Guruh Sukarno Putra yang wafat Sabtu (26/9/2026) pagi pernah mengkoreksi ejaan nama ayahandanya, sang proklamator Bung Karno. Apa katanya saat itu?
"Yang benar adalah Sukarno, dengan u, bukan Soekarno," tutur Guruh dalam acara Penerbitan Buku "Di Bawah Bendera Revolusi (Jilid II)" di Gedung Pola, Jakarta, Sabtu, 6 Juni 2015 lalu dikutip dari Antara, Sabtu (26/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Guruh kemudian membacakan kutipan pernyataan Bung Karno dalam buku biografinya berjudul "Sukarno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia" yang ditulis Cindy Adams, tepatnya halaman 32.
"Waktu di sekolah tanda tanganku dieja Soekarno, sesuai ejaan Belanda. Setelah Indonesia merdeka, aku memerintahkan agar semua oe diterjemahkan kembali menjadi u. Nama Soekarno menjadi Sukarno. Tetapi tidak mudah mengubah tanda tangan setelah berumur 50 tahun, jadi dalam hal tanda tangan aku masih menulis Soe," tuturnya.
Dilansir dalam laman PDIP Jatim, suatu ketika, tahun 1965, Bung Karno memprotes seorang wartawan Jerman yang menuliskan namanya dengan ejaan Soekarno.
"Tapi kenapa kamu tulis nama saya dengan ejaan OE?" Protesnya kepada sang wartawan.
"Tapi nama saya dengan ejaan SU. Ini yang benar," kata Bung Karno.
Polemik ejaan Sukarno atau Soekarno masih terjadi hingga saat ini. Nama bandara Soekarno - Hatta, jalan Soekarno, hingga uang pecahan Rp 100.000 terkini yang memuat gambar proklamator dengan tulisan Dr (HC) Ir Soekarno dan Dr (HC) Drs Mohammad Hatta.
Dampak Ejaan Van Ophuijsen
Penggunaan huruf 'oe' untuk pelafalan vokal 'u' merujuk pada ejaan Van Ophuijsen yang diciptakan Charles Adriaan van Ophuijsen, pakar bahasa Belanda. Selain 'oe', penggunaan huruf 'tj' untuk bunyi konsonan C, dan J untuk Y. Ejaan Van Ophuijsen ini berlaku sejak tahun 1901 hingga 1947.
Pasca Indonesia Merdeka, tepatnya tahun 1947, Menteri Pendidikan Soewandi merumuskan ejaan Indonesia. Belakangan dikenal juga sebagai 'ejaan Soewandi' yang berlaku hingga tahun 1972. Ciri ejaan ini diantaranya penggantian huruf 'oe' menjadi 'u'. Maka penulisan nama Soekarno menjadi Sukarno.
Pasca itu, penyempurnaan ejaan terus disempurnakan pemerintah, menjad Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dari 1972-2015 hingga Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) dari 2015-2022, hingga kembali lagi ke EYD edisi kelima (2022-sekarang).
Selain nama, dalam forum 6 Juni 2025 lalu itu Guruh juga meluruskan tempat kelahiran Bung Karno.
"Di buku-buku pelajaran sekolah dan ensiklopedia masih saja menyebutkan tempat lahir Bung Karno di Blitar, padahal sebenarnya di Surabaya," imbuh Guruh dalam acara yang sekaligus digelar untuk merayakan 114 tahun kelahiran Ir Sukarno itu.
Guruh, putra bungsu Sukarno yang juga maestro seni dan politisi ini mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit MRCCC Siloam Hospital Semanggi, Jakarta, pada Sabtu (26/9/2026) sekitar pukul 04.16 WIB dalam usia 73 tahun karena sakit, demikian dilansir dari detikNews.
Jenazah Guruh, rencananya akan dimakamkan di samping makam ibundanya, Fatmawati. Diketahui, makam Fatmawati berada di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Jakarta Pusat.
