Suami-Istri Ini Bareng-bareng Dikukuhkan Jadi Guru Besar UGM

ADVERTISEMENT

Suami-Istri Ini Bareng-bareng Dikukuhkan Jadi Guru Besar UGM

Callan Rahmadyvi Triyunanto - detikEdu
Sabtu, 11 Apr 2026 09:00 WIB
Pasangan guru besar UGM Prof Drs Edi Winarko, MSc, PhD dan Prof Dra Tutik Dwi Wahyuningsih, PhD.
Pasangan guru besar UGM Prof Drs Edi Winarko, MSc, PhD dan Prof Dra Tutik Dwi Wahyuningsih, PhD. Foto: Dok UGM
Jakarta -

Prosesi pengukuhan Guru Besar di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Kamis (4/9/2026) menghadirkan kisah yang tak biasa. Dua profesor yang dikukuhkan secara bersamaan tersebut merupakan pasangan suami-istri dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA).

Mereka adalah Prof Drs Edi Winarko, MSc, PhD dan Prof Dra Tutik Dwi Wahyuningsih, PhD. Keduanya dikukuhkan sebagai guru besar di Balai Senat, Gedung Pusat UGM, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Prof Edi dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Ilmu Rekayasa UGM. Sementara itu, Prof Tutik dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Ilmu Kimia UGM.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pasangan guru besar UGM Prof Drs Edi Winarko, MSc, PhD dan Prof Dra Tutik Dwi Wahyuningsih, PhD.Pasangan guru besar UGM Prof Drs Edi Winarko, MSc, PhD dan Prof Dra Tutik Dwi Wahyuningsih, PhD. Foto: Dok UGM

Pada pidatonya, Edi dan Tutik menyampaikan terima kasih pada kolega dan satu sama lain atas dukungan dan motivasi, yang mengantarkan pada jabatan akademik tertinggi.

"Ungkapan terima kasih yang paling tulus saya persembahkan kepada istri saya, Prof Tutik Dwi Wahyuningsih, atas kasih sayang, dukungan, motivasi, serta pengertian yang senantiasa diberikan sepanjang perjalanan kehidupan dan karier saya," ujarnya Edi, dikutip dari laman UGM, Jumat (10/4/2026).

ADVERTISEMENT

Sementara itu, Tutik juga menyampaikan apresiasi kepada suaminya yang selama ini menjadi sumber kekuatan dalam meniti karier akademik.

"Akhirnya, terima kasih yang sebesar-besarnya kepada suami tercinta, Prof Drs Edi Winarko, MSc, PhD yang selalu memberikan ridho, doa, dan dukungan penuh dalam setiap langkah perjalanan karier ini. Dukungan dan pengertiannya menjadi sumber kekuatan yang memungkinkan saya untuk selalu terus berkarya," tuturnya.

Bahas Pergeseran Paradigma Al

Dalam pidato pengukuhannya, Prof Edi menyampaikan orasi ilmiah bertajuk "Data Berkualitas, Al Berdaya: Pentingnya Pendekatan Data-Centric dalam Penerapan Kecerdasan Buatan di Dunia Nyata". la mengangkat isu fundamental dalam perkembangan Al, yakni pergeseran paradigma dari pendekatan model-centric menuju data-centric Al.

Ia menegaskan, tanpa data berkualitas, model AI canggih tidak dapat bekerja optimal. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, kemajuan kecerdasan buatan masih didorong oleh inovasi pada algoritma dan arsitektur model, mulai dari Convolutional Neural Network (CNN) hingga arsitektur transformer.

"Sepanjang sejarah pengembangannya, kemajuan dalam kecerdasan buatan secara fundamental didorong oleh paradigma model-centric, di mana evolusi dicapai melalui inovasi pada algoritma dan arsitektur model," paparnya.

la menekankan, banyak kegagalan sistem Al di dunia nyata justru disebabkan oleh kualitas data yang kurang memadai, bukan kelemahan modelnya. la mengibaratkannya seperti merancang mobil balap: mesin secanggih apa pun tidak akan bekerja optimal tanpa bahan bakar yang berkualitas.

"Kinerja sistem kecerdasan buatan sangat bergantung pada kualitas data latih. Dua model yang identik dapat menghasilkan keluaran dan kualitas yang sangat berbeda jika dilatih dengan data yang berbeda," jelasnya.

Sebagai respons atas tantangan tersebut, muncul paradigma data-centric Al. Dalam pendekatan ini, data dipandang sebagai aset yang harus terus diperbaiki.

"Data-centric Al tidak menggantikan model-centric Al, melainkan melengkapinya," tutur Edi.

Senyawa Pirazolina untuk Obat Antikanker

Sementara itu, Prof Tutik menyampaikan orasi ilmiah bidang kimia terapan bertajuk "Pirazolina sebagai Platform Molekul Multifungsi: Sintesis, Aktivitas Antikanker, dan Aplikasinya sebagai Kemofluorosensor Selektif".

Tutik menyoroti manfaat senyawa pirazolina sebagai platform molekul multifungsi yang potensial untuk bidang kesehatan dan teknologi sensor. la menegaskan, sintesis organik adalah fondasi penting dalam mengembangkan molekul modern yang efektif dan aman.

la mengibaratkan sintesis organik sebagai arsitektur dunia molekul yang menuntut kreativitas tinggi dalam perancangan struktur.

Melalui pendekatan tersebut, peneliti dapat merancang struktur molekul untuk menekan efek toksik pada sel normal sekaligus meningkatkan selektivitasnya terhadap sel target, seperti sel kanker. Penelitiannya difokuskan pada senyawa heterosiklik pirazolina.

"Pirazolina merupakan senyawa heterosiklik dengan cincin lima anggota yang mengandung nitrogen. Dan itu menjadikannya memiliki berbagai aktivitas farmakologis, seperti antimikroba, antikanker, antiinflamasi, dan antioksidan," papar Tutik.

Ia menjelaskan, turunan pirazolina memiliki aktivitas sitotoksik yang menjanjikan terhadap sel kanker. Hal ini membuka peluang pengembangan obat dengan efek samping rendah.

Selain sebagai kandidat obat, senyawa ini juga berpotensi menjadi kemofluorosensor. Sifat fluoresensinya memungkinkan deteksi zat tertentu secara sensitif dan selektif.

"Senyawa turunan pirazolina memiliki prospek yang menjanjikan di dalam pengembangan obat antikanker maupun kemofluorosensor. Namun, masih menghadapi beberapa tantangan, antara lain optimasi selektivitas dan pemahaman mekanisme interaksi molekuler," ujarnya.




(crt/twu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads