Dosen IPB University, Prima Gandhi, resmi meraih gelar doktor (Ph.D.) bidang Ekonomi Pertanian dari Tokyo University of Agriculture (Tokyo NODAI), Jepang. Ia menyelesaikan pendidikan doktoral setelah mempertahankan disertasinya berjudul "Restructuring and the Development of a Sustainable Downstream Palm Oil Industry in Indonesia" atau Restrukturisasi dan Pengembangan Industri Hilir Kelapa Sawit Berkelanjutan di Indonesia.
Sidang terbuka promosi doktor berlangsung pada Senin, 29 Juni 2026, di Science Port Building, Kampus Setagaya, Tokyo. Disertasi Gandhi diuji oleh Prof. Fumie Takanashi sebagai promotor, bersama Prof. Keiko Yoshino, Prof. Keisuke Suganuma, Prof. Nagatada Takayanagi dari Tokyo University of Agriculture, serta Prof. Kazuyuki Iwasa dari Kochi University.
Gelar doktor tersebut kemudian diserahkan secara resmi oleh Presiden Tokyo University of Agriculture, Prof. Fumio Eguchi, dalam upacara wisuda pada Rabu, 30 September 2026. Selama menempuh studi di Jepang, Gandhi memperoleh beasiswa Special Exchange Student dari Tokyo University of Agriculture.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penelitian Gandhi berangkat dari persoalan mendasar industri kelapa sawit Indonesia. Sebagai salah satu produsen minyak sawit terbesar dunia, Indonesia selama bertahun-tahun masih mengekspor sebagian produk sawit dalam bentuk minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dan produk setengah jadi. Kondisi tersebut membuat sebagian nilai tambah dari komoditas sawit dinikmati di luar negeri.
Di sisi lain, industri sawit Indonesia menghadapi tuntutan keberlanjutan yang semakin ketat. Isu deforestasi, ketertelusuran rantai pasok, sertifikasi, hingga penerapan European Union Deforestation Regulation (EUDR) menjadi tantangan baru bagi pelaku industri.
Gandhi kemudian meneliti bagaimana Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan sertifikasi keberlanjutan dapat berperan dalam mengubah struktur industri sawit nasional.
Ia membandingkan dua kawasan dengan karakter berbeda, yakni KEK Sei Mangkei di Sumatera Utara, yang pengembangannya didorong negara, dengan Kawasan Industri Dumai di Riau, yang berkembang melalui mekanisme pasar dan didominasi kelompok usaha besar.
Penelitian tersebut menggunakan perspektif Global Value Chain (GVC) dan Global Production Network (GPN). Data dikumpulkan melalui observasi lapangan di Sei Mangkei pada 2023 dan 2025 serta Dumai pada 2024. Gandhi juga melakukan wawancara mendalam dengan pejabat pemerintah, BUMN, perusahaan multinasional, dan pengelola kawasan, serta diskusi kelompok bersama petani sawit dan koperasi.
Penelitian Gandhi menemukan keberadaan KEK dapat mendorong peningkatan kelas industri sawit. Di Sei Mangkei, keterhubungan antara perkebunan, industri pengolahan, dan pasar global semakin kuat. Kawasan tersebut juga menarik investasi pada sektor bernilai tambah tinggi, termasuk industri oleokimia.
Peningkatan tersebut terlihat melalui efisiensi proses produksi, pengembangan produk turunan bernilai tinggi, pergeseran menuju fungsi industri yang lebih kompleks, serta keterhubungan dengan sektor baru seperti bioenergi dan biomaterial.
Penelitian juga menemukan negara memiliki peran sebagai orkestrator. "Negara tidak sekadar memberi izin dan insentif," ujar Prima. Lewat desain kawasan, peran BUMN sebagai jangkar, dan penyelarasan kebijakan dengan standar global, negara secara aktif merancang tata kelola rantai nilai sawit. Temuan ini memperkaya teori GVC yang selama ini lebih menonjolkan peran perusahaan global.
Selain itu, Prima juga menemukan keberlanjutan semakin menentukan akses pasar. Sertifikasi RSPO dan ISPO serta tuntutan ketertelusuran bukan lagi sekadar urusan kepatuhan lingkungan. Standar ini menentukan siapa yang bisa masuk pasar premium, bermitra dengan pembeli global, dan menikmati nilai tambah.
Prima juga memperkenalkan konsep "triadic governance assemblage", yakni tata kelola yang terbentuk dari interaksi tiga kekuatan. Kekuatan tersebut yaitu kebijakan kawasan dari negara, rezim sertifikasi keberlanjutan, dan strategi perusahaan pemimpin. "Ketiganya bersama-sama menentukan arah hilirisasi," ujarnya.
