Tahukah detikers, ternyata di Harvard ada kelas bahasa Indonesia? Kerennya, salah satu yang pernah mengajar adalah lulusan asal UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Siapa dia?
Dialah Fakhri Fauzi yang menjadi asisten pengajar di Harvard Kennedy School (HKS), sekolah pascasarjana di Harvard. Kelas bahasa Indonesia dibuka untuk mahasiswa Harvard, peneliti, staf, hingga cendekiawan dari wilayah Boston Raya.
"Instruktur Anda, Fakhri Fauzi, seorang Asisten Pengajar Bahasa Asing Fulbright (FLTA), akan membimbing Anda melalui kurikulum komprehensif yang dirancang untuk mengakomodasi semua tingkat kemampuan: pemula, menengah, dan mahir," tulis HKS dalam resminya, dikutip Kamis (16/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kelas bahasa Indonesia di Harvard Kennedy School akan:
- Mempelajari tata bahasa dasar untuk konteks formal dan informal
- Membangun kepercayaan diri dalam percakapan sehari-hari
- Memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang budaya Indonesia
Lantas bagaimana awalnya lulusan UIN Jakarta bisa mengajar di Harvard?
Berawal dari Menjadi Pengawas Tes Bahasa
Fakhri, sapaannya, tak pernah membayangkan untuk menggeluti profesinya sekarang sebagai pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Ketertarikannya baru muncul setelah lulus dari S1-Bahasa dan Sastra Inggris di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 2015.
Ia bergabung di Pusat Pengembangan Bahasa (PPB), UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai pengawas tes bahasa. Seiring berjalannya waktu, ia melihat potensi untuk mengajarkan bahasa Indonesia pada mahasiswa asing di UIN Jakarta.
"Saya mulai tertarik lah, gimana caranya saya bisa mengajar mereka. Akhirnya, saya konsultasi sama Koordinator Bahasa Indonesia di sana. Yang saya dengar saya ingat waktu itu, kalau misalkan mau mengajar BIPA seenggaknya kamu harus punya Sertifikat BIPA atau kamu kalau misalkan kamu belum S2 Kamu harus ada sertifikat BIPA," jelasnya saat diwawancarai detikEdu pada Selasa (14/4/2926), ditulis Kamis (16/4/2026).
Sejak saat itu, ia mulai mencari-cari berbagai informasi tentang program sertifikasi BIPA. Meski harus mengeluarkan dana yang dianggapnya lumayan besar saat itu, ia melihat prospek karier yang menjanjikan di masa depan.
"Memang lumayan Mahal waktu itu ya 2015 mungkin 5 juta, habis sekitar 5 juta saat itu. Cuma saya pikir sepertinya ini akan jadi bidang yang menarik, bidang yang menguntungkan kalau misalkan kita berdalam disini. Akhirnya saya ikut pelatihan, kemudian beberapa bulan setelahnya saya mulai mengajar," tuturnya.
Pada 2016, ia dipercaya untuk menjadi pengajar BIPA di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Untuk memperdalam keilmuannya, ia juga menempuh program magister di Universitas Indonesia (UI) jurusan Linguistik Terapan pada 2021.
Selama perjalanan studinya, Fakhri tak langsung mulus. Ia mengaku sempat menunda untuk menyelesaikan skripsinya dan memilih ikut konferensi internasional.
"Waktu itu menunda mengambil data untuk penelitian skripsi saya mengikuti di event internasional. Jadi saya telat lulus S1 di semester 9, waktu itu saya Februari baru bisa ikut sidang dan wisudanya di bulan Mei karena saya mengikuti event internasional. Jadi saya tunda dulu," ceritanya.
Kuasai 7 Bahasa dan Pernah Mengajar Beberapa Negara
Sebelum menjadi pengajar di Harvard, ia juga memiliki beberapa pengalaman mengajar BIPA di Kamboja, India, dan Myanmar. Kemampuan bahasanya juga luar biasa, Fakhri juga menguasai 7 bahasa yaitu bahasa Indonesia, Arab, Inggris, Korea, Khmr, Prancis, dan Sunda.
Selain luring, sampai sekarang ia juga masih aktif mengajar BIPA secara daring seperti perusahaan-perusahaan asing di Jakarta.
"Betul, ngajar bahasa Indonesia di beberapa negara itu yang offline. Online juga sebenarnya saya mengajar, karena selama pandemi itu pandemi COVID pengajar pengiriman pengajar dari Kementerian Pendidikan itu tidak dilakukan Karena alasan masih pandemi. Jadi selama pandemi itu saya ditugasi untuk mengajar bahasa Indonesia di India, di KBRI India seperti itu," katanya.
"Selain itu juga Selama rentang 2016 sampai sekarang sebenarnya kalau mengajar daring itu masih saya lakukan. Apa namanya masih saya lakukan untuk murid-murid saya dari negara lain Dan juga di rentang 2016 sampai 2024 itu saya juga mengajar ekspart di Jakarta di perusahaan-perusahaan asing di Jakarta," imbuhnya.
Belajar dan Jadi Asisten Pengajar di Harvard
Fakhri bisa mengajar di Harvard melalui program beasiswa tanpa gelar Fulbright FLTA (Foreign Language Teaching Assistant). Program ini memberi kesempatan belajar bahasa Inggris, bagi pengajar bahasa Indonesia di kampus tempatnya mengajar.
Di Harvard, ia mendapat kesempatan untuk belajar bersama mahasiswa lainnya. Ia sempat merasakan perbedaan yang mencolok pada sistem belajar di sana.
Menurutnya, hubungan profesor dengan mahasiswanya lebih santai, tidak ada unsur hirarki seperti di Indonesia dan beberapa negara di Asia. Selain itu, mahasiswa juga lebih kompetitif dan kritis.
"Saya merasa paling tertinggal kalau di kelas di awal-awal merasa seperti itu, melihat apa namanya persaingan antara mahasiswa ternyata mereka pintar-pintar. Tapi Alhamdulillah masih bisa bertahan sampai akhir semester sampai sekarang," ucapnya dengan penuh rasa syukur.
"Hubungan antara dosen atau Profesor dan mahasiswa di sini lebih santai tidak ada gap, seperti kita tahu kalau di Indonesia dan mungkin juga di beberapa negara Asia," imbuhnya.
Sampai saat ini, Fakhir masih menyelesaikan studinya. Ia juga dipercaya menjadi pengajar inti meski statusnya sebagai asisten pengajar.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.
(faz/faz)











































