Saat Pensi Anak SMP-SMA 'Mengekor' Swara Maharddhika Besutan Guruh Sukarno Putra

ADVERTISEMENT

Saat Pensi Anak SMP-SMA 'Mengekor' Swara Maharddhika Besutan Guruh Sukarno Putra

Nograhany Widhi Koesumawardani - detikEdu
Sabtu, 26 Sep 2026 10:05 WIB
Poster pertunjukan Swara Maharddhika
Foto: Buku
Jakarta -

Guruh Irianto Sukarno Putra, putra bungsu mendiang presiden pertama Sukarno, berpulang pada Sabtu (26/9/2026) pagi. Jejaknya memberdayakan anak muda via Swara Maharddhika hingga jadi trend setter pentas seni alias pensi anak SMP-SMA tidak pernah terlupa.

Tahun 1980-an, tepatnya 15-16 Juli 1987, Pagelaran Kolosal: Gempita Swara Maharddhika di Balai Sidang Senayan, Jakarta, menghentak Indonesia. Pertunjukan itu memperingati 10 tahun Swara Mahardhika yang dibentuk tahun 1977.

Dikutip dari buku "100 Konser Musik di Indonesia" yang ditulis Anas Syahrul Alimi dan Muhidin M Dahlan (2018), pagelaran itu menampilkan empat jenis kesenian sekaligus: tari, drama, musik, suara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kostumnya heboh, gebyar, gerakan lincah menyuguhkan pertunjukan ala broadway. Pertunjukan itu memantik budaya populer remaja baru.

Dari Kelompok Model Vokal Jadi Tren Budaya Populer

Awalnya Guruh membentuk Swara Maharddhika sebagai kelompok model vokal, anggotanya hanya segelintir anak muda. Semakin lama, anggotanya semakin banyak hingga menjadi kelompok pertunjukan seni yang menarik banyak penonton di setiap pertunjukannya.

ADVERTISEMENT

Ciri khas pertunjukannya: kolosal, tarian yang lincah, kostum yang meriah, tata lampu yang energik plus diiringi lagu-lagu karya Guruh yang menyentuh seluruh aspek kehidupan mulai dari cinta, nasionalisme hingga kritik sosial.

Istilahnya, remaja di era 70-80-an nggak gaul kalau nggak tahu Swara Mahardhika saat itu, apalagi buat yang bergabung. Sebutlah nama jebolan Swara Maharddhika yang sukses menjadi seniman ternama seperti Marissa Haque, Soraya Haque, Irianti Erning Praja dan sebagainya yang menjadi idola remaja di masa itu.

"Guruh Sukarno Putra dan Swara Maharddhika menjadi awal dari perjalanan kebangsaan saya, sejak usia 14 tahun. Di sanalah saya mulai mengenal Indonesia, melalui gerak tari, lantunan lagu, dan panggung-panggung besar yang menempa jiwa remaja. Dari sana pula tumbuh rasa kagum, cinta, dan kebanggaan pada negeri dengan budaya yang begitu kaya dan beragam. Perjalanan itu bukan sekadar tentang seni. Ia adalah perjalanan untuk mengenal Indonesia, merasakan denyut keberagamannya, dan belajar mencintai tanah air melalui budaya," tulis Soraya Haque dalam akun Instagramnya @sorayahaque pada 28 Agustus 2026 lalu.

Salah satu jebolannya yang terkenal adalah koreografer dan penyanyi Denny Malik, yang melesat di era 80-an dengan lagu "Jalan Sore". Lagu-lagu ciptaan Guruh pun ikonik yang dinyanyikan Vina Panduwinata, Tika Bisono hingga Chrisye.

Sejak ada Swara Maharddhika, pentas seni alias pensi anak sekolah di SMP-SMA saat itu meniru konsep pertunjukan Swara Maharddhika, demikian dituliskan dalam buku "Yang Nge-tren di Tahun 80-90-an" oleh Nicko Krisna (2016). Ciri khas budaya Indonesia dengan sentuhan modern yang 'dijahit' Guruh bisa tampil keren dan jadi trend setter.

Kampanyekan Kebaya ke Anak Muda

Dalam pertunjukannya, idealisme Guruh tersalurkan, seperti mengkampanyekan kebaya sebagai busana nasional. Guruh saat itu mengamati kecintaan remaja pada kebaya mulai pudar digeser tren kebarat-baratan seperti jeans dan kaus.

Sehingga pada pertunjukan kolosal 10 tahun Swara Mahardhika itu, Guruh merancang sendiri kebaya yang dipakai para penampil. Impian Guruh saat itu: kebaya jadi identitas nasional Indonesia, tak hanya dipakai di acara formal atau identik dipakai di masyarakat tradisonal di pedesaan atau pasar.

Meski bukan faktor pemengaruh tunggal, semua tahu, idealisme Guruh yang menjadikan kebaya sebagai pakaian sehari-hari sudah terwujud beberapa tahun terakhir ini. Tepatnya setelah 2020 hingga ditetapkan Hari Kebaya Nasional pada 24 Juli 2023 melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2023.

Swara Maharddhika sendiri dibububarkan Guruh pada 1987. Guruh pun mendirikan GSP pada 1989 sebagai gantinya. Namun jejaknya memberdayakan anak muda hingga menjadi trend setter tak pernah terlupa.



(nwk/nwk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads