Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) banyak terjadi di beberapa titik kawasan Indonesia selama musim kemarau ini. Terbaru, karhutla parah tengah terjadi di Kalimantan.
Untuk mengatasi masalah karhutla tersebut, Universitas Islam Negeri (UIN) Palangka Raya menciptakan inovasi canggih berupa drone pendeteksi titik api. Inovasi ini dapat memetakan titik api di lahan gambut.
Pengembangan teknologi tersebut menjadi bagian dari Crisis Command Center (CCC) Karhutla UIN Palangka Raya. CCC dikembangkan lewat riset berjudul Development of AI Camera-Equipped Drone System for Targeted Peatland Fire Control and Disaster Mitigation During Extended Dry Seasons in Kalimantan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tim riset dan pengembang drone dipimpin oleh Muhammad Nasir bersama Jhelang Annovasho, Zulya Desmita, dan Fitriyani dari UIN Palangka Raya serta Faisal Ashari dari Universitas Bojonegoro.
Lawan Fenomena Api 'Bawah Tanah'
Pengembangan drone AI ini bukan tanpa alasan. Salah satu tantangan terbesar di lahan gambut Kalimantan adalah fenomena smouldering.
Smouldering adalah fenomena di mana kebakaran berlangsung di bawah permukaan lahan sehingga sulit terlihat secara visual. Oleh karena itu, deteksi potensi kebakaran lebih awal menjadi penting dilakukan.
Dengan integrasi AI dan drone, pemantauan lebih memungkinkan di wilayah yang sulit dijangkau. Drone dengan kecerdasan buatan (AI) juga dapat mendukung mitigasi lewat pengangkutan air dan peralatan pembasahan untuk evakuasi.
Drone Berbasis AI
Seiring dengan berkembangnya AI, tim riset menggunakan teknologi tersebut untuk drone. Dengan AI, deteksi juga bisa dilakukan lebih cepat.
"Kami ingin teknologi ini tidak berhenti di laboratorium. AI dan drone ini dikembangkan untuk membantu mendeteksi titik rawan lebih cepat, sehingga pencegahan dan penanganan karhutla dapat dilakukan sebelum kebakaran meluas," ujar Jhelang dikutip dari laman Kemenag, Minggu (23/8/2026).
Pengembangan drone ini akan dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama, tim akan fokus merancang sistem, mengumpulkan dataset, dan melatih model AI.
"Sistem AI nantinya diintegrasikan dengan edge computer yang dipasang pada drone. Dengan sistem ini, pemrosesan data dapat dilakukan langsung saat drone beroperasi di lapangan sehingga potensi smouldering maupun kemunculan api dapat diidentifikasi lebih cepat," papar Jhelang.
Pengembangan teknologi ini didukung oleh Program Riset Indonesia Bangkit Kementerian Agama atau MORA The AIR Funds. Tim berharap pengembangan drone bisa cepat selesai.
