Natasha Shayla lulus dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan gelar sarjana pada pengujung Agustus 2026 lalu. Alumnus S1 Teknik Sipil ITB angkatan 2022 mengangkat isu aksesibilitas bagi disabilitas di kampusnya pada tugas akhir.
"Mungkin semoga penelitiannya bisa bermanfaat juga buat ke ITB, buat ke depannya. Pengembangan fasilitas-fasilitas bagi penyandang disabilitas," tuturnya dalam akun Instagram resmi ITB, Sabtu (12/9), diakses Selasa (15/9).
Mahasiswa Disabilitas di ITB
Natasha sendiri sehari-hari beraktivitas di kampus menggunakan kursi roda. Sejak masuk kuliah, ia mendapat penyesuaian pembelajaran ke ruang yang lebih dapat diakses bagi pengguna kursi roda.
Pada satu tahun pertama, mahasiswa baru ITB menjalani Program Tahap Persiapan Bersama (TPB), antara lain untuk menyamakan pemahaman pengetahuan dasar, serta memberikan pengetahuan dasar dan keterampilan, sehingga siap belajar di program studi yang akan dipilih, dikutip dari laman Direktorat Persiapan Bersama ITB.
Pada TPB, mahasiswa baru juga mengenal kehidupan kampus, proses adaptasi kultural dari siswa ke mahasiswa, proses pembelajaran, dan proses pematangan emosi dan perilaku dari remaja ke arah kedewasaan.
Sebagai mahasiswa Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL) ITB, Natasha semula dapat ruang kelas di lantai atas. Untuk mempermudah akses, ia kemudian dipindahkan belajar bersama mahasiswa fakultas lain.
"FTSL tuh dapat ruangannya beberapa di atas. Nah kalau ini tuh cuma akunya doang yang dipindahin jadi masuk ke kelas fakultas lain. Jadi kayak Matematikanya, Matematika anak FITB ( Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian). Praktikumnya sama anak MIPA (Fakultas Matematika dan IPA). Sebenernya agak kurang FTSL sih, merasanya jadinya," tuturnya.
Di tengah isu aksesibilitas ini, ia mengaku terkesan atas kebaikan rekan-rekan di kampus. Natasha bercerita, teman-temannya sempat membantu mengangkatnya di atas kursi roda lewat tangga saat tidak ada lift ke ruang kuliah.
"Yang cukup berkesan ya, kayak kalau harus diangkat-angkat gitu, dibantuin temen naik tangga. Bahkan tangga gedung SAPPK (Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan ITB) gitu-gitu," ujarnya.
"Liftnya ada, tapi ternyata cuma sampai lantai 5 dan kelasnya di GSG (Gedung Serba Guna) lantai 6. Terus waktu itu lagi puasa, tapi katanya kayak 'Yaudah gapapa,' gitu," sambung Natasha.
Isu Aksesibilitas di Tugas Akhir
Berangkat dari isu aksesibilitas di kampus, Natasha menggarap tugas akhir berjudul Analisis Konektivitas dan Aksesibilitas Jalur Pedestrian bagi Penyandang Disabilitas (Pengguna Alat Bantu Jalan) di kawasan Kampus ITB Ganesha.
Penelitian Natasha mengidentifikasi konektivitas dan aksesibilitas jaringan jalur pedestrian yang telah ada. Dari situ, ia juga merumuskan kebijakan perbaikannya.
Di samping analisis kuantitatif, ia juga melakukan analisis kualitatif dari wawancara dan hasil kuesioner ke warga kampus. Hasilnya menunjukkan, jaringan antarzona belum terhubung bagi penguna alat bantu jalan. Aksesibilitas ruas yang ada juga ditemukan masih terkendala.
Berdasarkan temuan tersebut, ia mengusulkan kebijakan perbaikan seperti pembangunan jalur beratap, perbaikan hambatan dan geometri ramp, dan penambahan curb ramp yang dapat membantu penyandang disabilitas.
Ia juga mengusulkan pengadaan rambu dan papan petunjuk di kampus. Pemasangannya dinilai dapat mendukung penyandang disabilitas beraktivitas dan berpindah secara mandiri di kampus.
Lanjut Kuliah
Natasha kini melanjutkan S2 melalui Program Integrasi Sarjana Magister (PISM) ITB. Jalur khusus ini memungkinkan mahasiswa meraih gelar sarjana dari kampus asal sekaligus gelar magister dari ITB dalam waktu total 10 semester atau 5 tahun.
Pada jenjang magister, Natasha bergelut di Program Studi (Prodi) Magister Sistem dan Teknik Jalan Raya (STJR), yang masih dinaungi FTSL ITB.
Bagaimana detikers, ingin masuk teknik sipil seperti Natasha? Selamat menyiapkan diri, ya!
Simak Video "Video: Ada 'Paus Raksasa' Terdampar di Pasar Seni ITB"
(twu/nwk)