Mendikdasmen: Lulusan Kursus Bisa Jadi Diaspora Profesional, Ini Keunggulannya

ADVERTISEMENT

Mendikdasmen: Lulusan Kursus Bisa Jadi Diaspora Profesional, Ini Keunggulannya

Trisna Wulandari - detikEdu
Kamis, 17 Sep 2026 18:00 WIB
Peluncuran Dapodik Lembaga Kursus dan Pelepasan 2.452 Alumni LPK Bekerja ke Luar Negeri di LKP Puspita Martha International Beauty School, Jl KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Kamis (17/9/2026).
Peluncuran Dapodik Lembaga Kursus dan Pelepasan 2.452 Alumni LPK Bekerja ke Luar Negeri di LKP Puspita Martha International Beauty School, Jl KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Kamis (17/9/2026). Foto: Trisna Wulandari/detikcom
Jakarta -

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melepas sebanyak 2.452 alumni Pendidikan Kecakapan Kerja (PKK) di Jakarta pada Kamis (17/9/2026) untuk bekerja di Bulgaria, Turki, Malaysia, hingga Jepang. Para alumni sebelumnya menempuh pendidikan di 20 lembaga kursus dan pelatihan (LKP).

"Tidak hanya mereka bekerja sebagai profesional, tapi juga mereka menjadi bagian dari diaspora Indonesia yang mengangkat dan meningkatkan harga dan martabat bangsa dan negara," kata Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti.

Hal tersebut disampaikan Mu'ti pada Peluncuran Dapodik Lembaga Kursus dan Pelepasan 2.452 Alumni LPK Bekerja ke Luar Negeri di LKP Puspita Martha International Beauty School, Jl KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Keunggulan Human-Personal Engagement

Mu'ti mengatakan, kendati keterampilan teknis atau hard skill pekerja RI di luar negeri dapat digantikan oleh teknologi, pelayanan yang khas manusia menurutnya jadi kunci untuk terus bertahan.

ADVERTISEMENT

"Yang membuat kita tetap eksis adalah sentuhan kemanusiaannya," ucapnya.

Mu'ti mencontohkan, sepulang dari pertemuan menteri pendidikan ASEAN di Singapura, ia mendapati robot pelayan yang melayaninya di sebuat restoran. Kendati canggih, menurutnya layanan robot tidak dapat menggantikan interaksi dengan manusia.

"Tapi dasar robot ya robot, nggak ada robot tersenyum kan. Karena itu maka sentuhan kemanusiaan itu yang membuat teknologi tetap saja menjadi teknologi. Di sinilah kemudian berbagai hal yang menjadi kunci untuk kita bisa terus bertahan adalah our human and our personal engagement. Dan ini yang dimiliki oleh bangsa Indonesia dan ini yang menjadi keunggulan kita yang tidak bisa diganti oleh teknologi ya," ujarnya.

Karena itu, lulusan lembaga kursus dan pelatihan (LPK) di RI dari kursus keterampilan terapis spa, contohnya, dapat unggul daripada pijat mesin.

"Beda dengan kemudian kita dipijat oleh pijat professional, yang ada komunikasi, ada interaksi, dan itu yang tetap dicari manusia. Karena manusia tetap saja manusia, tidak bisa sepenuhnya dilayani oleh mesin, tidak bisa sepenuhnya dilayani oleh teknologi yang canggih," terangnya.

Untuk mendukung lahirnya lulusan kursus RI yang tidak tergantikan teknologi, ia juga menyoroti pentingnya muatan hard skill dan soft skill tersebut pada kurikulum. Di samping itu, muatan kewirausahaan menurutnya juga perlu masuk pembelajaran peserta kursus agar kelak dapat berkembang dari pekerja menjadi wirausahawan.

"Hard skill oke, soft skill harus, human and personal touch itu tidak boleh kita tinggalkan, dan itulah kelebihan kita sebagai bangsa Indonesia, sehingga ke depan saya kira model-model pelatihan kita itu harus diisi muatan-muatan entrepreneurship, di mana mereka yang bekerja tidak terus menjadi pegawai, tapi pada waktunya mungkin mereka juga akan meningkat menjadi pengusaha dan sebagainya," ucapnya.

Kursus Jadi Modal Kerja di Luar Negeri

Mu'ti mengatakan, integrasi data serta sinergi antara lembaga pendidikan nonformal dan formal penting untuk memungkinkan anak yang duduk di bangku sekolah maupun tidak bisa memiliki bekal dan kesempatan kerja di berbagai bidang, di dalam maupun di luar negeri.

"Karena banyak mereka yang sekolah itu tetap memerlukan keterampilan-keterampilan yang tidak diajarkan di sekolah karena keterbatasan waktu, juga mungkin karena memang pilihannya bukan bidang-bidang yang berkaitan dengan vokasi. Tapi yang di vokasi pun juga mereka tetap perlu untuk dapat punya pengalaman dan sertifikat di dunia kerja," ucapnya.

Ia mencontohkan, lulusan SMK maupun SMA juga bisa memiliki ijazah dan sertifikat pelatihan dari lembaga kursus dan pelatihan. Bekal ini memungkinkan lulusan pendidikan formal pun punya life skill.

"Tidak hanya bersifat akademik, tapi juga berupa keterampilan-keterampilan yang membekali mereka untuk dapat bekerja baik sebagai pegawai maupun sebagai entrepreneur, yang mereka menjadi wirausahawan yang mandiri dengan keterampilan yang mereka miliki," ucapnya.

Pelepasan pada Kamis (17/9) dikatakan Mu'ti merupakan kali ketiga dalam beberapa waktu terakhir di beberapa daerah, dengan total sekitar 7.000 alumni LPK dan SMK akan berangkat kerja ke luar negeri.

"Ini menunjukkan bagaimana kinerja dari lembaga-lembaga kursus dan juga kerja sama yang terbangun selama ini sehingga anak-anak Indonesia yang berkesempatan mengikuti pendidikan nonformal melalui kursus dan pelatihan dapat meraih mimpi-mimpi mereka, dan mudah-mudahan juga dapat sukses di tempat di mana mereka bekerja," ucap Mu'ti.



(twu/nah)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads