Banjir di Bali. Hujan ekstrem di Aceh dan Sumatera. Dubai terendam, Valencia lumpuh, Amsterdam membeku. Di tempat lain, air justru semakin sulit dicari. Harga pangan naik, musim sulit ditebak, dan panas terasa lebih menyengat dibanding beberapa tahun lalu.
Peristiwa itu terjadi di lokasi berjauhan, tidak dalam waktu yang sama. Namun, kalau semua itu masih terasa seperti kejadian yang berdiri sendiri, mungkin kita memang terlalu lama menganggap krisis iklim sebagai sesuatu yang jauh, sesuatu yang datangnya nanti, sekadar singgah, di masa depan, di awang-awang.
Kenyataannya, peristiwa-peristiwa tidak biasa itu perlahan mengerucut pada sebab yang sama, bumi sedang berubah. Sebagian orang menyebutnya perubahan iklim. Sebagian lain memilih istilah krisis iklim. Mereka yang memilih 'krisis' ingin menunjukkan bahwa ini bukan lagi sekadar perubahan cuaca biasa, melainkan situasi yang telah mempengaruhi cara manusia hidup, apa yang kita makan, seberapa mahal kebutuhan pokok, bagaimana kita bekerja, bahkan bagaimana kita merasa aman menghadapi hari esok.
Barangkali, kita memang sedang hidup dalam Sore: Istri dari Masa Depan. Dalam film fantasi ilmiah romantis tahun 2025 yang disutradari oleh Yandi Laurens itu menyuguhkan kisah cinta Sore dan Jonathan.
Di balik kisah cinta dan perjalanan waktu, film itu menyisipkan adegan tentang es di kutub yang mencair sebagai pertanda nyata bahwa perubahan iklim sedang berlangsung.
Menariknya, tokoh dalam film itu terbelah, laiknya warga dunia. Rekan Jonathan, Karlo, menilai bahwa isu perubahan iklim dalam foto-foto Jonathan itu tidak terlalu klise dan tidak akan mendatangkan profit, tetapi pemilik galeri independen membuka pintu buat Jonathan untuk bikin pameran. Mungkin di situlah paradoks terbesar kita hari ini.
Krisis iklim begitu sering hadir dalam berita, media sosial, forum global, hingga percakapan sehari-hari, tetapi tidak selalu benar-benar didengar. Ia terlalu sering terasa seperti ancaman abstrak, sesuatu yang penting, tetapi tidak cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Padahal, kita hari ini kita hidup bersama dalam bumi yang sudah berubah itu. Bumi yang sudah diterpa krisis iklim.
Setiap saat ia menyusup dalam dalam keseharian, pada panas yang makin menyengat, musim yang sulit ditebak, banjir yang datang di luar kebiasaan, harga pangan yang naik, gagal panen, hingga air yang perlahan berubah menjadi kemewahan baru. Bahkan, kesehatan mental mulai ikut terdampak oleh kecemasan ekologis (eco-anxiety).
Simak Video "Video: Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa, Rekor Suhu Terpanas Pecah"
(nwk/nwk)