Biarawati Ini Kuliah di Kampus Islam Yogyakarta, Diutus untuk Berbakti di RS Ternate

ADVERTISEMENT

Biarawati Ini Kuliah di Kampus Islam Yogyakarta, Diutus untuk Berbakti di RS Ternate

Devita Savitri - detikEdu
Jumat, 11 Sep 2026 15:30 WIB
Biarawati Katolik, Sebastiana Bwarleling, mahasiswa baru Unisa Yogyakarta.
Biarawati Katolik, Sebastiana Bwarleling, mahasiswa baru Unisa Yogyakarta. Foto: LLDikti Wilayah 5 Yogyakarta
Jakarta -

Perkenalkan, ini Sebastiana Bwarleling, seorang biarawati Katolik asal Kepulauan Tanimbar, Maluku yang jadi mahasiswa baru di salah satu kampus Islam Yogyakarta. Sebastiana siap menempuh program studi D3 Radiologi di Universitas 'Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta tahun ajaran 2026/2027.

Keputusannya menjadi maba Unisa bukan tanpa sebab. Ia merupakan anggota Kongregasi Suster-Suster Dina Santo Yoseph (DSY) Manado yang mendapat mandat untuk melanjutkan pendidikan.

Setelah melakukan persiapan, pencairan, dan berbagai pertimbangan, Sebastiana memilih Unisa Yogyakarta.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya memilih Unisa Yogyakarta karena mempunyai iman yang lebih dan bertoleransi tinggi di tempat ini dan juga terbuka bagi siapa saja, terlebih khusus bagi saya seorang biarawati juga diterima dengan baik di tempat ini," tuturnya dikutip dari laman LLDikti Wilayah V Yogyakarta, Jumat (11/9/2026).

ADVERTISEMENT

Akan Berbakti di Rumah Sakit Ternate Usai Lulus

Unisa menurut Sebastiana merupakan kampus yang unggul di bidang kesehatan. Kampus ini dinilainya juga memiliki fasilitas yang sangat memadai untuk program studi yang ia ambil, yakni D3 Radiologi.

Pilihan program studi D3 Radiologi disampaikan Sebastiana bukan semata-mata keputusan pribadi. Selama menempuh kuliah di Unisa, ia mendapat bantuan pembiayaan oleh Rumah Sakit Dharma Ibu Ternate, sehingga ia menyesuaikan kebutuhan rumah sakit.

"Memilih jurusan itu bukan pilihan saya, tetapi karena kebutuhan Kongregasi kami. Di rumah sakit kami diwajibkan untuk setiap unit itu harus dipegang oleh para suster. Di apoteker dan lain-lain sudah ada, tapi di radiologi belum ada," urainya.

Ketika lulus dari D3 Radiologi Unisa, Sebastiana akan kembali ke Ternate untuk mengembangkan layanan kesehatan di rumah sakit yang dikelola kongregasinya.

"Jadi saya diutus untuk berkuliah radiologi untuk bisa kembali mengembangkan rumah sakit kami yang ada di Ternate," imbuh Sebastiana.

Terbiasa dengan Keberagaman

Meski memiliki latar belakang agama yang berbeda dengan mahasiswa Unisa, Sebastiana mengaku tidak mengalami kesulitan dalam proses adaptasi. Pengalaman di Rumah Sakit Ternate menurutnya sangat membantu untuk bersosialisasi dengan masyarakat yang memiliki latar belakang beragam.

"Kalau saya pribadi mau bersosialisasi sudah terbiasa. Di Ternate, kami punya mayoritas karyawannya masih dibilang 90 persen Islam. Jadi untuk mau beradaptasi atau mau bersosialisasi dengan yang lain saya sudah terbiasa," ungkapnya.

Dibanding agama, umur menjadi tantangan nyata yang dihadapi Sebastiana. Ia menyebut, teman-temannya di Unisa merupakan lulusan baru SMA sedangkan ia telah bergabung dalam kongregasi sejak 2015.

Oleh karena itu, Sebastiana sempat merasa canggung ketika harus berbaur. Namun, ia sangat diterima oleh teman-teman barunya, sehingga proses adaptasi berjalan dengan baik.

Melihat keberagaman yang ada di kampusnya, Sebastiana berharap Unisa Yogyakarta bisa dapat mempertahankan hal tersebut. Ia sangat meyakini bila kampusnya itu punya tingkat toleransi yang tinggi.

"Harapan saya semoga hal baik yang telah dikembangkan oleh universitas bisa ke depannya dikembangkan lebih baik lagi. Walaupun saya dari agama lain, tetapi saya merasa bahwa tempat ini mempunyai toleransi yang tinggi," ucap Sebastiana.

Unisa Terima Puluhan Mahasiswa Nonmuslim

Rektor Unisa Yogyakarta, Warsiti menyebut bukan hanya Sebastiana yang menjadi mahasiswa nonmuslim kampusnya. Pada penerimaan 2026/2027, Unisa menerima 2.878 mahasiswa baru dari latar belakang daerah, budaya, dan agama beragam.

Tercatat ada puluhan mahasiswa nonmuslim yang berasal dari agama Hindu, Katolik, dan Kristen. Mahasiswa baru ini tersebar dari 34 provinsi di Indonesia dan empat negara lain, yakni Palestina, Timor Leste, Nigeria, dan Thailand.

Warsiti menegaskan, keberagaman adalah kekayaan yang perlu dijaga di Unisa Yogyakarta. Perbedaan daerah asal, budaya, bahasa, maupun latar belakang ditekankannya bukan sebuah penghalang untuk membangun lingkungan akademik yang saling menghormati.

"Mahasiswa didorong untuk belajar dan memperluas pengetahuan, mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, serta tumbuh dengan integritas dan toleransi. Pada akhirnya, ilmu dan profesi yang ditekuni diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat," tegas Warsiti.



(det/twu)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads