Usia 20 Tahun Sudah Lulus S1 Kedokteran UGM, Fulviana Punya Rahasia Ini

ADVERTISEMENT

Usia 20 Tahun Sudah Lulus S1 Kedokteran UGM, Fulviana Punya Rahasia Ini

Devita Savitri - detikEdu
Jumat, 05 Jun 2026 09:00 WIB
Fulviana Ramadlonia Agung Putri dan keluarga, lulusan UGM yang jadi wisudawan termuda.
Fulviana Ramadlonia Agung Putri dan keluarga, lulusan UGM yang jadi wisudawan termuda. Foto: dok. Universitas Gadjah Mada
Jakarta -

Perkenalkan, ini Fulviana Ramadlonia Agung Putri, mahasiswi dengan gelar wisudawan termuda dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM). Fulviana, panggilan akrabnya, berhasil menyelesaikan studi S1 Kedokteran UGM di usia 20 tahun 4 bulan 27 hari.

Gelar wisudawan termuda S1 diperoleh Fulviana, dihitung berdasarkan usia rata-rata 1.644 lulusan program S1 UGM yang diwisuda pada 21 Mei lalu. Dijelaskan bahwa usia rata-rata wisudawan adalah 22 tahun 6 bulan 15 hari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mulai Pendidikan pada Usia 5 Tahun

Anak ketiga dari empat bersaudara ini menempuh pendidikan dasar sejak usia 5 tahun 8 bulan. Setelah lulus SD, ia mengikuti program akselerasi dan lulus SMP dalam waktu 2 tahun.

Usai menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah, Fulviana berhasil diterima di FK UGM pada usia 16 tahun 8 bulan. Menjalani studi di usia muda tentu menjadi hal yang tidak mudah baginya.

ADVERTISEMENT

Ada proses adaptasi, tekanan akademik, dan usaha yang besar untuk tetap 'waras' menjalani pendidikan yang padat. Seluruh upaya itu kini terbayar manis dengan gelar wisudawan termuda, gelar yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

"Sebenarnya, di awal kuliah saya sempat merasa tertekan karena harus terus belajar dan menjaga konsistensi. Tapi, dengan capaian ini, saya tentu merasa sangat senang, bangga, dan bersyukur. Jujur, saya tidak menyangka akan menjadi lulusan termuda," ungkapnya, dikutip dari laman resmi UGM, Jumat (5/6/2026).

Kunci Agar Studi Lancar

Menurut Fulviana, salah satu kunci agar studinya berjalan lancar adalah memiliki kemampuan untuk memahami diri sendiri. Proses adaptasi merupakan tantangan terbesar yang ia hadapi.

Di usianya yang masih tergolong muda, Fulviana mengaku masih memiliki keinginan besar untuk menikmati masa remaja. Tapi, prodi yang ia lalui menuntut jadwal yang cukup padat dan ritme belajar yang konsisten.

Untuk itu, ia berusaha untuk memahami diri dan belajar menyesuaikan diri dengan ritme belajar yang ada. Meski sempat tertekan di awal masa perkuliahan, ia menjadikan tekanan itu sebagai motivasi untuk terus berkembang.

"Di usiaku yang masih muda ini, aku masih ada keinginan buat bermain atau menikmati masa remaja seperti teman-teman lain. Tekanan akademik saat aku menempuh studi juga cukup berat bagiku. Tapi, seiring berjalannya waktu, aku belajar untuk menyesuaikan diri dan menjadikan tekanan tersebut sebagai motivasi untuk terus berkembang," ceritanya.

Semakin memahami dirinya, Fulviana bisa menemukan metode belajar yang cocok. Ia akhirnya tahu kapan harus fokus dan kapan harus beristirahat agar tak kelelahan fisik, emosional, dan mental akibat stres atau burnout.

"Bagiku, tidak harus selalu belajar terlalu lama, tapi bagaimana bisa disiplin dan menjaga ritme belajar dengan baik," imbuhnya.

Ingin Berlanjut ke Profesi Dokter

Meski menempuh pendidikan di antara teman-teman yang memiliki usia di atasnya, Fulviana tidak merasa tertinggal. Ia memilih untuk banyak belajar dari teman-temannya, baik dalam hal akademik maupun cara menghadapi tekanan selama kuliah.

Ia juga bersyukur atas setiap dukungan yang datang selama menjalani pendidikan. Menurutnya, keberhasilannya kini buah dari dukungan orang tua, teman-teman, dan berbagai pihak lain yang kerap menemaninya selama studi.

"Menurutku, ini semua bukan tentang usia atau menjadi wisudawan termuda, tapi juga hasil dari proses panjang dengan dukungan hangat dari banyak orang," kata Fulviana lagi.

Setelah resmi diwisuda, ia ingin terus belajar dan mengembangkan diri ke tahap profesi dokter. Ia berharap dapat menjadi dokter yang kompeten secara ilmu dan memiliki empati tinggi terhadap pasien.

"Aku berharap bisa jadi dokter yang kompeten ilmunya dan bisa memberikan empati serta pelayanan terbaik bagi pasien," jelasnya.

Fulviana juga berpesan agar rekan seusianya tidak takut mengejar cita-cita, jangan takut mencoba, dan jangan membatasi diri karena usia atau rasa kurang percaya diri.




(det/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads