Cerita Retno Marsudi Ingin Jadi Diplomat Sejak Sekolah, Ini Kiatnya

ADVERTISEMENT

Cerita Retno Marsudi Ingin Jadi Diplomat Sejak Sekolah, Ini Kiatnya

Trisna Wulandari - detikEdu
Rabu, 02 Sep 2026 12:30 WIB
Menlu RI 2014-2024 Retno Marsudi
Menlu RI 2014-2024 Retno Marsudi. Foto: Trisna Wulandari/detikcom
Jakarta -

Mantan Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi dikenal sebagai Menlu perempuan pertama Indonesia. Ia bahkan menjabat selama dua periode, yakni pada 2014-2024.

Sebelum menjadi menlu, Retno mengantongi berbagai pengalaman menangani urusan hubungan RI dengan negara-negara lain sebagai diplomat setelah bergabung menjadi PNS di Kementerian Luar Negeri (Kemlu) sejak 1986. Rupanya, keinginan jadi diplomat ini sudah tumbuh sejak sekolah.

Dari Tontonan di TV

Perempuan yang lahir dengan nama Retno Lestari Priansari ini menuturkan, inspirasi untuk menjadi diplomat tumbuh sejak SMA saat menonton tayangan di televisi. Rangkaian berita menunjukkan bagaimana diplomat dapat berperan penting, termasuk dalam menjaga perdamaian.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya lihat TV. TV dulu itu cuma ada TVRI (Televisi Republik Indonesia). Jam 9 itu ada 'Dunia dalam Berita'. Saya lihat para diplomat negosiasi, kemudian pakai jas. Jadi dari kekaguman seorang anak kecil terhadap apa yang dia lihat di TV itu menjadikan dia memiliki cita-cita. 'Oh banyak ya yang bisa dilakukan oleh diplomat, terutama adalah untuk menjaga perdamaian'," tutur perempuan kelahiran Semarang, 27 November 1962 ini.

Hal tersebut ia sampaikan di sela peresmian beasiswa pascasarjana Jardine Foundation & Universitas Gadjah Mada di Mandarin Oriental Hotel, Senin (31/8/2026), ditulis Rabu (2/9/2026).

ADVERTISEMENT

Merencanakan Jalan Menjadi Diplomat

Retno mengakui diplomat saat itu belum banyak dikenal orang-orang di sekitarnya, tidak seperti profesi dokter atau tentara. Namun, ia menguatkan tekad untuk meraih cita-cita ini.

"I wanted to be a diplomat. Jadi dari situ kemudian saya mencoba untuk menggambar, merencanakan perjalanan yang harus saya tempuh itu seperti apa," tuturnya.

Untuk menjadi diplomat, Retno pun berencana menempuh pendidikan tinggi di bidang ilmu hubungan internasional. Ia bersyukur karena orang tuanya mendukung usahanya lewat pendidikan dan memperlakukan anak perempuan dengan laki-laki secara setara.

"Orang tua saya menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama. Tanpa pendidikan, saya tidak akan mampu meraih impian saya sebagai diplomat," tutur anak guru dan tenaga kependidikan ini.

Dengan dukungan keluarga, perjalanan Retno tak lantas mulus. Alumnus SMAN 3 Semarang ini harus berusaha agar dapat diterima di perguruan tinggi negeri agar biaya kuliahnya masih dapat ditanggung orang tua.

"Saya anaknya orang yang bukan kaya sama sekali, hidup saya sangat-sangat sederhana. Jadi keluarga sederhana dari Semarang mau jadi diplomat, itu gap-nya itu besar sekali. Jadi saya harus merencanakan dengan baik," tuturnya.

Namun, lantaran PTN di kotanya seperti Universitas Diponegoro (Undip) saat itu belum memiliki jurusan hubungan internasional, pilihannya berlabuh di Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta.

