Baru Lancar Membaca di Kelas 5 SD, Yusmar Kini Kuliah Gratis di UGM

ADVERTISEMENT

Baru Lancar Membaca di Kelas 5 SD, Yusmar Kini Kuliah Gratis di UGM

Trisna Wulandari - detikEdu
Rabu, 15 Jul 2026 09:30 WIB
Julian Yusmar
Julian Yusmar dan keluarga. Foto: Dok UGM
Jakarta -

Julian Yusmar Dima Huda diterima di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada (UGM). Siapa sangka, Yusmar kecil baru lancar membaca di kelas 5 SD.

Hidup di Desa Raenalulu, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur, keterbatasan ekonomi memengaruhi akses pendidikan bagi Yusmar. Ia mengaku baru lancar membaca pada saat duduk di bangku kelas 5 SD dan baru belajar bahasa Inggris saat masuk SMA.

"Saya dulu baru bisa membaca waktu kelas 5 SD karena memang tidak ada yang mengajari. Opa dan Oma juga tidak sekolah, bahkan tidak bisa bahasa Indonesia. Waktu pandemi Covid-19 baru punya handphone, dari situ saya berkomitmen untuk serius belajar," ujarnya, dikutip dari laman UGM.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dibesarkan Opa-Oma

Yusmar menuturkan, di balik semangat dan capaiannya saat ini, ada jerih payah kakek dan nenek yang mengasuhnya sejak kecil. Membesarkan cucu pertama di keluarga, Rehabeam Wadu Dima (75) merupakan seorang petani, sementara neneknya, Welmintje Wila Magga (67), seorang penjual kue.

ADVERTISEMENT

Ketika usia Yusmar menginjak 1 tahun, ayahnya meninggal dunia. Sedangkan ibunya membangun kehidupan baru di daerah lain.

Dengan keterbatasan ekonomi, Yusmar semula tidak berencana menempuh pendidikan tinggi. Namun, semangatnya terpantik saat mengikuti Duta Siswa Indonesia di kelas 12 SMA.

Dari ajang tersebut, ia memiliki keyakinan bahwa dirinya juga punya kesempatan untuk berkuliah. Cara pandangnya terhadap pendidikan juga berubah.

"Dari situ, saya benar-benar terbuka pikiran bahwa pendidikan itu sangat penting, apalagi untuk melanjutkan ke perguruan tinggi," ujarnya.

Menjemput Kesempatan Berprestasi

Julian YusmarJulian Yusmar. Foto: Dok UGM

Yusmar aktif mengikuti organisasi pramuka hingga OSIS semasa SMA. Pengalaman berorganisasi ini juga mengantarkannya menjadi wakil ketua OSIS.

Ia juga tertarik untuk mengikuti kompetisi, tetapi belum dapat kesempatan untuk ditunjuk mewakili sekolah. Takut menyesal, Yusmar kemudian memberanikan diri untuk mendaftar kompetisi secara mandiri sejak kelas 12, termasuk ajang Duta Siswa Indonesia tersebut dan beberapa olimpiade.

"Selama dua tahun saya menunggu dipilih guru untuk ikut lomba, tapi tidak pernah dapat kesempatan. Akhirnya pada saat kelas 12 saya tidak mau menyesal, jadi saya mulai daftar sendiri ikut berbagai lomba," ucapnya.

Bagi Waktu Belajar-Lolos SNBP

Untuk menyeimbangkan kesibukan di organisasi dan kegiatan akademik, ia belajar menyusun skala prioritas. Dalam manajemen waktu tersebut, ia belajar pada dini hari dan berorganisasi sepulang sekolah sampai malam hari.

"Hampir setiap hari saya bangun sekitar pukul 04.00 hingga 05.00 untuk membaca kembali materi yang akan dipelajari di sekolah. Pagi hari menjadi waktu paling efektif untuk memahami pelajaran karena kondisi tubuh dan pikiran masih segar," tuturnya.

Pada jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026, Yusmar memilih prodi Ilmu Komunikasi UGM. Pilihan ini berangkat dari kesenangannya berkomunikasi dan membuat konten di media sosial, dan pertimbangan terhadap prospek kerja lulusan ilmu komunikasi yang sesuai cita-citanya.

"Saya suka berkomunikasi, suka membuat konten di media sosial. Jadi Ilmu Komunikasi benar-benar sesuai dengan minat saya. Saya juga punya prinsip ingin keluar dari zona nyaman dan ingin membuktikan bahwa kita yang berasal dari daerah terpencil juga bisa bermimpi dan kuliah di kampus besar seperti UGM," jelasnya.

Upaya Yusmar untuk berprestasi akademik dan nonakademik mengantarkan ia diterima di Prodi S1 Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM melalui jalur SNBP.

Tak sampai di situ, ia juga memperoleh beasiswa uang kuliah tunggal (UKT) pendidikan unggul bersubsidi 100%. Dengan demikian, ia bisa kuliah gratis di UGM.

Ia berharap, siswa-siswa yang mengalami keterbatasan atau berasal dari daerah 3T sepertinya tetap memupuk keberanian untuk mencoba dan mewujudkan cita-cita.

"Nikmati prosesnya, jangan hanya mengejar hasilnya saja. Jangan mengecilkan mimpi kalian hanya karena berasal dari daerah 3T atau memiliki keterbatasan ekonomi. Kalau ingin lolos SNBP, siapkan strategi yang matang dan percaya pada usaha serta doa," pungkas Yusmar.



(twu/pal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads