ia tuntaskan. Menurutnya, motivasi lain untuk menuntaskan ini adalah karena ia menjalani pendidikan doktor lewat beasiswa LPDP, sehingga ia merasa punya tanggung jawab besar.
"Yang kedua adalah prioritas, karena beasiswa sangat perhatian. Yang ketiga selalu komunikasikan apa kebutuhan kita, apa yang menjadi concern kita," ujarnya.
Ia memberikan pesan kepada mahasiswa yang pernah dalam kondisi yang sama dengannya. Menurutnya, selagi mampu, mahasiswa harus tetap optimis.
"Ketika kita penelitian itu kita tidak melihat jalan, yang penting kita tetap optimis saja. Kita coba saja, pokoknya ketika kita yakin kita optimistis sambil kita jalan, improvisasi, kita cari jalan lain," pesannya.