Namun, terdapat tantangan bagi petani kecil. Persyaratan untuk masuk ke rantai nilai bersertifikat semakin kompleks sehingga posisi petani sawit swadaya berpotensi semakin terpinggirkan. Karena itu, inklusi mereka sangat bergantung pada dukungan pendampingan, sertifikasi, dan skema kemitraan.
Hilirisasi Harus Memberi Nilai Tambah hingga Petani
Bagi Gandhi, memiliki arah keberpihakan yang jelas dalam meneliti serta memastikan adanya kebermanfaatan nyata bagi Indonesia dalam studi doktoral adalah hal yang sangat penting. Hasil penelitiannya memberi pesan jelas bagi agenda hilirisasi nasional yaitu keberhasilan hilirisasi tidak cukup diukur dari kapasitas pabrik atau nilai ekspor.
Ukuran yang lebih penting adalah seberapa jauh kebijakan mampu memperkuat rantai nilai dari hulu ke hilir, meningkatkan kinerja keberlanjutan, dan memberi ruang bagi pelaku domestik, terutama petani kecil.
Secara praktis, disertasi ini merekomendasikan agar desain KEK sawit tidak hanya mengejar investasi dan ekspor, tetapi juga memperkuat koordinasi pemerintah dan swasta, membangun kapasitas teknologi dan inovasi dalam negeri, mengintegrasikan standar keberlanjutan ke seluruh rantai, serta menyiapkan skema dukungan sertifikasi dan kemitraan bagi petani swadaya.
Model Sei Mangkei dapat menjadi rujukan bagi pengembangan kawasan hilirisasi komoditas lain, sekaligus memperkuat posisi tawar Indonesia menghadapi regulasi perdagangan global seperti EUDR.
"Sawit bukan hanya soal ekspor dan devisa. Sawit menyangkut jutaan petani, lingkungan, dan martabat bangsa di mata dunia. Hilirisasi yang baik adalah hilirisasi yang membuat nilai tambah tinggal di Indonesia dan dirasakan sampai ke petani," ujar Gandhi.
Aktif Memimpin dan Menulis di Jepang
Selama tinggal di Jepang, aktivitas Gandhi tidak hanya berfokus pada penelitian. Ia juga dipercaya menjadi Ketua Umum Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang periode 2024-2025, organisasi yang menaungi lebih dari 7.000 pelajar Indonesia di berbagai kota di Jepang.
Di bawah kepemimpinannya, PPI Jepang menggelar berbagai forum ilmiah, simposium, kegiatan sosial, kolaborasi dengan KBRI Tokyo, serta pendampingan bagi pelajar Indonesia yang ingin melanjutkan pendidikan di Jepang. Organisasi tersebut juga turut menyampaikan pandangan terhadap sejumlah kebijakan pemerintah di Tanah Air.
Gandhi juga tetap aktif menulis opini di media nasional mengenai kebijakan dan ekonomi pertanian, ketahanan pangan, stunting, hingga dampak El Niño terhadap sektor pertanian.
Selama 3,5 tahun masa studi pada 2023-2026, ia tercatat menghasilkan 56 karya tulis populer dan ilmiah. Salah satunya membahas perkembangan ekosistem halal digital di Jepang, yang lahir dari pengalaman hidupnya sebagai seorang Muslim di negara dengan populasi Muslim minoritas.
Perjalanan doktoralnya juga diwarnai tantangan personal. Pada masa awal studi, Gandhi menjalani pendidikan di Jepang tanpa didampingi istri dan dua putrinya yang tetap berada di Indonesia.
"Ada banyak malam ketika saya harus tetap menulis, sementara keluarga menunggu dari jauh. Gelar ini milik mereka juga," katanya.
Dari Jepang, ia mengaku belajar banyak tentang disiplin, ketekunan, dan kerja yang rapi.
"Jepang mengajarkan bahwa hal besar dibangun dari kebiasaan kecil yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh setiap hari. Kepada adik-adik mahasiswa, terutama dari keluarga sederhana dan daerah: jangan takut bermimpi sekolah ke luar negeri. Jalannya mungkin terjal, tetapi selalu ada pintu bagi yang tidak berhenti mengetuk," pesannya.
Usai menuntaskan studi, Gandhi akan kembali mengajar di IPB University. Ia berencana membawa perspektif tata kelola rantai nilai global dan keberlanjutan ke dalam pengajaran, memperluas riset kebijakan berbasis bukti, serta membangun kolaborasi riset antara IPB University dan Tokyo University of Agriculture.
Bersama Prof. Fumie Takanashi, ia juga tengah menyiapkan publikasi lanjutan dari temuan disertasinya.
Simak Video "Seberapa Kenal Kamu Dengan Sawit?"
[Gambas:Video 20detik] (pal/pal)
