Empat tahun menjalani perkuliahan di Institut Teknologi Bandung (ITB) menjadi perjalanan yang tak terlupakan bagi Natasha Shayla Afifah Djuharman.
Wisudawati Program Sarjana Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL) ITB angkatan 2022 itu menuntaskan studinya dengan segala tantangan yang menyertai kondisi fisiknya.
Natasha merupakan pengguna kursi roda sejak awal menjalani perkuliahan karena kondisi kesehatan degeneratif pada otot. Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya mengurungkan niat untuk menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia.Semangat Natasha, Wisudawati ITB yang Kuliah 4 Tahun dengan Kursi Roda
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebaliknya, selama menjalani kuliah, Natasha justru banyak menemukan dukungan dari teman-teman maupun dosen.
Dukungan itu membuatnya tetap dapat mengikuti berbagai kegiatan perkuliahan, termasuk kegiatan lapangan yang menjadi bagian dari pendidikan Teknik Sipil.
"Selama kuliah, alhamdulillah ketemu banyak teman-teman yang sangat baik dan suka membantu. Saat kuliah lapangan pun awalnya ragu untuk ikut, tapi teman-teman selalu mendukung. Jadi tetap bisa mengikuti kegiatan-kegiatan kampus," ujar Natasha saat ditemui selepas sesi wisuda ITB di Sasana Budaya Ganesha Bandung, Jumat (28/8/2026).
Meski demikian, hal tersebut bukan tanpa hambatan. Memasuki perkuliahan di jurusan Teknik Sipil, tantangan aksesibilitas masih ditemuinya.
Salah satunya adalah akses menuju ruang kelas yang pada awalnya belum seluruhnya dilengkapi jalur yang ramah bagi pengguna kursi roda. Namun, seiring waktu, kampus menyediakan akses yang lebih mendukung.
"Kalau untuk kegiatan perkuliahan sih sejauh ini aman. Mungkin awalnya memang akses ke kelas belum ada ramp, tapi sekarang sudah disediakan juga dari kampus. Jadi sudah oke," katanya.
Tantangan lain muncul ketika mahasiswa Teknik Sipil harus mengikuti kegiatan lapangan. Kondisi fasilitas di lokasi tujuan yang belum tentu aksesibel membuat Natasha harus menyesuaikan diri.
Namun, ia tetap berusaha mengikuti kegiatan tersebut semaksimal mungkin dengan bantuan teman-temannya.
"Kalau untuk kuliah lapangan memang agak susah karena di perusahaan-perusahaan tujuannya kadang belum aksesibel. Jadi ya diusahakan semaksimal mungkin," ungkapnya.
"Misalnya saat berangkat, saya pakai kendaraan pribadi yang memang sudah aman," lanjutnya.
Diangkut Naik Tangga
Ada satu hal yang paling dikenang Natasha ketika menjalani perkuliahan. Suatu ketika, ia dan teman-teman seangkatannya harus menjalani perkuliahan di gedung SAPPK ITB.
Awalnya, ia sempat mengira akses menuju ruang kelas akan mudah karena gedung tersebut memiliki lift. Namun, lift ternyata hanya mencapai satu lantai di bawah ruang kelas.
Untuk mencapai lantai teratas, mereka masih harus melewati tangga. Alhasil, selama perkuliahan berlangsung, teman-temannya bergantian membantu membopong Natasha menaiki tangga.
"Bukan cuma digendong orangnya, tapi sama kursi rodanya. Biasanya yang gendong itu berempat, dari depan dan belakang," kenang Natasha.
"Bahkan di jam-jam rawan bulan puasa, di siang hari, mereka masih mau bantu," lanjutnya seraya tersenyum.
Teliti Aksesibilitas Kampus
Berbagai pengalaman Natasha sebagai pengguna kursi roda pada akhirnya turut memengaruhi topik tugas akhir Natasha. Ia memilih meneliti aksesibilitas difabel pada lingkungan kampus.
