Bagi siswa yang ingin menjadi anggota pasukan pengibar bendera pusaka (paskibraka), tinggi badan menjadi salah satu syarat yang diperhatikan sejak awal. Kondisi tersebut tak jarang membuat peserta membandingkan postur tubuhnya dengan peserta seleksi lain.
Hal tersebut dituturkan salah satu anggota calon paskibraka (capaska) tingkat pusat 2026 dari Sulawesi Selatan, Taswina Putri. Persoalan tinggi badan membuatnya sempat insecure dan ragu bisa terpilih jadi anggota paskibraka sejak seleksi tingkat kabupaten.
Kendati sempat merasa peserta lain lebih unggul dari tinggi badan dan aspek fisik lainnya, ia berusaha menanamkan semangat untuk tetap maju.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tetap maju, walaupun di depan itu banyak yang lebih dari saya sendiri. Habis itu saya menjalani tes, di Pantukhir (pemantauan akhir) itu, yang ranking 1, alhamdulillah nama saya disebut, dan diumumkan tiga putera, tiga puteri untuk melanjut ke verifikasi," tuturnya pada detikEdu, ditulis Rabu (12/8/2026).
"Di (tahapan) verifikasi saya merasa sangat bangga karena bisa bertemu dengan (perwakilan) provinsi-provinsi lain, 38 provinsi," imbuh siswa SMAN 1 Bone ini.
Apa Saja Tes dan yang Dinilai di Seleksi Paskibraka?
Syarat Usia dan Nilai Akademis
Wakil Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Dr Rima Agristina, SH, SE, MM menjelaskan, rangkaian seleksi paskibraka tingkat nasional dimulai dengan pendaftaran daring secara terbuka untuk semua siswa se-Indonesia.
Sejumlah syarat yang perlu dipenuhi yakni terkait rapor, tinggi badan minimal 165 untuk putri dan 170 untuk putra, izin dari kepala sekolah dan orang tua, kesehatan, sedang duduk di kelas 10 saat mendaftar, dan usia.
Rima menjelaskan, usia juga menjadi salah satu pertimbangan untuk memastikan siswa tidak hanya memiliki kesiapan fisik, tetapi juga kesiapan mental dalam bertugas di hadapan peserta upacara di Istana Merdeka dan warga RI yang menyaksikan dari layar kaca.
Sementara itu, izin dari kepala sekolah juga dinilai bantu memastikan siswa memiliki kemampuan akademis yang memadai untuk menjalani pembelajaran dan pelatihan paskibraka.
"Ini adalah suatu garansi juga bahwa memang anak ini nilai akademisnya baik, walaupun dibuktikan dengan salinan lapor dan juga anaknya baik, berkelakuan baik," terangnya.
Stamina sampai Media Sosial
Di seleksi tingkat kabupaten/kota, pendaftar kemudian menjalani seleksi Pancasila dan dan Wawasan Kebangsaan (Tes Wawasan Kebangsaan/TWK) serta Seleksi Intelegensia Umum (Tes Intelegensia Umum/TIU).
Rima mengatakan, tidak ada perankingan pada bagian tes Pancasila, tetapi menggunakan sistem lolos-tidak lolos dengan nilai lolos minimal 70.
Peserta kemudian menjalani Seleksi Kesehatan, Seleksi Parade, serta Seleksi Peraturan Baris Berbaris dan Kesamaptaan. Seleski kesamaptaan, seperti lari, push up dan sit up, antara lain menilai stamina para peserta seleksi.
Lebih lanjut, ada Seleksi Kepribadian dengan wawancara. Siswa juga menjalani psikotest di tahap ini untuk melihat aspek psikologisnya. Di samping itu, para peserta juga dinilai dalam hal prestasi.
"Media sosialnya juga ada kita lihat," ujar Rima.
Minat dan Bakat
Hasil seleksi kemudian diperingkatkan dan diambil peserta sesuai kuota kabupaten/kota untuk dikirim ke seleksi tingkat provinsi. Di tingkat provinsi, peserta diverifikasi dan dites kembali untuk memastikan data hingga proses seleksinya pada sistem sesuai dengan kondisi riil di lapangan.
"Jadi itu di awal, supaya tidak ada hal-hal yang diskriminasi dan sebagainya," ujarnya.
Karena proses tes dan verifikasi ulang tersebut, seleksi tahap provinsi juga meliputi Seleksi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan dan Seleksi Intelegensia Umum, Seleksi Kesehatan, Seleksi Peraturan Baris Berbaris dan Kesamaptaan, dan Seleksi Kepribadian.
Di latihan seleksi tingkat provinsi, Wina, menuturkan ia juga menyiapkan diri untuk menampilkan tari Songkok Recca. Latihan ini bagian dari persiapan seleksi kepribadian, yang terdiri dari wawancara dan penggalian minat dan bakat.
"Songkok Recca itu khas dari Kabupaten Bone," tuturnya.
Hasil Medical Checkup
Para peserta seleksi tingkat provinsi juga menjalani medical checkup. Rima mencontohkan, salah satu yang menjadi temuan masalah dalam seleksi yakni kondisi mata minus, kadar hemoglobin sangat rendah, serta indikasi penyakit.
Dari rangkaian seleksi, kemudian dipilih 3 pasang putra-putri perwakilan provinsi untuk mengikuti verifikasi calon paskibraka tingkat pusat.
Tahapan verifikasi tingkat pusat meliputi kesehatan, parade dan PBB, serta kepribadian untuk aspek psikologis, aspek minat dan bakat, dan aspek wawancara. Dari situ, terpilih 27 calon paskibraka tingkat pusat.
Harus Ikut Paskibra-Pramuka?
Mendaftar seleksi paskibraka tak harus punya riwayat sebagai anggota paskibra di sekolah. Namun, pengalaman paskibra memungkinkan siswa kenal peraturan baris berbaris dan upacara bendera lebih dulu, sambil melatih fisik dan mental sebagai petugas upacara.
Capaska tingkat pusat asal Sumatera Barat, Ahmad Alfatih mengatakan ia semula menjadi anggota paskibra di SMP. Keterlibatan ini mengantarkannya untuk dapat berkompetisi lebih luas di Lomba Keterampilan Baris-berbaris (LKBB) tingkat provinsi.
"Jadi, mulai dari sana latihan PBB-nya, dasar-dasar semuanya udah ada," kata siswa SMAN Agam Cendekia ini.
Fatih juga aktif di organisasi pramuka, yang menurutnya turut jadi bekal melatih disiplin, fisik, dan mental. Aktif di pramuka turut dilakoni Wina semasa SMP, sambil melatih mental dan fisik.
Di SMP, Wina juga aktif belajar menari dan marching band untuk mengembangkan bakat, yang kelak rupanya bermanfaat dalam seleksi paskibraka.
Baru pada jenjang SMA, ia resmi menekuni ekskul paskibra di sekolah. Kendati demikian, Wina menuturkan, ia sebelumnya telah mengenal dan mempelajari paskibra.
Sementara itu, capaska tingkat pusat perwakilan Sulawesi Barat, M Deni Fikri mengatakan ia belajar PBB dan paskibra sedikit demi sedikit sejak SD, mulai dari hadap kiri, hadap kanan, hingga jalan di tempat. Masuk SMP, ia kemudian ikut organisasi pramuka.
Lengkapi Prestasi-Berlatih TWK dan TIU
Fatih menuturkan, ia juga sempat ragu dapat lolos seleksi tingkat sekolah lantaran tinggi badan rekannya bahkan mencapai 179-181 cm, sementara dirinya 177 cm. Mencoba tetap semangat, ia memaksimalkan berlatih fisik sebagai atlet siswa sekaligus mempersiapkan diri untuk seleksi paskibraka.
Prestasinya di bidang olahraga juga menjadi bekal saat seleksi. Fatih menuturkan, ia semasa SMP meraih juara satu Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) se-Kota Padang untuk cabor atletik nomor tolak peluru.
"Jadi latihannya barengan atlet, dan (latihan) intelejensinya (TIU) malam-malam, dari jam tujuh sampai jam sepuluh, itu rutin per harinya membahas TWK," kata atlet siswa cabor atletik nomor lempar cakram dan lempar lembing ini
"Dari pagi sampai malam: pagi kita bersekolah, sore kita latihan, dan malam kita belajar tentang wawasan kebangsaan, tentang ideologi Pancasila," tuturnya.
Bagaimana detikers, siap menjadi anggota paskibraka selanjutnya? Selamat belajar dan berlatih!
