Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 19 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) bertugas di Kampung Abreso, Distrik Ransiki, Manokwari Selatan, Papua Barat. Melihat melimpahnya hasil tangkapan tuna, tim mengubah ikan tersebut menjadi abon.
Ide ini muncul agar ikan yang belum terjual tetap bermanfaat di masyarakat.Aisyah, anggotaTEP 19, menjelaskan masyarakat KampungAbreso memiliki kemampuan mengolah tuna menjadi abon. Namun, proses produksi masih dilakukan dalam skala rumahan dengan menggunakan peralatan dapur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi tersebut belum mampu memenuhi permintaan pasar. Sementara Aisyah melihat produk olahan ikan tuna berupa abon selalu habis terjual.
"Artinya, permintaan sudah ada, tetapi kapasitas produksinya masih terbatas," jelasnya dalam laman ITS, Minggu (27/9/2026).
Buat Alat Pengolahan Ikan Menjadi Abon
Karena itu, TEP 19 dengan dipimpin Dr Fahmi ST dari Departemen Teknik Kimia ITS ingin meningkatkan kapasitas melalui mekanisasi proses produksi. Peralatan yang disiapkan meliputi steamer, pencacah ikan, rotary cooker dan agitator vessel, spinner peniris minyak, hingga vacuum sealer. Tim berharap penggunaan peralatan tersebut dapat membuat proses produksi lebih higienis, efisien, dan menghasilkan produk dalam jumlah besar.
Tak hanya tuna, teknologi yang dikembangkan juga dapat dimanfaatkan untuk ikan pelagis dan cakalang. Diversifikasi bahan baku ini mendorong masyarakat untuk tidak bergantung pada satu jenis komoditas dan memperluas pilihan produk olahan.
Selain itu, tim juga mengadvokasi peningkatan nilai produk juga dilakukan melalui pengembangan desain kemasan. Tidak sekadar untuk menjaga produk, tetapi kemasan juga bisa meningkatkan daya tarik dan nilai jual abon untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Manokwari Masih Alami Pemadaman Listrik
Tantangan lain muncul dari Manokwari Selatan yang masih menghadapi pemadaman listrik. Untuk memastikan proses produksi tetap berjalan, peralatan yang dikembangkan dirancang agar dapat menggunakan dua alternatif, yakni listrik dan bahan bakar minyak (BBM).
Pendekatan ini diharapkan membuat usaha pengolahan ikan lebih adaptif terhadap kondisi setempat. Ketika listrik tersedia, peralatan dapat dioperasikan menggunakan energi listrik. Sementara saat terjadi pemadaman, sumber energi alternatif dapat digunakan.
Dorong Ekosistem Usaha
TEP 19 tidak hanya menargetkan peningkatan kapasitas produksi abon. Tim juga mengarahkan untuk membangun ekosistem usaha yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari nelayan, Kelompok Usaha Bersama (KUB), Badan Usaha Milik Desa (BUMDES), hingga masyarakat sebagai bagian dari rantai ekonomi lokal.
Dengan skema ini, ikan yang sebelumnya berisiko tidak terserap pasar kini memiliki masa simpan lebih panjang dan nilai ekonomi. Pengolahan abon juga membuka ruang bagi masyarakat untuk mengubah potensi sumber daya laut menjadi produk usaha yang dapat dipasarkan.
