Ketertarikan Gio Fidelito pada biologi yang tumbuh sejak bangku sekolah kini membawanya ke dunia riset internasional. Setelah menyelesaikan studi doktoral di University of Melbourne, Australia, Gio kini terlibat dalam penelitian mengenai metabolisme dan kanker.
Perjalanan tersebut bermula ketika Gio masih bersekolah di SMA Kolese Santo Yusup, Malang. Ketertarikannya pada biologi semakin kuat setelah mengikuti kelas pengayaan biologi dan pelatihan biologi molekuler di Fakultas Teknobiologi Universitas Surabaya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengalaman tersebut kemudian mendorong Gio melanjutkan pendidikan tinggi di i3L University, Jakarta, dengan pilihan awal Bioteknologi.. Awalnya, ia memilih bidang Bioteknologi. Namun, setelah memahami cakupan berbagai bidang yang tersedia, ketertarikannya justru mengarah pada biomedik, khususnya biologi molekuler yang berkaitan dengan kesehatan.
"Setelah memahami cakupan tiap jurusan, saya merasa Biomedik lebih cocok. Saya merasa lebih tertarik pada biologi molekuler di bidang kesehatan," ujar Gio seperti dikutip detikEdu dari Antara, Senin (5/10/2026).
Sejak semester pertama, Gio telah mendapat pengalaman laboratorium secara intensif. Pengalaman tersebut tidak hanya memperkuat kemampuan teknisnya, tetapi juga membentuk cara berpikir yang lebih sistematis, logis, dan kritis dalam melihat persoalan ilmiah.
Pengalaman Riset Membawanya ke China
Ketertarikan Gio pada penelitian kemudian membawanya ke lingkungan akademik internasional. Ia mendapat kesempatan melakukan riset di Soochow University, China, dan bekerja di laboratorium Prof Yufang Shi.
Kesempatan tersebut menjadi pengalaman penting bagi Gio karena untuk pertama kalinya ia melihat secara langsung bagaimana kehidupan seorang peneliti berlangsung di lingkungan akademik internasional.
"Pengalaman di Tiongkok membuka mata saya tentang dunia penelitian, terutama di tingkat internasional. Sebelumnya, saya tidak benar-benar tahu apa yang dikerjakan seorang peneliti atau seperti apa kesehariannya," tuturnya.
Pengalaman tersebut turut membuka perspektif Gio mengenai pilihan karier di dunia penelitian sekaligus mendorongnya untuk lebih berani mencari kesempatan riset di luar negeri.
Menurut Dr Richard Sutejo, yang pernah mengajarnya, potensi Gio dalam bidang riset sebenarnya telah terlihat sejak masa kuliah. Kemampuan tersebut antara lain tercermin dari cara Gio menganalisis pertanyaan, mengikuti perkuliahan, dan memahami konsep-konsep baru.
"Memang DrGio ini terhitung brilian di antara teman-teman sekelasnya. Kalau mengenai etos kerja, ia memiliki inisiatif dan daya analitis yang terhitung sangat potensial," ujar Richard.
Salah satu pengalaman yang menunjukkan kemampuan tersebut terjadi ketika Gio membuat presentasi mengenai temuan terbaru di bidang biomedis dalam mata kuliah Canceromics.
"Dr Gio ini selalu membawa keilmuan yang baru yang menurut saya sangat bagus, bahkan setara S3 padahal Dr Gio masih semester 6," kata Richard.
Menjadi Peneliti Kanker dan Metabolisme di Melbourne
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Gio melanjutkan studi doktoral di University of Melbourne. Memasuki lingkungan akademik dengan reputasi internasional tersebut, ia mengaku sempat mengalami keraguan terhadap kemampuan dirinya.
Namun, pengalaman akademik dan berbagai bekal yang telah diperolehnya selama masa pendidikan membantu Gio membangun kembali kepercayaan dirinya.
Gio menyelesaikan pendidikan PhD pada 2024. Setelah itu, ia dipercaya memimpin program penelitian yang sesuai dengan bidang minatnya, sembari tetap terlibat dalam berbagai proyek penelitian lain di laboratorium.
"Setelah menyelesaikan PhD pada 2024, kini saya dipercaya memimpin program penelitian yang sesuai dengan minat saya, sambil tetap aktif membantu proyek-proyek lain di laboratorium," terang Gio.
Saat ini, Gio menjadi postdoctoral researcher dalam proyek riset di Metabolism and Diabetes Laboratory, Department of Anatomy and Physiology, University of Melbourne, di bawah Prof Matthew Watt.
Laboratorium tersebut berfokus pada berbagai persoalan metabolisme, termasuk perlemakan hati, obesitas, dan diabetes tipe 2. Penelitiannya mencakup mekanisme gangguan metabolisme serta komunikasi antarorgan untuk mencari target terapi baru. Di laboratorium tersebut, Gio menjalankan dua jalur penelitian.
Pada riset dasar, ia mempelajari mekanisme molekuler yang mengatur metabolisme asam lemak pada tingkat sel. Sementara dalam riset translasional, Gio meneliti kanker prostat, khususnya bagaimana sel kanker memprogram ulang metabolismenya agar mampu tumbuh dan bertahan hidup.
Ia juga berupaya mengidentifikasi aspek metabolik yang berpotensi dikembangkan sebagai target pengobatan.
Dorong Mahasiswa Indonesia Berani Menembus Riset Global
Perjalanan Gio dari ketertarikan terhadap biologi di bangku SMA hingga terlibat dalam riset kanker di Australia membuatnya ingin mendorong lebih banyak mahasiswa Indonesia berani mengambil peluang penelitian internasional.
Menurutnya, mahasiswa Indonesia tidak perlu merasa minder ketika berada di lingkungan akademik global. Kesempatan yang sama, kata dia, dapat membuka peluang bagi mahasiswa Indonesia untuk menunjukkan kemampuan mereka.
"Jangan takut bermimpi. Terkadang kita merasa minder atau kurang mampu dibanding mahasiswa di luar negeri. Tapi percayalah, jika diberi kesempatan yang sama, kita juga mampu," tegas Gio.
Ia juga mengingatkan bahwa langkah menuju pengalaman riset internasional tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Salah satunya dapat dilakukan dengan berani membangun komunikasi dengan peneliti atau profesor yang bidang penelitiannya diminati.
"Mulailah dari langkah yang kecil, misalnya memberanikan diri menghubungi atau mengirim email ke profesor yang penelitiannya kamu minati," ujar Gio.
