China meraih posisi kedua setelah Singapura, dalam kemampuan membaca di PISA 2025. Seperti apa budaya literasi di Negeri Tirai Bambu Ini?
Seperti diketahui, PISA atau Programme for International Student Assessment (PISA) adalah penilaian kemampuan membaca, matematika, dan sains siswa berusia 15 tahun di 91 negara dan wilayah yang diadakan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Tahun lalu ada 760 ribu siswa yang berpartisipasi.
Pemerintah China sendiri telah menekankan budaya membaca sejak dini. Mulai Februari 2026, China menerbitkan Peraturan tentang Peningkatan Budaya Membaca Nasional, demikian seperti dilansir dari Global Times.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan aturan ini, Pemerintah China mendorong peningkatan penyediaan publikasi berkualitas tinggi, penguatan rekomendasi buku-buku unggulan, serta pengarahan platform digital agar menyajikan konten yang lebih sehat.
Inovasi Buku Anak
Inovasi buku anak juga tumbuh di China. Salah satu penerbit buku anak di China, Children Joy Education & Technology (Beijing) Co, Ltd menggunakan trik khusus dalam merancang buku untuk anak usia dini.
Zhijie Feng selaku Copyrights Manager mengatakan pihaknya merancang buku dengan mengikuti perkembangan fisik dan emosional anak. Pada usia 0-3 bulan, anak memiliki penglihatan yang terbatas yaitu hanya bisa melihat warna hitam dan putih. Kemudian mulai dari 3 bulan, anak-anak baru bisa melihat warna merah.
"Dan sampai usia 4 sampai 6 bulan, mereka memiliki penglihatan warna penuh," ujarnya dalam acara Children Belong to The World, and So Do Their Books from Scientific Development to Global Publishing di Indonesia International Book Fair, Assembly Hall Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Kamis (1/10/2026).
Dengan riset itu, penerbit Children Joy Education & Technology (Beijing) Co, Ltd mengembangkan kartu hitam putih.
"Jadi buku ini bukan hanya tentang melihat. Ini juga menjadi dasar pengembangan penglihatan untuk anak-anak," jelasnya.
Feng menyinggung jika Children Joy Education & Technology (Beijing) Co, Ltd menerbitkan buku ini berdasarkan riset dari dua ilmuwan terkenal. David Hoover dan Xiao Yibong.
David Hoover adalau peraih Nobel dalam bidang penglihatan anak. Ia memenangkan Hadiah Nobel karena menemukan bahwa mata anak berkembang dari sudut yang sangat spesifik. Jika satu mata anak ditutup, kemampuan penglihatan anak berganti ke mata lain.
"Artinya, pada tahap sensitif, jika Anda tidak merangsang penglihatan anak dengan cara yang benar, itu akan menghambat perkembangan penglihatan bagi anak-anak ini sepanjang hidupnya," ujarnya.
Kemudian Xiao Yibong menemukan jika situasi pada anak kucing juga terjadi di manusia. Dengan riset ini, General Manager Children Joy Education & Technology (Beijing) Co, Ltd, Changhai Chen, mengembangkan kartu hitam putih dengan Xiao Yibong. Feng menjelaskan jika anak semakin banyak melihat transisi hitam dan putih, maka penglihatan anak-anak akan lebih terangsang.
"Kartu ini telah masuk ke jutaan rumah dan menyelamatkan banyak mata anak-anak," ujar Feng.
Buku yang Mudah Digenggam Anak
Selain penglihatan, penerbit juga mempertimbangkan tangan anak. Mereka melihat jika perkembangan tangan anak belum leluasa hingga 3 bulan.
"Kita buat ini, potongan cincin hitam. Jadi dengan gerakan ini, Anda bisa melihat hitam dan putih berubah dengan sangat cepat," tuturnya.
Feng yakin jika buku adalah obat untuk memecahkan masalah perkembangan anak-anak. Meski anak datang dari berbagai belahan dunia, mereka membutuhkan hal yang sama.
"Pertumbuhan fisik, pertumbuhan emosional hal yang sama. Jadi kami membuat buku ini untuk anak-anak di seluruh dunia," tutupnya.
