Mahasiswa ITS Bikin Sistem Aduan Kekerasan Seksual, Bisa Deteksi Area Rawan!

ADVERTISEMENT

Mahasiswa ITS Bikin Sistem Aduan Kekerasan Seksual, Bisa Deteksi Area Rawan!

Cicin Yulianti - detikEdu
Jumat, 15 Mei 2026 17:00 WIB
ITSafe
ITSafe. Foto: ITS
Jakarta -

Kasus kekerasan seksual masih banyak ditemukan di kampus. Berdasarkan data Komnas Perempuan pada 2024, ada sebyak 4.178 kasus kekerasan di perguruan tinggi.

Melihat angka kasus yang tinggi tersebut, sejumlah mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) membuat sebuah inovasi untuk melindungi mahasiswa dari kekerasan seksual yakni ITSafe.

ITSafe ini dirancang oleh kelompok 7 Kemah Kerja Geomatika ITS yang terdiri atas Josephine Novellia A, Duta Satrio Wibowo, Muhammad Farid Farhan, Farrel Valentino Y, Ananda Adellia. Mereka berkolaborasi dengan Satuan Tugas (Satgas) Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (PPK) ITS.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bisa Adukan Catcalling-Pelecehan Seksual

Novellia dan tim membuat ITSafe sebagai ruang untuk menciptakan keamanan mahasiswa. ITSafe memiliki sistem pelaporan berbasis crowdsourcing dan pemetaan spasial.

ADVERTISEMENT

Website ini dapat mengidentifikasi area mana yang dianggap rawan terhadap tindakan asusila. Tindakan yang dimaksud berupa mulai dari siulan nakal atau catcalling.

Ketua Satgas PPK ITS Prida Novarita Trisanti ST MT mengaku dengan adanya kanal aduan ini memudahkan Satgas PPK untuk menindaklanjuti laporan. ITSafe disebut membantu pengamanan lingkungan kampus.

"Melalui ITSafe ini, kami dari pihak kampus akan terbantu dalam memahami area yang dirasa masih kurang fasilitas CCTV, penerangan, hingga patroli dari satuan keamanan," kata Prida dilansir dari laman ITS, Kamis (14/5/2026).

Fitur-fitur ITSafe

Fitur ITSafe ini bermacam-macam mulai dari formulir pelaporan, peta persebaran area rawan, jenis kelayakan fasilitas yang dipertakan, dan analisis area berdasarkan hasil pelaporan.

Jika mahasiswa ingin melaporkan kasus, ITSafe tidak meminta data diri sehingga sudah dijamin aman. Pelapor hanya harus mengisi email, peran pelapor, dan jenis kelamin.

Pelapor lalu diminta mengisi titik lokasi dan kondisi lokasi tempat terjadinya kekerasan seksual. Sehingga nantinya akan menjadi data bagi pengunjung untuk melihat daerah rawan.

"Terakhir, pelapor dapat mengisi kronologi dan pengalaman pada area yang dilaporkan," kata Novellia.

"Dengan fitur peta digital, memungkinkan pengguna untuk melihat area berpotensi rawan, informasi kondisi fisik area, serta tingkat konsentrasi kerawanan pada area tertentu," imbuhnya.

Tingkat kerawanan tersebut diolah berdasarkan visualisasi heatmap. Dalam visualisasi tersebut dapat digambarkan tingkat konsentrasi dan intensitas kerawanan dalam skor.

"Visualisasi heatmap digunakan untuk menunjukkan area yang memiliki intensitas kerawanan lebih tinggi dibandingkan dengan area lainnya berdasarkan persepsi pelapor," kata salah satu anggota tim yakni Duta.

Jika ditemukan data yang membutuhkan penanganan lebih lanjut maka akan diteruskan ke tim Satgas PPK ITS. Pihak ITS kemudian akan menelusurinya.




(cyu/pal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads