Bahasa Indonesia telah resmi digunakan dalam sidang resmi The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sejak November 2023. Kini, bahasa Indonesia telah masuk ke kampus-kampus top untuk diajarkan, termasuk Harvard. Bagaimana cara mengajar bahasa Indonesia di luar negeri?
Secara umum, jalur yang bisa ditempuh untuk mengajar bahasa Indonesia di luar negeri yakni menjadi pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Ini yang dilakukan oleh dosen BIPA di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakhri Fauzi.
Dia tengah menjadi asisten pengajar melalui program beasiswa tanpa gelar Fulbright FLTA (Foreign Language Teaching Assistant). Tak main-main, ia mengajar bahasa Indonesia di Harvard Kennedy School (HKS), sekolah pascasarjana di Harvard.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan, mengenalkan bahasa Indonesia bisa dilakukan dengan berbagai cara. Jika ingin menjadi pengajar, salah satu jalannya melalui BIPA.
"Kalau Anda ingin jadi profesional di bidang itu (mengajar ke luar negeri), ya di bidang Pengajaran BIPA, ya silakan. Jalurnya lewat situ, menjadi pengajar BIPA. Tapi kalau misalkan hanya ingin, apa namanya, membantu mengenalkan bahasa Indonesia dan budayanya, jalurnya banyak. Tidak mesti menjadi pengajar BIPA aja," ujarnya kepada detikEdu pada Selasa (14/4/2026), ditulis Kamis (16/4/2026).
Peran Teknologi dalam Penyebaran Bahasa Indonesia
Kini, penutur asing bahasa Indonesia juga tersebar di 52 negara di dunia termasuk Australia, Jepang, China, Rusia, Jerman, Belanda, serta dinilai sebagai bahasa pemersatu di kawasan Asia Tenggara.
Menurut Fakhri, teknologi berperan penting dalam upaya menyebarkan bahasa Indonesia ke kancah internasional. Saat ini, konten kreatif di media sosial justru lebih diminati sehingga lebih mudah mencuri perhatian publik global tanpa harus pergi ke luar negeri.
"Gak mesti keluar negeri, kita dari dalam juga bisa. Kita dituntut sekreatif mungkin aja. Banyak, kalau misalkan kita kreatif, kita bisa buat mungkin konten atau seperti itu. Yang memperkenalkan makanan Indonesia atau apa kita tahu banyak, kan," tuturnya.
Selain itu, Fakhri juga membagikan tips berdasarkan pengalamannya untuk menjadi pengajar bahasa Indonesia di luar negeri. Ia mengatakan bahwa ada banyak program yang mengadakan seleksi bagi pengajar BIPA di dalam atau di luar negeri.
Pengalaman Mengajar dan Sertifikasi BIPA
Fakhir menjelaskan bahwa untuk menjadi pengajar BIPA di luar negeri, pendaftar harus memiliki pengalaman mengajar BIPA di dalam negeri, paling tidak satu sampai dua tahun. Syarat ini tergantung pada jalur seleksi mana yang diikuti.
Kemudian, penting juga untuk memperoleh sertifikat pelatihan BIPA yang diselenggarakan oleh beberapa lembaga bahasa. Programnya juga fleksibel, tidak hanya luring, tetapi juga tersedia pelatihan secara daring.
"Jadi, mungkin kalau teman-teman tertarik, dari sekarang dipersiapkan. Coba ikuti pelatihan-pelatihan ke BIPA-an. Pelatihan ke BIPA-an sekarang sudah banyak. Pelatihan ke BIPA-an yang diadakan oleh beberapa lembaga bahasa di Indonesia. Dan programnya juga pilihannya banyak, ada daring, ada luring gak terbatas," jelasnya.
Tidak hanya itu, ia juga menyampaikan bahwa perlu juga mempelajari kebudayaan asli Indonesia. Sebab untuk menjadi pengajar BIPA bukan hanya bahasa saja yang diajarkan, tetapi juga budaya-budaya lokal.
"Terus jangan lupa tetap belajar bahasa Indonesia, belajar kemudian budaya karena di BIPA selain kita mengajarkan bahasa, kita juga memperkenalkan budaya. Kalau bisa, teman-teman coba kuasai minimal satu bidang. Misal, teman-teman ingin menguasai, misal teman-teman kuasai musik tradisional gamelan, angklung, atau teman-teman kuasai tarian tradisional. Itu akan sangat membantu teman-teman ketika teman-teman mengikuti seleksi-seleksi pengajar BIPA untuk dikirim ke luar negeri," terangnya.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.
(faz/faz)











































