Cerita Cynthia, Lulusan SMK Jadi Wisudawan Cumlaude di UGM

ADVERTISEMENT

Cerita Cynthia, Lulusan SMK Jadi Wisudawan Cumlaude di UGM

Trisna Wulandari - detikEdu
Senin, 09 Mar 2026 13:02 WIB
Cynthia Fransisca
Wisudawan UGM Cynthia Fransisca. Foto: Dok FEB UGM
Jakarta -

Cynthia Fransisca mengantongi IPK 3,97 pada Wisuda Universitas Gadjah Mada (UGM) Periode II Tahun Akademik 2025/2026, pengujung Februari lalu, Selasa (24/2/2026). Lulus dengan predikat cumlaude ia raih dalam 3 tahun 4 bulan 12 hari.

Lulusan terbaik Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM ini menuturkan, ia semula tidak berani bermimpi kuliah di sana. Kedua orang tuanya sendiri lulusan SD. Namun, ia diterima di Prodi Akuntansi FEB UGM pada 2022.

Lulusan SMK ini jadi percaya diri pada saat menempuh mata kuliah pengantar akuntansi lantaran sudah mengenalnya sejak sekolah. Sementara itu, ia juga mencoba mengejar ketertinggalan dari teman-teman yang berasal dari SMA pada materi-materi seperti matematika ekonomi, yang baginya lebih sulit.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia pun menyadari, setiap mahasiswa baru mulai dari garis yang sama, sehingga tidak minder berasal dari SMK.

"Di satu sisi saya sempat merasa unggul di beberapa materi. Tapi di sisi lain, saya juga pernah merasa paling tidak paham. Dari situ saya belajar bahwa di perkuliahan semua akan kembali ke nol, yang membedakan hanya kemauan untuk terus belajar," ucapnya, dikutip dari laman FEB UGM, Senin (9/3/2026).

ADVERTISEMENT

Belakangan, putri kelahiran Pulau Bangka ini menyadari privilese baginya justru datang tidak dari kemudahan hidup, tapi kesempatan. Pada semester 2 kuliah, ia terpilih sebagai penerima Beasiswa Teladan 2023-2026 dari Tanoto Foundation.

"Privilege tidak datang kepada setiap orang dengan cara yang sama dan dalam waktu yang sama. Tidak selalu dalam bentuk kemudahan, tetapi seringkali dalam bentuk kesempatan, kesempatan untuk belajar, untuk mencoba, dan untuk bertahan," ucapnya.

Aktif di Organisasi dan Kompetisi

Cynthia Fransisca.Cynthia Fransisca. Foto: Dok FEB UGM

Cynthia mengaku beberapa kali burnout sepanjang masa kuliah. Perubahan jadwal dan pola belajar baru membuat ia kewalahan hampir setiap semester.

Namun, kondisi tersebut tak membuat ia urung belajar mengembangkan diri. Cynthia kemudian belajar mengenali batas diri, menyusun jadwal agar lebih terstruktur, serta menetapkan prioritas.

Ia pun bergabung dengan Ikatan Mahasiswa Akuntansi Gadjah Mada (IMAGAMA). Sambil kuliah, ia juga terlibat dalam sejumlah kepanitiaan prodi.

Sebagai awardee Beasiswa Tanoto Teladan, ia juga menjadi staf hingga manajer divisi networking lewat Tanoto Scholar Association (TSA) UGM. Di TSA UGM, ia bertugas memperluas jejaring sambil melatih kemampuan koordinasi tim.

Pada semester 5, ia memfokuskan diri untuk menjajal berbagai ajang kompetisi. Meraih juara 3 Udayana International Accounting Competition 2024 bersama timnya membuat Cynthia makin terpicu untuk menguji kemampuan lewat perlombaan.

Pada tahun yang sama, ia menyabet Gold Medal dalam International Youth Business Competition 2024 dari Universitas Diponegoro. Kemudian pada 2025, ia meraih juara 2 Decarbonizing Indonesia Business Case Competition.

Cynthia mengungkapkan, ada banyak kompetisi yang ia capai sampai tahap semifinal. Ia juga terpaksa undur diri pada beberapa perlombaan karena bentrok dengan jadwal akademik. Kendati demikian, proses berkompetisi menurutnya tetap berharga.

"Tidak semua lomba harus berakhir dengan juara, yang penting kita belajar berpikir kritis, bekerja dalam tim, dan menyelesaikan masalah secara terstruktur," tuturnya.

Pelajaran dari Masa Kuliah

Ia menuturkan, sebelum kelulusan, ia sudah diterima bekerja di Kantor Akuntan Publik (KAP) Ernst & Young (EY). Capaian ini menurutnya tidak lepas dari upaya untuk konsisten dan berani mencoba kesempatan selama masa kuliah.

Baginya, masa studi mengajarkan untuk belajar resilien, menerapkan growth mindset, mengambil keputusan berdasarkan prioritas, menjaga integritas, dan disiplin. Ia berpendapat, penting bagi mahasiswa untuk tidak takut tertinggal (FOMO) dan fokus pada perencanaan serta kesadaran diri dalam menentukan prioritas masing-masing.

Kendati lulus relatif cepat dan sudah diterima bekerja, menurutnya, sukses lebih dari itu. Ia berharap seseorang tidak merasa tertinggal karena hidup di dunia yang serba cepat dan penuh perbandingan.

Pada pidato pelepasan wisudawan FEB UGM ia menuturkan, penting untuk tidak lupa bahwa setiap orang punya latar belakang berbeda, begitu juga proses, nilai, dan mimpinya masing-masing. Untuk itu, yang terpenting adalah berani melangkah dengan keberanian, kesadaran, dan integritas.

"Kita mungkin lulus di hari yang sama, tetapi kita tidak akan berjalan di jalan yang sama. Kesuksesan bukan tentang siapa yang paling cepat, tetapi tentang siapa yang paling setia pada panggilan hidupnya," ucapnya.




(twu/twu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads