Kegagalan bukanlah akhir segalanya. Terbukti, Greece Mutia yang sempat ditolak oleh 9 beasiswa, akhirnya bisa tembus ke Eropa.
Greece bercerita jika studi ke luar negeri merupakan sebuah impian sejak di bangku sarjana. Saat masih berkuliah di Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta (UNUJogja), ia mulai mempersiapkan jenjang pendidikan berikutnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia rutin belajar untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisnya, sembari terus merawat impiannya kuliah di luar negeri.
Persiapan Beasiswa
Secara bertahap, Greece mempelajari bahasa asing, menabung uang saku beasiswa, dan mengikuti kegiatan sukarela. Namun, perjalanan studinya tidak selalu mulus.
Dalam kurun waktu delapan bulan, Greece mendaftar ke berbagai program beasiswa. Tapi bukan kata selamat, ia menerima 9 penolakan dari berbagai program di Asia, Australia, Selandia Baru, dan Eropa.
Meski bertubi-tubi menerima penolakan, Greece tetap bekerja sebagai pengajar sambil mempersiapkanIELTS dan melengkapi dokumen pendaftaran. Ia juga aktif bertanya kepada penerima beasiswa lain mengenai proses seleksi dan persyaratan program yang dituju.
"Sejak saya kuliah dan menerima beasiswa di UNU Jogja, saya selalu menyisihkan waktu untuk belajar bahasa asing, terutama IELTS, menyisihkan uang saku bulanan dari beasiswa Future Leader Scholarship, dan ikut volunteering," katanya, dikutip dari laman Kemdiktisaintek.
Raih Beasiswa S2 ke Polandia
Pada akhirnya, perjuangan Greece menemui keberhasilan. Ia lolos beasiswa S2 di University of Wroclaw, Polandia, pada program Applied Social and Intercultural Studies (ASIS) dengan beasiswa Stefan Banach Scholarship.
Setelah menyelesaikan studi di Polandia, Greece bercita-cita membangun sekolah di Lampung. Tujuan tersebut menjadi arah kontribusi yang ingin diwujudkan melalui perjalanan akademiknya.
(nir/faz)
