Baru Berumur 17 Tahun, Aditi Paudel Jadi Duta Literasi asal Jepang

ADVERTISEMENT

Baru Berumur 17 Tahun, Aditi Paudel Jadi Duta Literasi asal Jepang

Kalila Untsa - detikEdu
Jumat, 04 Sep 2026 07:30 WIB
Aditi Paudel
Aditi Paudel. Foto: The Times of India
Jakarta -

Saat ini, membaca sudah lebih mudah melalui berbagai platform digital. Pada generasi muda, mereka memiliki preferensi untuk membaca melalui platform digital karena kemudahan akses dan fleksibilitasnya.

Aditi Paudel, seorang pelajar yang hobi membaca buku sejak kecil, baru-baru ini diangkat menjadi duta literasi yang ditetapkan oleh World Literacy Foundation. Ia merupakan duta pertama yang berasal dari Jepang.

Program pemilihan duta literasi ini diikuti oleh sekitar 900 anak muda dari 101 negara, yang berusia antara 16 hingga 25 tahun. Adapun, tujuannya adalah untuk menghubungkan generasi muda di seluruh dunia dan menyebarluaskan minat literasi di komunitas masing-masing.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

World Literacy Foundation sendiri merupakan organisasi nirlaba internasional yang berpusat di Australia. CEO sekaligus pendirinya, Andrew Kay, mengkonfirmasi bahwa Aditi Paudel merupakan duta literasi pertama dari Jepang selama program ini berlangsung selama 12 tahun.

"Keingintahuannya tentang bahasa Inggris membentuk suatu advokasi yang bijaksana, memperkuat suara global dan jangkauan budaya program tersebut,"kata Andrew Kay.

ADVERTISEMENT

Aditi Paudel merupakan siswa kelahiran Jepang yang semasa kecilnya tumbuh di Nepal. Ia kembali ke Jepang sebagai siswa kelas XII SMA di Tokyo.

Aditi Paudel Duta Literasi Jepang Pertama

Sang siswa membagikan cerita masa kecilnya, saat diberikan buku oleh kakeknya. Buku tersebut berisi aksara Dewanagari, sistem penulisan yang berasal dari India Utara. Ia mengejutkan orang di sekitarnya karena dapat memahami isi buku meski baru duduk di bangku prasekolah.

Aditi menyukai berbagai genre bacaan, mulai dari fantasi hingga autobiografi. Murid yang tumbuh di Nepal ini, mulai menyukai genre fantasi saat ia membaca buku berjudul The Wishing-Chair karya Enid Blyton. Ia juga membaca autobiografi Malala Yousafzai yang meningkatkan minatnya secara signifikan dalam isu pemberdayaan perempuan.

Selain itu, ia juga secara aktif bekerja dengan anak-anak penyandang disabilitas. Ke depannya, ia berencana untuk menyumbangkan buku ke negara-negara di Asia dengan tingkat melek huruf yang rendah, termasuk Nepal.

Bagi Aditi, minat literasi merupakan sesuatu yang membantu membuka lebih banyak pintu peluang,. Dampaknya telah ia rasakan secara langsung dalam hal mengubah arah hidupnya.

"Literasi sangat penting karena meskipun seseorang memiliki potensi, hal tersebut tidak akan berkembang sepenuhnya tanpa kemampuan literasi yang baik," kata Aditi dikutip dari Times of India.

"Orang tua saya tumbuh di lingkungan yang benar-benar berlawanan. Mereka tidak memiliki masa kecil seperti ini (mendapat dukungan)," ungkap duta literasi tersebut.

Di sisi lain, Aditi memahami generasi muda yang kini banyak menggunakan gawai daripada membaca buku. Ia menyarankan generasi muda untuk menjadikan baca buku sebagai salah satu kebiasaan baik. Menurutnya, kecintaan membaca bukanlah tentang membaca buku-buku klasik, tetapi menemukan sesuatu yang beresonansi dengan diri sendiri dan idealnya dapat memperluas perspektif.

Penulis adalah peserta MagangHub Kemnaker di detikcom.



(nah/nah)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads