Menko Yusril Ihza Mahendra Beberkan Alasan Kuliah Doktor Dua Kali

ADVERTISEMENT

Menko Yusril Ihza Mahendra Beberkan Alasan Kuliah Doktor Dua Kali

Nikita Rosa - detikEdu
Kamis, 02 Jul 2026 17:14 WIB
Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, Sidang Promosi Doktor di UI
Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, Sidang Promosi Doktor di UI. (Foto: Nikita Rosa/detikedu)
Jakarta -

Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, berhasil menamatkan studi Doktor Ilmu Filsafat Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (UI). Meski sudah pernah meraih gelar Doktor dari Universiti Sains Malaysia, Yusril kembali menekuni studi S3 di UI.

"Saya merasa bersyukur ya di usia yang sudah tidak muda lagi dengan-dengan kesibukan yang luar biasa banyaknya, saya masih menyempatkan diri untuk melakukan studi di bidang filsafat," ujarnya ditemui usai Sidang Promosi Doktor di Balai Sidang Universitas Indonesia,Depok, Jawa Barat, Kamis (2/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai informasi, Yusril menamatkan studi Sarjana Tata Hukum Negara dan Sarjana Filsafat di Universitas Indonesia. Setelah itu ia menekuni jenjang Magister di Program Filsafat Universitas Indonesia serta University of The Punjab Lahore, Pakistan.

Ia kemudian meraih gelar Doctor of Philosophy dalam Ilmu Politik dari Universiti Sains Malaysia. Yusril juga didapuk sebagai Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Indonesia.

ADVERTISEMENT

Saat ditanya mengapa ia mengambil studi doktor lagi, ia menjelaskan jika ia sudah menekuni ilmu hukum dan politik sampai menjadi profesor. Hanya ilmu filsafat yang baginya belum ia tuntaskan.

"Karena memang dulu saya belajar hukum, belajar politik dan belajar filsafat ya. Dan politik dan hukum saya sudah selesai, sudah jadi guru besar, sudah Doktor di politik. Tapi saya belum menyelesaikan sampai ke ujung pelajaran filsafat," ungkapnya.

Saat menganalisis permasalahan hukum, ia menilai perlu melihat pergolakan politik, sosiologis, dan filsafat.

"Dan itu saya kira berguna bagi saya tidak saja ketika saya menjadi pejabat negara yang terlibat dalam menangani urusan-urusan hukum dan pembentukan hukum, tapi juga berguna bagi saya sebagai seorang akademisi bahwa menerangkan sesuatu itu tidak bisa hanya dari satu sudut pandang," tuturnya.

Menurutnya, ilmu filsafat mengajarkan bagaimana melihat sesuatu secara menyeluruh. Filsafat juga mendorong seseorang untuk melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain.

"Ada teman-teman tanya, 'Pak Yusril, kenapa ketika Anda membela perkara di pengadilan ya, kok argumentasi Anda itu mengagetkan banyak orang? Gimana orang mau bantah ini?' Saya bilang mungkin karena saya belajar filsafat," ujarnya.

Yusril berpendapat, mempelajari filsafat bisa meningkatkan kemampuan intelektual dan analisis seseorang.

"Jadi belajar filsafat meningkatkan kemampuan inteleltual dan analisis orang kauh lebih dalam daripada mempelajari ilmu-ilmu yang lain saja," jelasnya.

Disertasi Yusril Tentang Natsir

Yusril baru saja mempertahankan disertasinya dalam sidang di Balai Sidang Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, pada Kamis (2/7/2026).

Ia mengangkat disertasi berjudul "Penafsiran Kembali Pemikiran Mohammad Natsir Tentang Relasi Islam dengan Negara: Sebuah Telaah Filsafat dengan Pendekatan Hermeneutika Fenomenologis-Eksistensial". Menurutnya, Natsir adalah salah satu pemikir penting dalam sejarah Indonesia.

"Disertasi itu saya tulis cukup lama. Saya mengikuti program doktor di bidang filsafat ini selama 5 tahun dan baru menyelesaikannya pada hari ini," ujar Yusril.

Yusril menjelaskan jika Natsir adalah tokoh yang mengajukan gagasan Islam sebagai dasar negara. Natsir juga mengumumkan konsep teistik demokrasi sebagai jalan tengah untuk menghadapi Islam dan sekulerisme.

"Natsir bukan orang yang menolak Pancasila. Dia menerima Pancasila itu sebagai sebuah kompromi, tapi sila Ketuhanan Yang Maha Esa menurut pendapatnya harus ditaksirkan dengan mengaitkannya dengan ajaran-ajaran agama Islam khususnya dan agama-agama lain di Indonesia," tuturnya.

"Kuatnya argumen mengatakan Tuhan itu ada dengan Tuhan itu tidak ada. Tapi itu persoalan filsafat. Persoalan agama lebih daripada persoalan filsafat karena menyangkut keyakinan yang terpendam dalam hati seluruh manusia. Apa yang dimaksud Natsir dengan teistik demokrasi? Itulah yang diungkapkan dalam disertasi ini," imbuhnya.

Halaman 3 dari 2


Simak Video " Video Soroti Kasus Pemerasan Izin WNA, Yusril Minta Jajaran Benahi Sistem"
[Gambas:Video 20detik]
(nir/twu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads