Lembaga akademik tertinggi di China telah mengeluarkan rencana pengembangan AI hingga 2030 mendatang. Target ini untuk mengejar persaingan global di bidang sains dan teknologi.
Adapun lembaga yang dikenal sebagai Chinese Academy of Sciences itu telah menyusun cetak biru untuk pengembangan penelitian dan teknologi yang selaras dengan rencana lima tahun nasional ke-15 yang mencakup periode 2026 hingga 2030. Rencana tersebut berfokus pada inovasi di berbagai bidang, termasuk AI dan semikonduktor, sembari menekankan upaya pengembangan talenta ilmiah generasi mendatang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam rencana besar tersebut, China akan mengembangkan AI, teknologi kuantum, ilmu hayati dan bioteknologi, antarmuka otak-komputer, serta fusi nuklir terkendali sebagai bidang prioritas, di samping penelitian dasar dan lintas disiplin ilmu. AI juga akan digunakan untuk mengubah cara pelaksanaan penelitian ilmiah, di mana akademi berencana menerapkan teknologi ini pada sains dasar, teknologi strategis, dan pembangunan berkelanjutan.
"Rencana ini menjadikan transformasi penelitian ilmiah berbasis AI sebagai fokus utama dalam mempercepat terobosan inovasi sains dan teknologi, dengan upaya mendorong inovasi yang didukung AI di bidang-bidang utama," demikian seperti dikutip dari South China Morning Post, Selasa (29/9/2026).
Rencana ini juga menguraikan langkah-langkah untuk memperkuat sumber daya talenta ilmiah negara, termasuk pelatihan bagi ilmuwan strategis, insinyur papan atas, peneliti muda, dan tim inovasi. China berniat menarik talenta tinggi, baik dari dalam maupun luar negeri, untuk memperkuat kerja sama ilmiah internasional.
"Untuk menjadi kekuatan sains dan teknologi global, kita harus memperkuat penelitian dasar," ujar Presiden Xi Jinping dalam sebuah simposium di Shanghai pada tanggal 30 April lalu.
Persaingan Teknologi Cina dan Amerika
China dan Amerika Serikat saat ini tengah bersaing dalam tekologi mutakhir. Beberapa teknologi yang juga telah menjadi bidang fokus strategis bagi Amerika Serikat, termasuk bioteknologi, ilmu informasi kuantum, dan semikonduktor.
Di sisi lain, AS membatasi akses China terhadap semikonduktor canggih dan teknologi terkait, sementara China memberlakukan pengendalian ekspor atas logam tanah jarang dan mineral penting lainnya.
