Pascabencana Sumbar, ITB Dorong Pemulihan Pembelajaran Kimia Tanpa Lab

ADVERTISEMENT

Pascabencana Sumbar, ITB Dorong Pemulihan Pembelajaran Kimia Tanpa Lab

Trisna Wulandari - detikEdu
Selasa, 13 Okt 2026 12:00 WIB
Pelatihan pembelajaran kimia pascabencana Sumbar
Pelatihan pembelajaran kimia pascabencana Sumbar di Padang. Foto: Dok ITB
Jakarta -

Pascabencana banjir dan longsor di Sumatera Barat, pemulihan pembelajaran masih berlangsung. Salah satunya di Kota Padang.

Bencana banjir dan longsor yang berdampak pada infrastruktur pendidikan jadi tantangan dalam belajar sains. Termasuk juga pada pembelajaran kimia, yang membutuhkan fasilitas laboratorium, bahan kimia, dan peralatan khusus.

Merespons kondisi ini, Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar pelatihan digitalisasi pembelajaran sains kimia bagi siswa dan guru bersama dosen dan mahasiswa Program Studi Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB dan Departemen Kimia FMIPA Universitas Negeri Padang (UNP).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Belajar Kimia dengan Software

Sebanyak 30 siswa SMA dari sejumlah sekolah dan 52 guru Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Kimia dari 20 SMA di Kota Padang berkumpul di siswa di SMAN 1 Padang, Sumatera Barat, Jumat (21/8/2026) lalu. Para siswa dan guru diperkenalkan pada teknologi komputasi sebagai alternatif pembelajaran yang bisa diakses lebih fleksibel.

Perangkat lunak atau software yang digunakan yaitu Avogadro dan ChemSketch. Avogadro merupakan aplikasi gratis dan open source bagi pelajar dan peneliti yang berfungsi dalam memvisualisasikan dan mengedit molekul, dikutip dari laman resminya.

ADVERTISEMENT

Aplikasi yang namanya diambil dari ilmuwan teori molekul Italia, Amedeo Avogadro ini, dapat digunakan dalam pembelajaran kimia komputasional, pemodelan molekul, pendidikan kimia, bioinformatika, ilmu material, dan lain-lain.

Sedangkan ChemSketch merupakan software desain kimia yang berfokus pada pembuatan dan pengeditan gambar struktur kimia, sekaligus membantu memvisualisasikan molekul dalam tampilan dua dimensi dan tiga dimensi.

Aplikasi akademik nirlaba ini bisa bantu siswa dalam belajar menggambar struktur kimia, termasuk struktur organik, organometalik, polimer, dan struktur Markush, dikutip dari laman resminya.

Lewat aplikasi ini, siswa dan guru bisa menyimak visualisasi struktur molekul, ikatan kimia, dan mengeksplorasi macam-macam konsep kimia secara digital.

Dikutip dari laman ITB, software ini memungkinkan siswa juga mempelajari materinya secara mandiri, termasuk di rumah.

Ketua kegiatan sekaligus dosen Kelompok Keilmuan Kimia Analitik FMIPA ITB, Dr Muhammad Yudhistira Azis, MSi menyebut pelatihan ini bagian dari kelanjutan pendampingan warga usai periode tanggap darurat bencana di Sumbar. Menurutnya, digitalisasi yang interaktif bisa menarik kembali minat belajar anak.

"Digitalisasi pembelajaran dapat menjadi alternatif untuk menghadirkan pengalaman belajar kimia yang lebih interaktif dan menyenangkan, sekaligus membangkitkan kembali motivasi siswa pascabencana," katanya.

Pengayaan Metode Mengajar

Sementara itu, para guru juga berlatih menyusun modul pembelajaran aplikatif berbasis komputasi dan penguatan pemahaman konsep sains. Langkah ini diharapkan memperkaya metode pengajaran dan meningkatkan literasi digital.

Pendekatan yang diterapkan guru juga diharapkan bisa menjembatani pembelajaran kimia tingkat sekolah menengah dengan perguruan tinggi.

Yudhistira mengatakan, rangkaian pelatihan dan diskusi ini juga jadi ruang pertukaran pengetahuan antara dosen dan guru mengenai tantangan pembelajaran sains di sekolah.

"Melalui diskusi ini, saya berharap dapat dikembangkan metode pembelajaran yang lebih relevan dengan kebutuhan siswa," ucapnya.

Ketua MGMP Kimia Kota Padang, Jhon Hendri, MPd menilai pelatihan ini memberikan wawasan baru bagi guru dalam menerapkan konsep keilmuan secara lebih aplikatif dan tepat sasaran.

Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II Sumbar, Budi Hermawan, SPd, MSi, berharap kolaborasi antarakademisi bisa terus berkelanjutan, sehingga mendorong semangat berinovasi dalam pembelajaran kimia.



(twu/nwk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads