3 Wisudawan Ini Raih IPK 4 dari Kedokteran UGM!

ADVERTISEMENT

3 Wisudawan Ini Raih IPK 4 dari Kedokteran UGM!

Nikita Rosa - detikEdu
Jumat, 05 Jun 2026 18:30 WIB
Gedung Pusat Universitas Gadjah Mada, perguruan tinggi negeri di Jogja
UGM. (Foto: Lusia Komala Widiastuti/Wikimedia Commons/CC0)
Jakarta -

Tiga wisudawan Program Studi Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mempertahankan indeks prestasi kumulatif (IPK) 4 hingga hari kelulusan. Seperti diketahui IPK 4.00 adalah perolehan IPK tertinggi atau meraih nilai sempurna.

Ketiga wisudawan itu adalah TegarRinangPratama,KharisaRasikhatul Hikmah, danAshifa Jasmine. Mereka menerima gelar Sarjana Kedokteran pada Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan Periode III tahun akademik 2025/2026 pada Kamis (21/5) diGrhaSabhaPramana UGM.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Cara TegarRinangPratama Belajar

Tegar Rinang PratamaTegar Rinang Pratama Foto: Laman Resmi UGM

Tegar mengaku, ia tidak menargetkan IPK sempurna semasa studinya. Akan tetapi, ia tetap berusaha mempertahankan hasil capaiannya hingga akhir.

"Kalau aku let it flow aja nanti pada akhirnya bagaimana, ikuti alur aja," ujar wisudawan asal Yogyakarta itu dalam laman resmi UGM, Jumat (5/6/2026).

ADVERTISEMENT

Meski 'terlihat 'legowo, Tegar memiliki pola belajar yang sangat disiplin dan terstruktur. Ia mengaku mulai mencicil materi satu minggu sebelum ujian, memanfaatkan waktu kosong di sela-sela kuliah untuk belajar di perpustakaan, hingga menyusun peta materi yang harus dipelajari setiap hari.

"Biasanya untuk H-1 itu aku sudah tidak boleh lagi belajar materi, karena prinsipku pada saat H-1 itu aku harus sudah menguasai semua materi," tuturnya.

Tegar tidak banyak mengambil kegiatan di kampus. Akan tetapi, berusaha untuk tetap aktif dalam mengembangkan diri melalui berbagai macam kegiatan sukarelawan dan kepanitiaan di luar kampus saat libur semester.

"Aku bisa ikut dua sampai tiga kepanitiaan sementara ketika libur semester. Seperti ikut kepanitiaan Yogyakarta Gamelan Festival, Jogja Fashion Week, asisten lapangan Bulog, dan ikut menjadi LO (liaison officer) pada acara Kirab Budaya," jelasnya.

Kharisa Dokter Pertama di Keluarga

Kharisa Rasikhatul HikmahKharisa Rasikhatul Hikmah Foto: Laman Resmi UGM

Menjadi dokter pertama di keluarga tidak selamanya menyenangkan. Ia mengaku semula harus meraba gambaran dunia medis di awal perkuliahan. Kendati demikian, ia bertekad untuk memaksimalkan studinya demi menyelamatkan banyak orang.

"Yang paling penting adalah di sini aku belajar banyak hal karena nanti akhirnya aku bakal ke profesiku yang menyangkut nyawa hidup orang banyak," katanya.

Strategi kuliah Kharisa adalah mengenali kemampuan diri dan menyusun skala prioritas. Ia menyadari dirinya bukan tipe mahasiswa yang mampu menjalankan banyak aktivitas sekaligus. Oleh karena itu, Kharisa memilih fokus pada akademik dan hanya mengikuti kegiatan organisasi sesuai batas kemampuan.

"Aku merasa bahwa aku bukan tipe orang yang bisa multitasking, yang bisa melakukan banyak hal. Jadi memang aku harus tahu batas kemampuanku sampai mana," ujarnya.

Ashifa Ingin Bantu Orang Lain

Ashifa JasmineAshifa Jasmine Foto: Laman Resmi UGM

Alasan Ashifa Jasmine memilih prodi kedokteran karena pengalaman masa kecilnya. Waktu itu, ia rutin mengunjungi rumah sakit karena penyakit kronis yang pernah dideritanya. Pengalaman itulah yang membuatnya ingin membantu orang lain dengan kondisi serupa.

"Aku ingat bagaimana saat aku sakit aku merasa sangat terbantu dengan dokter dan tenaga kesehatan. Jadi aku juga ingin memberikan impact yang sama ke orang lain melalui bidang kesehatan," katanya.

Namun dalam perjalanan meraih cita-citanya, Ashifa sempat mengalami tekanan ekonomi. Ia menyadari banyaknya pengorbanan orang tua dalam membiayai kebutuhan pendidikannya. Meski demikian, ia berusaha untuk fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan.

"Yang bisa aku kontrol adalah usahaku sendiri. Jadi aku fokus belajar dan melakukan apa yang bisa aku lakukan," ujarnya.

Ibu Ashifa setia menemani perjalanan putrinya. Ia menuturkan, ibunya selalu mengajarkan untuk tidak berhenti mencoba dan jangan takut pada kegagalan.

"Ibuku yang selalu mendorong aku, kalau misalnya ada suatu kesempatan, ambil aja gitu. Tidak perlu takut untuk mencoba, tidak perlu takut untuk kalah, gagal, itu hal yang biasa," tuturnya.




(nir/twu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads