Kenalan dengan Jordan, Penerima Duke of Edinburgh's Award Pertama dari RI

ADVERTISEMENT

Kenalan dengan Jordan, Penerima Duke of Edinburgh's Award Pertama dari RI

Nikita Rosa - detikEdu
Minggu, 20 Sep 2026 15:59 WIB
(Stephanus Jordan Jans merupakan penerima Duke of Edinburghs International Award pertama dari Indonesia.
Stephanus Jordan Jans merupakan penerima Duke of Edinburgh's International Award pertama dari Indonesia. (Foto: Nikita Rosa/detikEdu)
Jakarta -

Stephanus Jordan Jans merupakan penerima Duke of Edinburgh's International Award pertama dari Indonesia. Ia berhasil menyelesaikan tantangan dan meraih Gold Award selama masa sekolahnya.

Duke of Edinburgh's International Award adalah rangkaian pendidikan nonformal dan pengembangan diri global untuk generasi muda berusia 14 hingga 24 tahun. Dimulai pada tahun 1956 oleh Pangeran Philip dan ahli pendidikan Kurt Hahn, program ini mendorong peserta untuk membangun keterampilan dan berkontribusi bagi masyarakat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penghargaan ini terbuka untuk umum dengan tiga tingkatan:

Bronze: usia 14 tahun ke atas dengan durasi 3 bulan

ADVERTISEMENT

Silver: usia 15 tahun ke atas dengan durasi 6 bulan

Gold: usia 16 tahun ke atas dengan durasi 1 tahun.

Jordan sendiri menyelesaikan program Duke of Edinburgh's International Award selama menjadi siswa di Penabur Gading Serpong, Indonesia. Dimulai semasa SMP, Jordan berhasil meraih tiga penghargaan sekaligus hingga kategori Gold.

Ia merupakan satu-satunya perwakilan dari Indonesia dalam International Gold Event and Forum di Lagos, Nigeria. Bagaimana Jordan bisa mengikuti program ini?

Rekomendasi Guru

Jordan menceritakan bahwa ia mengetahui program ini dari guru sekolahnya. Awalnya, ia belum tahu akan jadi apa ke depannya.

"Saya pikir, oh iya, yang penting cari duit aja. Sampai sekarang saya tahu saya mau jadi apa. Saya bisa jadi diplomat, bisa kerja sama anak muda, bisa kerja di NGO. Dan itu proses dari sekolah saya yang tidak sebentar ya, 3 bulan, 6 bulan, 1 tahun, menjalani berbagai challenge yang dikasih dari award ini yang ternyata sampai sekarang saya masih rasakan gitu dampaknya," tuturnya kepada detikEdu ditemui usai World Cleanup Day 2026 di Universitas Atmajaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Minggu (20/9/2026).

Selama mengikuti program, Jordan didorong untuk aktif dalam kegiatan fisik, keterampilan, dan kerelawanan.

"Jadi 3 hal itu jadi core-nya dan kita harus melakukannya minimal 1 minggu sekali. Dan itu bebas, kita bisa milih, tergantung apa yang kita pengen lakukan," ujarnya.

Saat itu, Jordan memilihkerelawanan di sekolah dan tempat ibadah. Ia juga menekuni keterampilan bahasa baru.

"Mungkin kedengerannya gampang, tapi dari contoh pas SMP, dari 70 orang yang daftar, yang selesai itu cuma 10 orang. Karena memang ternyata nggak semudah itu, padahal memang bisa. Itu tergantung kita konsisten atau nggak," ungkapnya.

Untuk generasi muda yang ingin mencoba hal baru, Jordan berpesan bahwa perubahan dimulai dari diri sendiri. Mungkin ada yang ingin fokus mencari uang, tapi sia-sia jika tidak berusaha memberikan dampak bagi orang lain.

"Tapi sayang kalau kita nggak jadi impact bagi orang lain, kita bisa berdampak bagi orang lain, dan kita punya potensi yang banyak sekali. Kalau kita nggak pakai potensi itu, nggak discover potensi itu ya, buat apa kan? Dan ternyata dengan begitu juga, banyak reward yang didapat.Kita bisa ke mana-mana, bisa bertemu perspektif baru, bisa enjoy life, bisa enjoy apa pun yang kita lakukan," pesannya.



(nir/faz)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads