Perjalanan hidup siapa yang dapat menebak, Rohmat Ansori yang dulunya alumnus S1 Kesehatan Massyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair), kini jadi pemilik peternakan dengan omzet sekitar Rp 250 juta per bulan.
Keberanian meninggalkan zona nyaman, perencanaan, dan ketekunan menjadi kunci Rohmat sukses dengan bisnisnya, Ansori Farm. Bisnis ini telah ia rintis sejak 1 Agustus 2018. Namun, sebelum menjadi pengusaha ayam petelur, ia sempat bekerja di bidang yang jauh berbeda.
Dari Perbankan ke Peternakan
Rohmat awalnya berkarier di Bank Mandiri pada 2011 lalu. Semula, mahasiswa angkatan 2006 ini merupakan pegawai kontrak dengan posisi Trade Service Assistant, yaitu bidang layanan terkait transaksi perdagangan. Kinerja yang bagus mengantarkannya menjadi pegawai tetap pada Agustus 2013.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tujuh tahun bekerja di sana, Rohmat melompat ke jalur lain. Pada Agustus 2018, ia memilih pensiun dini dan akhirnya membangun Ansori Farm.
Keputusan Rohmat bukan dilakukan semata ia ingin berganti pekerjaan. Ia bertekad memperbaiki kondisi keluarga sekaligus mendapatkan kebebasan finansial serta keleluasaan mengatur waktu.
"Saya keluar dari Bank Mandiri karena ingin mengubah nasib agar ekonomi keluarga menjadi lebih baik. Saya ingin menambah pendapatan sehingga dapat memiliki kebebasan finansial dan waktu. Jika bekerja kepada orang lain, kita terikat oleh waktu, sedangkan dalam berwirausaha kita memiliki kesempatan lebih besar untuk mengelola waktu dan menentukan arah usaha sendiri," jelasnya, dikutip dari Unair pada Jumat (25/9/2026).
Jatuh Bangun Membangun Ansori Farm
Tentunya kesuksesan Ansori Farm tidak instan. Rohmat menyebutkan tiga tantangan utama dalam bisnis ini yaitu kesehatan ayam yang memengaruhi langsung produksi telur, harga telur yang dapat truun di bawah harga pokok produksi, dan kenaikan harga pakan yang tdiak selalu diikuti kenaikan harga jual telur.
Demi menjaga produktivitas peternakannya, ia memprioritaskan kesehatan ayam melalui pemeliharaan secara optimal. Adapun langkah antisipasi untuk fluktuasi harga telur dan pakan, ia mempersiapkan dana cadangan yang bisa dipakai saat mengalami kerugian.
Ia juga mengakui pernah dalam situasi yang nyaris membuat usahanya terpuruk. Saat itu ia terlalu beramisi mengembangkan usaha tanpa dukungan perhitungan yang matang.
"Saya belum pernah benar-benar jatuh dan semoga tidak pernah. Namun, saya pernah hampir jatuh karena terlalu ambisius mengembangkan usaha tanpa perhitungan yang matang. Pengalaman itu mengajarkan saya bahwa keberanian harus tetap disertai kehati-hatian, evaluasi, dan pengelolaan risiko," ujarnya.
Namun, pengalaman itu justru jadi pembelajaran penting baginya. Ia semakin paham bahwa pertumbuhan usaha mesti dilakukan dengan terukur dan mempertimbangkan kemampuan modal, situasi pasar, biaya operasional, dan potensi risiko.
Latar belakang pendidikan FKM turut membentuk cara pandangnya dalam berusaha. Menurutnya, peternakan tidak hanya tentang menghasilkan keuntungan, tetapi juga berkaitan dengan kesehatan ternak, keamanan pangan, pemenuhan gizi masyarakat, pengelolaan risiko, dan keberlanjutan usaha.
Bagi mahasiswa atau generasi muda yang ingin berbisnis, ia berpesan agar mempersiapkan rencana usaha dengan baik. Rohmat menilai, rencana yang matang harus dilanjutkan dengan keberanian mengambil langkah pertama.
"Perencanaan sebelum membangun usaha itu penting, tetapi yang lebih penting adalah berani memulai usaha itu sendiri. Jangan hanya berhenti pada rencana. Mulailah, terus belajar, lakukan evaluasi, dan jangan mudah menyerah ketika menghadapi tantangan," ungkapnya.