Lewat penelitiannya yang berujudul "Analisis Konektivitas dan Aksesibilitas Jalur Pedestrian bagi Penyandang Disabilitas Pengguna Alat Bantu Jalan di Kawasan Kampus ITB Ganesha", ia meneliti secara langsung bagaimana akses fasilitas umum yang aksesibel bagi para difabel diterapkan di lapangan.
Ia bahkan harus berkeliling kawasan ITB Ganesha dari satu sisi ke sisi lainnya untuk melakukan pengukuran dan dokumentasi.
"Sebenarnya surveinya paling seminggu sudah beres. Cuma ternyata lumayan capek, keliling jalan-jalan di ITB, dibantu orang tua juga untuk mengukur dan mengambil dokumentasi kondisi fasilitas yang ada dari utara sampai selatan, barat ke timur," ujarnya.
Ada pengalaman menarik yang justru ia dapatkan dari proses tersebut. Selama menjadi mahasiswa, Natasha mengaku biasanya lebih banyak beraktivitas di area yang dekat dengan gedung jurusannya. Ia jarang menjelajah kawasan kampus secara keseluruhan.
Karena penelitian itu, ia akhirnya mengetahui lebih banyak mengenai kondisi jalan dan fasilitas di kawasan ITB Ganesha.
"Sukanya mungkin jadi lebih tahu. Bahkan mungkin baru tahu setelah mengerjakan skripsi ini, seperti apa jalan-jalan di kawasan kampus,"katanya.
Penelitian tersebut juga mendapat dukungan dari dosen pembimbingnya. Natasha berharap hasil penelitiannya dapat menjadi masukan bagi kampus untuk terus mengembangkan fasilitas yang semakin ramah bagi penyandang disabilitas.
"Harapannya penelitian ini bisa menjadi input juga buat kampus ke depannya. Karena fasilitasnya memang belum semuanya ada. Sebenarnya sudah ada di beberapa tempat dan sudah bagus juga, tinggal dikembangkan lagi supaya ke depannya semakin aksesibel di ITB Ganesha," ucapnya.
Ia pun berencana melanjutkan penelitian mengenai aksesibilitas tersebut saat menempuh pendidikan magister kelak. Ia ingin mengembangkan kajiannya lebih jauh agar ilmunya dapat bermanfaat.
"Rencananya akan dilanjutkan dan dikembangkan lagi di penelitian selanjutnya. Setelah ini memang berencana lanjut S2. Tapi ya masih harus dibicarakan arahnya lebih lanjut," tuturnya.
Di tengah padatnya aktivitas mahasiswa Teknik Sipil, Natasha juga punya cara sendiri dalam mengatur ritme belajar. Ia tidak memaksakan diri ketika kondisi fisiknya sedang menurun.
"Kenali diri kamu, paling cocok dengan metode belajar seperti apa. Membaca dan cari inspirasi dari strategi orang tidak apa-apa, tapi tetap kembali ke diri sendiri, mana yang paling cocok," paparnya.
Menurutnya, mahasiswa perlu mengenali batas kemampuan diri. Ketika kondisi sedang fit, tugas bisa dikerjakan semaksimal mungkin. Namun, istirahat tetap menjadi bagian penting dari perjalanan kuliah.
"Kalau memang lagi fit banget, usahakan kerjakan semaksimal mungkin tugas-tugasnya. Tetap tidur, tetap main, tetap senang-senang," ujarnya.
Bagi mahasiswa yang memilki kondisi serupa, Natasha berpesan agar dapat terbuka untuk meminta bantuan ketika diperlukan. Yakini bahwa masih banyak orang baik yang dapat menemani perjalanan dalam meraih mimpi.
"Takut tidak apa-apa di awal. Cuma jangan jadi tidak berani mencoba juga. Jalanin saja dulu. Karena nanti akan ada jalan-jalan lain yang akan membantu kita," pungkasnya.
Simak Video "Video: Ada 'Paus Raksasa' Terdampar di Pasar Seni ITB"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)