"Harus masuk ke universitas negeri, karena kalau nggak, ibu saya nggak bisa bayar. Jadi saya ke UGM," sambungnya.

Semasa kuliah di UGM pada 1981-1985, ia berupaya tekun belajar dan menjaga prestasi akademik. Sementara itu, hiburannya di akhir pekan yakni naik gunung dan ke perpustakaan. Hobi ini mempertemukannya dengan juru kunci Gunung Merapi, almarhum Mbah Maridjan, jika sedang naik gunung yang ada di antara DIY dan Jateng ini.

"Weekend saya ke perpustakaan atau weekend saya ada di gunung. Dan saya ke gunung itu bisa dikatakan hampir setiap minggu. Every weekend, walaupun tidak harus ke puncak ya, tapi pokoknya saya sampai tempat--kalau ingat almarhum Mbah Maridjan, Mbah Maridjan itu adalah teman saya," kenangnya.

Menjadi PNS Kemlu

Retno kemudian mengikuti seleksi masuk Kemlu. Ia bercerita, saat itu Kemlu mencari mahasiswa dengan indeks prestasi (IP) tinggi dan memenuhi persyaratan lainnya untuk menjalani seleksi.

"Sebelum selesai, dicari anak-anak yang dinilai IP-nya tinggi dan sebagainya, terus tesnya itu berlapis sekali, sampai akhirnya--sekali lagi rezeki saya--kemudian saya diterima," tuturnya.

Sejak masuk Kemlu pada 1986 dan menjadi PNS, ia antara lain bertugas di Kedutaan Besar (Kedubes) Indonesia di Canberra pada 1990-1994 dan Den Haag pada 1997-1981.

Retno kemudian menjabat sebagai sebagai Direktur Kerjasama Intra dan Antar Regional Amerika dan Eropa pada 2001-2003, diteruskan dengan menjadi Direktur Eropa Barat pada 2003-2005.

Sebelum menjadi menlu, Retno juga sempat menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Norwegia dan Republik Islandia pada 2005-2008, dilanjutkan dengan menjadi Direktur Jenderal Amerika dan Eropa pada 2008-2012.

Pesan Ibu-Kunci Pendidikan

Retno menuturkan, perjalanannya tak mulus untuk menjadi diplomat. Namun, ia ingat pesan ibunya untuk tidak berputus asa.

Bagi Retno, nilai kedua orang tuanya untuk mengutamakan pendidikan juga tertanam kuat pada dirinya. Untuk itu, ia menilai penting untuk berinvestasi dalam pendidikan untuk menggapai cita-cita dan tujuan.

"I was nobody. Saya bukan siapa-siapa. Tapi, ibu-bapak saya memilih pendidikan sebagai top priority. Tanpa pendidikan, saya tidak akan berhasil mencapai impian saya. Dalam perjalanan saya, saya menemukan banyak tantangan. Tapi ibu saya selalu mengatakan, 'Jangan berputus asa', dan saya tidak berputus asa," tuturnya.

Retno mengatakan, pendidikan juga merupakan kunci untuk memutus siklus ketimpangan dan meningkatkan taraf hidup. Dengan bekal pendidikan, ia menjelaskan, orang jadi berani bermimpi besar, mengembangkan potensi, dan menciptakan peluang yang lebih baik bagi dirinya dan keluarga, serta berdampak dan memajukan sekitarnya.

Alumnus UGM ini kini menjadi Senior Advisor Jardine Foundation, yayasan pendidikan dari perusahaan investasi Jardine Matheson. Setelah memberikan beasiswa pascasarjana di University of Oxford dan University of Cambridge, Inggris, yayasan ini juga membuka beasiswa Jardine di UGM setiap tahun akademik.

"Dalam pembicaraan (dengan UGM), ada pembicaraan mengenai mentoring, dan saya bilang 'I'm more than happy to be one of the mentors untuk anak-anak'," tutur Retno.



(twu/nwk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads