Cerita Fatih, Calon Paskibraka Asal Sumbar yang Alami Banjir Sumatera

ADVERTISEMENT

Cerita Fatih, Calon Paskibraka Asal Sumbar yang Alami Banjir Sumatera

Trisna Wulandari - detikEdu
Kamis, 13 Agu 2026 09:30 WIB
Fatih, Calon Paskibraka Asal Sumbar yang Alami Banjir Sumatera
Fatih, Calon Paskibraka Asal Sumbar yang Alami Banjir Sumatera. Foto: Trisna Wulandari/detikcom
Jakarta -

Banjir dan longsor besar melanda tiga provinsi di Pulau Sumatera, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat (Sumbar) pada November 2025. Di Kabupaten Agam, Sumbar, peristiwa ini menimbulkan tidak kurang dari 192 korban jiwa.

Ahmad Alfatih, Calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Capaska) tingkat pusat tahun 2026 asal Sumbar, menjadi saksi peristiwa banjir dan longsor di sana. Di tengah masa penanganan bencana, kabar seleksi paskibraka muncul.

Sekolah di Dekat Danau dan Bukit

Fatih, panggilannya, bersekolah di SMAN Agam Cendekia, Kabupaten Agam, Sumbar. Sekolah berasrama semi militer untuk siswa bertalenta ini tidak hanya dikenal unggul secara akademis dan pembinaan kedisiplinan, tetapi juga karena keindahannya.

Ia menuturkan, sekolahnya bersebelahan dengan bukit dan berhadapan dengan Danau Maninjau. Namun, longsor dan banjir besar (galodo) pada peristiwa banjir Sumatera merusak sebagian bangunan sekolah hingga asrama.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi ketika malam hari, sungai udah mulai keruh, dan air-airnya turun. Udah tanah semuanya. Jam 10 malam, udah mulai turun tanah sebagian. Terus pada saat itu kami panik semuanya," tuturnya pada detikEdu, ditulis Kamis (13/8/2026).

Seleksi Paskibraka Tingkat Sekolah

Para siswa kemudian dipulangkan ke daerah asal masing-masing sampai pembelajaran luring dapat digelar kembali. Fatih pun kembali ke Kabupaten Pasaman, Sumbar.

ADVERTISEMENT

Di sana, ia mendapat pengumuman seleksi paskibraka. Fatih termasuk salah satu siswa yang diundang untuk mengikutir registrasi seleksi paskibraka tingkat kabupaten/kota oleh senior, bukan oleh.

Fatih menuturkan, mekanisme pemilihan oleh senior ini diprotes oleh teman-temannya, sehingga ia pun mengikuti pemilihan ulang untuk seleksi tingkat sekolah.

"Pas udah sekolah kembali, itu seleksi sekolah kata teman-teman nggak adil. Jadi harus ada pemilihan ulang. Jadi diteslah dari fisik, mulai dari sekolah," jelasnya.

Fatih mengaku semula ragu atas peluang lolos di seleksi tingkat sekolah. Terlebih, sejumlah temannya memiliki tinggi badan 179 cm hingga 181 cm, sementara dirinya tinggi 177 cm.

Latihan, Belajar, dan Bekal Prestasi

Namun, ia menyemangati diri untuk dapat memaksimalkan diri dalam aspek lainnya. Sejak tiga bulan di rumah pascabencana Sumatera, atlet siswa cabor atletik ini giat berlatih fisik sambil mencicil belajar untuk ikut Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) dan Tes Intelegensia Umum (TIU).

"Ketika tiga bulan di rumah itu, Fatih berlatih. Fatih atlet Pasaman. Jadi, latihannya barengan atlet, dan (tes) intelejensinya (TIU) malam-malam, dari jam tujuh sampai jam sepuluh, itu rutin per harinya membahas TWK-TIU," kata atlet cabor atletik nomor lempar cakram dan lempar lembing ini.

Fatih menuturkan, ia juga semasa SMP ikut Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN). Pada ajang tersebut, ia meraih juara satu cabang atletik nomor tolak peluru se-Kota Padang. Pengalaman dan prestasinya turut jadi bekal dalam seleksi calon paskibraka.

Bekal PBB dan Pramuka

Sejak SMP, Fatih rupanya juga sudah mengenal paskibra. Ia dan teman-teman mewakili sekolah untuk menjalani Lomba Keterampilan Baris-berbaris (LKBB) tingkat provinsi. Dari pengalaman ekskul dan kompetisi ini ia mulai berlatih peraturan baris-berbaris (PBB).

Di samping melatih kecakapan terkait PBB dan paskibra, Fatih juga belajar kerja sama hingga kedisiplinan di Pramuka. Di Pramuka, ia aktif hingga menjadi Pemimpin Regu Utama (Pratama).

"Karena dua itu, setelah lulus SMP, ketika masih SMA, saya punya tujuan. Saya mau ikut seleksi paskibraka," tuturnya.

Berlatih Konsisten-Jangan Lupa Doa

Seperti calon paskibraka lainnya, Fatih pun menjalani seleksi tingkat kabupaten,seleksi tingkat provinsi, dan verifikasi pusat, sampai namanya diumumkan menjadi salah satu dari 76 capaska tingkat pusat yang mewakili 38 provinsi tahun ini. Psikotes, tes fisik, PBB dan parade, hingga seleksi wawasan kebangsaan dan intelegensia umum dilaluinya.

Memasuki latihan capaska tingkat pusat, bagi Fatih, konsistensi jadi kunci agar fokus belajar dan berlatih fisik. Diketahui, calon paskibraka tidak hanya berlatih pengibaran bendera dan berlatih fisik, tetapi juga belajar tentang negara, kebangsaan, hingga ideologi.

Selama belajar dan berlatih, capaska tidak memegang HP, yang mana dititipkan ke panitia. Kontak darurat dengan keluarga dapat dilakukan melalui pengasuh.

Fatih mengakui, latihan intens dan jadwal yang padat setiap hari terkadang membuat lelah. Jauh dari keluarga pun baginya membuat hari terasa agak lebih berat, sementara harus beradaptasi dengan lingkungan dan teman-teman baru. Namun, ia berupaya menenangkan diri dengan berdoa.

"Kita di sana tidak ada HP, kita cuma fokus belajar dan melatih fisik. Kita maksimalin di sana Dan teman-teman jangan lupa satu, berdoa sesuai agama masing-masing. Kalau Fatih, Islam, kalau kita lagi stres, kita lagi lelah, depresi, semuanya, kita berdoa, ketika baca Al-Quran itu hati kita tenang," tuturnya.

"Dan satu lagi, untuk di tingkat pusat, setiap masing-masing provinsi mengutus utusannya ke tingkat pusat, dan kita melihat budaya yang berbeda. Dan kita di sini harus menyatukan budaya itu sebagai satu kesatuan. Di sana kita akan menyadari bahwa Indonesia ini beragam, Indonesia ini kaya," imbuhnya.

Ingat Tujuan

Fatih menambahkan, ia sendiri giat berusaha untuk masuk paskibraka agar dapat lebih mempersiapkan diri dalam seleksi masuk Akademi Kepolisian (Akpol), Akademi Militer (Akmil), dan instansi pendidikan kedinasan lainnya. Di samping telah berlatih secara fisik, ia juga sudah belajar wawasan kebangsaan, nasionalisme, hingga materi intelejensia umum.

"Kita nggak cuma fisik harus kuat, tapi ilmu juga harus ada," tuturnya.

Bagi adik-adik pelajar yang ingin menjadi anggota paskibraka selanjutnya, ia berpesan untuk tetap semangat dan selalu berdoa.

"Bagi teman-teman yang (di) asrama, atau adik-adik yang asrama, tetap semangat, khususnya untuk provinsi Sumatera Barat. Besoknya harus tampil lebih bagus daripada tahun sekarang," ucapnya.

Ingin mengikuti jejak Fatih, detikers? Selamat belajar dan berlatih!



(twu/nah)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads