Kisah Annita, Alumni FK UNS yang Mengabdi di Wilayah 3T

ADVERTISEMENT

Kisah Annita, Alumni FK UNS yang Mengabdi di Wilayah 3T

Nikita Rosa - detikEdu
Rabu, 05 Agu 2026 17:45 WIB
Alumnus UNS Annita Viesta Nirmala Dewi mengikuti misi kesehatan di Kepulauan 3T
Alumnus UNS Annita Viesta Nirmala Dewi mengikuti misi kesehatan di Kepulauan 3T. (Foto: UNS)
Jakarta -

Annita Viesta Nirmala Dewi, S Tr Keb, MPH berlayar puluhan jam untuk mengikuti misi "Deteksi Dini dan Upaya Promotif, Preventif, dan Kuratif Menuju Pulau Sehat, Produktif, dan Bahagia". Berangkat bersama Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga, alumni Kebidanan Fakultas Kedokteran UNS itu menjalani misi selama 13 hari di Bluto, Pulau Raas, Pulau Karamian, dan Pulau Masalembu.

Saat mendarat, tim menemukan beberapa pulau masih memiliki akses air bersih yang terbatas. Aliran listrik juga hanya menyala pada malam hari dengan bantuan generator diesel. Meski dengan berbagai keterbatasan, masyarakat tetap menyambut kedatangan tim dengan hangat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tim Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga memberikan pelayanan kesehatan kepada sekitar 120-160 pasien di setiap lokasi. Annita turut membantu dalam proses triase dan pengukuran antropometri untuk mendukung kelancaran pelayanan.

Selain itu, tim juga memberikan edukasi kesehatan kepada 410 remaja, yang terdiri dari sekitar 130 peserta di Bluto, 140 peserta di Pulau Raas, 80 peserta di Pulau Karamian, dan 60 peserta di Pulau Masalembu.

ADVERTISEMENT

"Saya percaya bahwa remaja harus dijaga agar terus berdaya dan sejahtera, sebab mereka merupakan tonggak keberlangsungan suatu bangsa," terang Annita dalam laman UNS dikutip Rabu (5/8/2026).

MenurutAnitta, setiap pulau memberikan pengalaman yang berbeda. Remaja di PulauRaas tampak lebih pendiam dengan remaja di PulauKaramian yang aktif berdiskusi. Di PulauMasalembu, beberapa peserta secara sukarela maju untuk memerankan skenario dalam kegiatan role play. Perbedaan tersebut membuatAnnita menyadari bahwa metode edukasi perlu disesuaikan dengan karakter masyarakat setempat.

Selain itu, hal yang paling membekas bagi Annita adalah bertemu dengan remaja-remaja dengan mimpi besar. Banyak dari mereka ngin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Antusiasme mereka saat berdiskusi, bertanya, dan mengikuti setiap sesi edukasi membuat Annita percaya keterbatasan bukanlah penghalang untuk terus bermimpi.

"Saya belajar bahwa setiap daerah memiliki kebutuhan dan cara belajar yang berbeda. Ketika kita mau mendengarkan dan menyesuaikan pendekatan, pesan kesehatan menjadi lebih mudah diterima. Pengalaman ini mengingatkan saya bahwa menjadi tenaga kesehatan bukan hanya tentang memberikan pelayanan, tetapi juga membangun kepercayaan dan tumbuh bersama masyarakat," tuturnya.



(nir/pal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads