Perjalanan Sastia dari Bandung ke Osaka, Kini Jadi Ahli Bioteknologi di Jepang

ADVERTISEMENT

Perjalanan Sastia dari Bandung ke Osaka, Kini Jadi Ahli Bioteknologi di Jepang

Novia Aisyah - detikEdu
Rabu, 12 Agu 2026 14:00 WIB
Sastia Prama Putri
Sastia Prama Putri. Foto: Kemdiktisaintek
Jakarta -

Menjadi seorang associate professor di sebuah kampus di Jepang, luar biasa bukan? Itulah peran yang kini dilakoni oleh Sastia Prama Putri.

Dua puluh tahun lalu, Sastia menuju ke Jepang sebagai mahasiswa. Ia lalu lulus jenjang magister dan doktoral di The University of Osaka.

Sastia melanjutkan penelitiannya sebagai postdoctoral fellow hingga menjadi asistant professor. Sekarang, ia merupakan Associate Professor di Department of Biotechnology, Graduate School of Engineering, The University of Osaka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sastia memiliki prinsip, ilmu yang dikerjakan haruslah bermanfaat. Ia menilai, menjadi seorang ilmuwan tidak hanya tentang seberapa banyak menemukan sesuatu yang baru, tetapi juga tentang bagaimana pengetahuan tersebut mampu menjawab persoalan nyata dan memberi dampak ke masyarakat. Prinsip ini juga yang membuat risetnya terus beririsan dengan Indonesia.

Sebelum ke Jepang, Sastia merupakan lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia melihat kekayaan biodiversitas dan sumber daya hayati di negeri ini belum sepenuhnya dikelola secara optimal. Melalui penelitiannya, Sastia mengembangkan pendekatan metabolomik untuk memahami pangan dan produk hayati tropis.

ADVERTISEMENT

Menurutnya, di situlah peran ilmuwan. Karier akademik merupakan proses untuk terus belajar, menciptakan pengetahuan, dan memastikan pengetahuan tersebut bermanfaat.

Diaspora Indonesia ini melihat Indonesia mempunyai modal untuk menjadi pemain penting dalam bioekonomi dan bioteknologi global. Akan tetapi, modal ini perlu didukung sumber daya berkemampuan riset, jejaring kolaborasi, teknologi, dan infrastruktur yang bisa dipakai bersama.

Untuk itu, ia mendorong agar kerja sama global tidak berhenti pada publikasi bersama atau kunjungan akademik. Kolaborasi harus membangun kapasitas, termasuk dengan keterlibatan mahasiswa dan peneliti muda dalam seluruh proses penelitian, transfer pengetahuan dan teknologi, juga jejaring yang tetap berjalan saat kembali ke Indonesia.

"Indonesia harus menjadi mitra yang setara dalam menghasilkan pengetahuan," katanya, dikutip dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Pelajari Metabolit Tanaman dan Produk Pangan

Sastia melihat buah-buahan tropis, kopi, kakao, hingga tempe menyimpan pertanyaan penelitian dan peluang. Dengan pendekatan metabolomik, ia mempelajari berbagai metabolit dalam tanaman dan produk pangan.

Teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk memahami komponen suatu bahan dengan lebih menyeluruh, melihat faktor yang menentukan kualitas, hingga menemukan komponen yang potensial untuk fungsi tertentu. Soal kopi misalnya, keunggulan suatu produk tidak cukup dijelaskan dengan cita rasa. Penelitian perlu bisa menjawab apa yang membuat kopi tersebut khas, senyawa apa yang jadi penanda, bagaimana karakter terseut bisa dipertahankan, hingga bagaimana kualitasnya bisa dikontrol.

Manfaat Pengalaman Internasional

Sastia ingin pengalamannya di Jepang tidak berhenti pada pencapaian pribadi, tetapi menjadi jembatan antara pengetahuan dan jejaring yang ia dapat dengan kebutuhan di Indonesia.

Salah satu yang menurutnya penting adalah membuka akses lebih luas untuk mahasiswa dan peneliti muda dalam mengenal lingkungan akademik internasional sejak awal. Ia menilai, pengalaman internasional bisa membentuk cara berpikir, keberanian bertanya, kemampuan kolaborasi, dan kepercayaan diri.

Pengalaman-pengalaman itulah yang membentuk cara berpikirnya sebagai peneliti dan mempertemukannya dengan berbagai jejaring. Maka dari itu ia mendorong kampus-kampus di Indonesia untuk memperbanyak program double degree, joint research, joint supervision, magang penelitian, hingga pertukaran pelajar.

Namun, internasionalisasi tidak melulu artinya pergi ke luar negeri. Kampus juga bisa mendatangkan profesor dari luar negeri, membuat joint seminar atau joint laboratory, dan menghadirkan lingkungan akademik berstandar global.

"Jangan merasa panggung global itu jauh. Panggung global itu bukan milik orang-orang tertentu. Dunia membutuhkan orang-orang yang memiliki pertanyaan ilmiah yang penting, memiliki ketekunan untuk menjawabnya, dan mau bekerja bersama orang lain," ungkapnya.

Ia juga tidak melihat pencapaian sebagai titik akhir. Semakin jauh seorang ilmuwan diberi kesempatan melangkah, maka ia menilai makin besar tanggung jawabnya membuka jalan bagi orang lain.

Sastia berharap mahasiswa Indonesia menunggu sampai merasa cukup pintar untuk mulai mengenal dunia. Langkah awal bisa dibiasakan, seperti membaca jurnal internasional, ikut seminar, bertanya kepada peneliti negara lain, mencari kesempatan kolaborasi, atau mencoba menulis. Menurutnya, menjadi ilmuwan Indonesia di dunia bukan hanya menbawa Indonesia ke panggung global.

"Bermimpilah untuk menjadi ilmuwan yang membawa sesuatu dari Indonesia untuk dunia," ungkapnya.



(nah/twu)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads