Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria menyampaikan pesan kepada para profesor yang bekerja di lingkungan BRIN. Ia mengingatkan bahwa profesor tidak hanya berfokus pada penyampaian kebenaran ilmiah.
Menurutnya, profesor juga harus mempertimbangkan cara penyampaiannya yang bisa diterima untuk kepentingan lebih luas. Ia memperingatkan juga soal kehadiran kecerdasan buatan (AI). Prof Arif mengatakan, kepintaran bisa digantikan oleh AI, tetapi kebijaksanaan tidak.
"Kepintaran dapat digantikan oleh kecerdasan buatan (AI), tetapi kebijaksanaan atau wisdom tidak dapat digantikan oleh AI," katanya dikutip dari laman BRIN, Jumat (17/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
3 Prinsip Utama bagi Para Profesor
Arif kemudian mengemukakan soal tiga prinsip utama yang harus dimiliki profesor, yakni menyampaikan informasi dengan benar, menyampaikan dengan cara baik, dan disampaikan pada waktu dan konteks yang tepat.
Arif berpendapat, tidak semua informasi benar harus selalu disampaikan tanpa mempertimbangkan situasi. Justru, seorang profesor harus dituntut memiliki kebijaksanaan dalam menentukan informasi.
Profesor yang bijak dalam menyampaikan kepada publik. Khususnya profesor BRIN, memiliki kepentingan untuk institusi dan negara.
Selain itu, penyampaian hasil riset harus mempertimbangkan ruang, waktu, dan konteks. Pasalnya, penelitian sangat berkaitan dengan teknologi strategis yang mempunyai nilai tinggi dan dampak.
Bahaya Kebocoran Informasi Teknologi
Arif kemudian memaparkan berbagai contoh kasus kebocoran informasi soal teknologi yang sangat merugikan negara. Kerugiannya bisa menghilangkan potensi ekonomi suatu negara.
"Selain itu, para profesor juga didorong untuk terus memperkuat kemampuan dalam menyampaikan kebenaran secara efektif kepada masyarakat sekaligus memahami konteks penyampaian informasi. Kemampuan tersebut dinilai menjadi bagian penting dari tanggung jawab akademik seorang profesor," jelas Arif.
Arif mengingatkan kembali semakin tinggi jabatan akademik seperti profesor, maka semakin besar tanggung jawab sosialnya. Saat ini, kontribusi profesor tak hanya dilijat dari publikasi ilmiah atau indeks sitasi, tapi juga manfaat nyata bagi masyarakat.
"Semakin tinggi gelar akademik yang dimiliki, semakin besar pula ekspektasi terhadap manfaat yang diberikan kepada masyarakat. Orientasi kita bukan hanya pada kualitas dan indeksasi, tetapi juga pada kebermanfaatan yang berkelanjutan," ungkapnya










































