Calon pasukan pengibar bendera pusaka (paskibraka) tingkat pusat makin giat berlatih seiring kian dekatnya dekatnya hari H upacara HUT ke-81 RI. Dalam beberapa hari lagi, para pelajar perwakilan 38 provinsi ini akan dikukuhkan sebagai paskibraka tingkat pusat dan bertugas di di Istana Merdeka, Jakarta pada 17 Agustus 2026.
Hari calon paskibraka (capaska) tingkat pusat dimulai dengan bangun tidur sejak sekitar pukul 03.00-04.00 WIB. Setelah mandi dan salat atau ibadah pagi, para anggota capaska mulai melakukan peregangan dan berolahraga.
"Untuk pelatihannya di sini kami latih dari fisik dulu, itu setiap hari kita pasti ada olahraga pagi, dan pastinya ada PBB (latihan peraturan baris-berbaris)," kata putri capaska tingkat pusat perwakilan DKI Jakarta, Latiesha Firenzie Bharata pada detikEdu, ditulis Selasa (11/8/20260.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Latihan utama PBB dan upacara bendera kemudian dimulai pukul 07.00 WIB. Memasuki jam ishoma, para pelajar menjalankan istirahat, salat, dan makan siang.
Setelahnya, latihan upacara dilanjutkan hingga pukul 17.00 WIB. Setiap latihan, capaska bergiliran berlatih sebagai pembawa baki, pengibar, dan pembentang bendera.
Sejak 6-9 Agustus 2026, capaska tingkat pusat menjalani latihan gabungan bersama Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres), satuan musik, dan keseluruhan peserta upacara di Pusat Pengembangan SDM Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Depok, Jawa Barat.
Sedangkan mulai hari ini, Selasa, 11 Agustus 2026, capaska tingkat pusat bergeser ke Jakarta untuk melaksanakan gladi kotor, gladi bersih, dan pemantapan formasi.
Setiap harinya setelah berlatih, capaska tingkat pusat kemudian kembali dari lapangan untuk mandi, makan malam, ibadah, dan mengikuti materi sesuai agenda malam hari, diikuti dengan beristirahat.
Sebelum dapat memasuki proses pelatihan di atas, capaska menjalani pembelajaran aktif berbasis pengalaman. Adapun materi yang dipelajari meliputi sejarah bangsa, ke-Indonesiaan, penguatan pemahaman mengenai Pancasila, dan wawasan kebangsaan.
Tak sampai di situ, capaska tingkat pusat juga belajar tentang wilayah negara, ketahanan nasional, kosmos nasional, dan lain-lain. Setelah belajar, para capaska juga melakukan proses mancakrida untuk refleksi diri.
Anggota calon paskibraka tingkat pusat perwakilan Sulawesi Barat, M Deni Fikri, mengaku masa-masa pelatihan cukup berat sekalipun telah berlatih sejak lama.
"Untuk saya pelatihannya cukup berat, karena ini memang tingkatnya tingkat paling tertinggi, yaitu nasional. Tetapi bagi saya ini adalah suatu pencapaian bagi saya, ini cita-cita saya dari SD, melanjutkan perjuangan kakak saya yang dulunya gugur dalam seleksi paskibraka tingkat nasional," tuturnya.
Salat Subuh di Masjid
Deni mengatakan, rutinitas latihan sehari-hari membuatnya harus membiasakan diri tepat waktu, termasuk untuk salat.
"Untuk pengorbanannya, kita korban waktu tidur. Tidur cuma sedikit, bangun harus cepat, subuh, karena kita sebagai muslim harus cepat ke masjid untuk salat Subuh tepat waktu," kata siswa UPTD SMA Negeri 1 Wonomulyo ini.
Tahan Rindu
Putra perwakilan Polewali Mandar, Sulbar tersebut menuturkan, pelatihan berminggu-minggu terpisah dengan keluarga juga mendorongnya untuk menguatkan diri dan saling rangkul dengan teman-teman dari provinsi lain.
"Kita harus menahan rindu terhadap keluarga. Rindu itu berat, jadi kita semua di sini tetap saling merangkul, tetap saling menjaga," tuturnya.
Nggak Pegang HP
Selaras, Latiesha dari DKI Jakarta juga mengaku berat untuk pisah dengan keluarga sehari-hari. Terlebih, ia dan rekan-rekan anggota capaska tak boleh bawa HP sehari-hari. HP dititipkan ke panitia. Adapun kontak untuk keperluan darurat dapat disampaikan melalui pengasuh masing-masing.
"Pengorbanan buat pelajar seperti kami ini, pastinya pisah dari keluarga susah, karena yang biasanya diurus sehari-hari, tiba-tiba kami harus untuk sebulan lebih pisah tanpa keluarga, tanpa kontak apapun, tanpa HP. Jadi rasanya agak sedih dan susah," tutur siswa SMAN Al Izhar Pondok Labu, Jakarta Selatan ini.
"Namun pastinya dengan semua teman-teman yang di sini, kami terus disemangatin. Dan tentunya di sini jadi ada keluarga baru untuk saling merangkul," imbuhnya.
Tantangan Budaya
Putra calon paskibraka asal Sumatera Barat, Ahmad Alfatih, juga mengamini, jauh dari keluarga membuat masa pelatihan terkadang terasa berat. Tak sampai di situ, di tengah-tengah rekannya yang berasal dari Sumatera sampai Papua, ia juga menyadari adanya budaya yang berbeda-beda, termasuk dalam keseharian.
Dengan situasi demikian, siswa SMAN Agam Cendekia ini menyadari pentingnya menghargai perbedaan dan merayakan keberagaman.
"Setiap masing-masing provinsi mengutus utusannya ke tingkat pusat, dan kita melihat budaya yang berbeda. Dan kita di sini harus menyatukan budaya itu sebagai satu-satu kesatuan," tuturnya.
(twu/pal)
