Tren pasar kerja semakin menantang bagi lulusan baru dan pekerja pemula. Laporan menunjukkan bahwa sarjana kesulitan mendapatkan pekerjaan. Kenapa?
Di Indonesia, Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Badan Pusat Statistik (BPS) per Mei 2026 mengungkapkan bahwa jumlah penganggur mencapai 7,22 juta orang. Lulusan D4-S1 menyumbang angka pengangguran cukup tinggi mencapai 14,31% atau sekitar 1,033 juta orang.
Tidak hanya di Indonesia, survei pada Juni dan Juli 2026 dari Cengage Group menemukan bahwa hanya 30 persen lulusan sarjana di Amerika Serikat pada musim semi 2025 mendapatkan pekerjaan tetap. Sementara sisanya, banyak yang belum dan/atau hanya mendapatkan pekerjaan yang tidak stabil.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut data dari Departemen Tenaga Kerja AS, tingkat pengangguran untuk lulusan perguruan tinggi berusia 20 hingga 24 tahun rata-rata 6,6% selama 12 bulan terakhir hingga Mei 2025, demikian dilansir American Society of Employers.
Persaingan Lebih Ketat
Tren pasar kerja secara global telah berubah seiring meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan atau AI. Banyak pekerjaan yang tadinya ditempati oleh lulusan baru kini dikerjakan oleh AI.
Di sisi lain, perusahaan telah memiliki kriteria baru dalam perekrutan, termasuk soal pengalaman yang harus dimiliki pekerja minimal 3-5 tahun. Sementara para lulusan baru, mayoritas belum memiliki pengalaman profesional.
Kondisi ini menyebabkan lulusan baru semakin sulit mendapatkan pekerjaan. Ekonom senior dari AS, Nich Tremper, mengatakan kondisi ini disebabkan oleh tren pasar kerja pascapandemi pada 2021 dan 2022.
Pada masa itu, banyak perusahaan menawarkan gaji tinggi untuk memperebutkan talenta pekerja yang memiliki skill mumpuni.
Banyak Pekerja 'Lama' yang Sudah Nyaman
Berkat peninggalan tren pasar kerja sebelumnya, banyak orang tidak mencari posisi baru. Mereka bertahan dengan gaji tinggi meski tidak naik pangkat.
Hal ini membuat lowongan pekerjaan baru tidak ada. Para lulusan baru menjadi semakin sulit mendapatkan kesempatan untuk bekerja.
"Tanpa adanya lowongan pekerjaan baru, sulit bagi karyawan tingkat pemula untuk mendapatkan kesempatan dan memulai karier mereka," kata Tremper, dikutip dari CNBC.
Kondisi ini juga berdampak pada lulusan SMA/SMK sederajat. Karena susah mendapatkan pekerjaan, lulusan sarjana menurunkan standar mereka dan mengejar pekerjaan dengan syarat lulusan SMA/SMK.
Kondisi di Indonesia
Persaingan yang ketat di Indonesia juga menyebabkan lulusan SMA/SMK menjadi kelompok yang paling banyak menyumbang pengangguran. Menurut data BPS per Mei 2026, jumlah penganggur lulusan SMA mencapai 28 persen (dari 7,22 juta) atau sekitar 2,02 juta orang. Sementara lulusan SMK mencapai 1,61 juta penganggur.
Menurut Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM), Agus Sartono, dengan adanya lulusan SMA, diploma, dan sarjana setiap tahunnya, jumlah pencari kerja bisa mencapai 10,67 juta orang. Persaingan semakin ketat karena lulusan kampus masuk ke pasar kerja yang gajinya rendah agar tidak menganggur.
"Bayangkan, dengan menurunnya level akibat kurangnya kesempatan kerja, gaji yang diterima hanya cukup untuk bertahan dan tidak sempat menabung," ujar Agus.
Pekerja Muda Tetap Optimis
Sementara itu, dalam tren global, para lulusan baru dan pekerja muda mulai banyak yang meninggalkan kantoran. Mereka memilih berkarier di bidang keahlian tertentu seperti menjadi teknisi, berbisnis, hingga bekerja di bidang konstruksi.
Meski akhirnya gelar sarjana tidak dipakai dalam pekerjaan, kuliah dinilai tetap bermanfaat untuk belajar keterampilan seperti manajemen waktu. Selain itu, kuliah juga melatih keterampilan hidup.
"Ada aspek-aspek tertentu di perguruan tinggi yang mengajarkan Anda hal-hal yang tidak bisa Anda dapatkan di tempat lain, seperti manajemen waktu," kata Chris Henderson, lulusan sarjana manajemen bisnis di AS yang bekerja sebagai teknisi listrik.
"Saya pikir perguruan tinggi benar-benar merupakan jalur yang bagus untuk benar-benar mengetahui apa gairah sejati Anda," tambahnya.
Meski banyak tantangan, pekerja muda dinilai masih optimis dalam mencari kerja yang sesuai dengan gelar. Bahkan, banyak dari pencari kerja muda berusaha mendapatkan keterampilan yang mampu mendukung kemajuan karier jangka panjang serta mengembangkan potensi mereka.
